Connect with us

Daerah

Viral Bocah Berusia 14-15 Tahun Sudah Menikah, KPAI: Melanggar Undang-Undang

JARRAK.ID

Published

on

(Doc. Net)

JAKARTA – JARRAK.ID – Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti mengaku prihatin dengan peristiwa pernikahan yang melibatkan dua bocah berusia 14 dan 15 tahun di Kalimantan Selatan (Kalsel).

Menurut Retno, pernikahan tersebut secara nyata telah melanggar Undang-Undang Perkawinan dan Undang-Undang Perlindungan Anak.

“Ini jelas melanggar UU Perkawinan dan juga UU Perlindungan Anak, karena dalam UU PA 0-18 tahun adalah usia anak,” kata Komisioner KPAI Retno Listyarti sebagaimana dilansir detikcom, Minggu, (15/07/2018).

Retno menjelaskan batas usia dalam melangsungkan pernikahan diatur oleh Undang-undang Pernikahan. Dia menyebut untuk perempuan harus berusia 16 tahun sedangkan laki-laki 19 tahun.

“Padahal dalam UU Perkawinan saja usia minimal calon pengantin perempuan harus 16 tahun dan laki-laki 19 tahun,” ucap dia.

Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Pasal 7 ayat (1) dijelaskan, perkawinan hanya diizinkan bila pihak pria mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai usia 16 (enam belas) tahun. Namun, pasal ini ada dispensasi yang dapat dimintakan ke pengadilan atau penjabat lain oleh pihak orang tua, sebagaimana diatur dalam Pasal 7 ayat (2).

Kendati menikah siri, menurut Retno pernikahan tersebut tetap saja melanggar undang-undang. Untuk itu kedua orang tua anak tersebutlah harus bertanggung jawab atas terjadinya pernikahan anak di Kalimatan Selatan tersebut

“Ya kalau usia melanggar. Siri atau bukan faktanya pengantinnya masih usia anak dan kedua orang tua pengantin yang harus bertanggung jawab atas pelanggaran tersebut,” tambahnya.

Retno juga menyebut, pernikahan dini berpotensi melanggar hak-hak anak hingga membahayakan anak. Bagi Retno, akan yang sudah menikah di usia dini lazimnya akan berhenti untuk sekolah.

Baca Juga:  Perizinan Daerah Jadi Lahan Korupsi, Pemerintah Pusat Harus Lakukan Ini

“Anak yang mengalami pernikahan dini terpaksa berhenti sekolah atau tidak memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,”

Bahkan terang Retno, secara fisik seorang anak juga belum siap untuk melaksanakan pernikahan. Retno mengatakan khusus anak perempuan, bila menikah kemudian hamil di usia muda sangat berisiko sehingga rentan kematian.

“Perkawinan anak juga berisiko fatal bagi tubuh yang berujung seperti kematian, terkait kehamilan, kekerasan, dan infeksi penyakit seksual. Tingginya angka kematian ibu dan anak di Indonesia, sebagian besar disumbang oleh kelahiran diusia ibu yang masih remaja. Hal ini diantaranya dikarena secara fisik, organ tubuh dan organ alat reproduksi remaja belum tumbuh sempurna dan belum siap untuk hamil. Dampaknya ketidaksiapan tersebut sangat berpengaruh juga pada kondisi kesehatan janin yang dikandung,” jelasnya.

Sebelumnya diketahui, viral pernikahan sepasang bocah mempelai pria berusia 14 tahun dan mempelai wanita berusia 15 tahun di Kalimantan Selatan. Pernikahan dilakukan di kediaman nenek mempelai pria, di Kabupaten Tapin pada Kamis, (12/07/2018) sekira jam 20.30 Wita.

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Berita Populer