Tingkatkan Ekonomi Masyarakat, Proyek Jalan Paralel Kalbar Dikebut

2 min read

Jalan Perbatasan Kalimantan Barat/Doc.Net

KALIMANTAN-JARRAK.ID- Pada 2019 mendatang, jalan paralel perbatasan di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) ditergetkan selesai, alias bisa digunakan untuk perbaikan ekonomi masyarakat. Makanya pemerintah terus mempercepat pembangunan jalan tersebut.

Jalan yang terbentang sepanjang 859 kilometer (km) tesebut terhitung dari Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalbar ke titik perbatasan antara Kalbar dan Kalimantan Timur (Kaltim).

Menurut Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono, percepatan pembangunan jalan tersebut dilakukan demi meningkatkan neraca perekonomian masyarakat, lebih-lebih yang hidup di kawasan pinggiran.

“Pembangunan jalan perbatasan bernilai setrategis karena di samping berfungsi sebagai pertahanan dan keamanan negara, sekaligus membuka dan menumbuhkan ekonomi kawasan perbatasan,” Ujar Basuki dalam keterangan tertulis, Rabu (28/2/2018).

Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) XI yang berkordinasi dengan Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR mencatat, saat ini sekitar 327,48 km telah beraspal dan sekitar 123,89 km sudah berupa jalan agregat.

Tidak bisa dipungkiri, ada beberapa wilayah yang masih berbentuk hutan. Namun pemerintah meyakini bahwa pembangunan jalan tersebut akan selesai tepat waktu, yaitu pada 2019 mendatang. Karena pada Januari yang lalu, telah dilakukan penandatangan kontrak pekerjaan pembangunan jalan perbatasan antara Kementerian PUPR dengan Zeni TNI AD.

Penandatanganan tersebut merupakan kontrak pembangunan jalan sepanjang 60 km dari tol yang masih berupa hutan dengan nilai mencapai Rp 178,47 miliar.

Selain mempercepat pembangunan jalan, Kementerian PUPR juga mengebut pembangunan sarana dan parasarana umun sepanjang jalan tersebut, yaitu berupa jembatan penyebrangan.

Berdasarkan pernyataan Timbul, pada satu ruang jalan dari Temajuk ke Aruk dengan panjang jalan 82,09 km, akan dibangun delapan jembatan dengan panjang sekitar 20-90 meter. Selebihnya akan diadakan perbaikan jembatan kayu yang ada sebanyak 64 jembatan.

“Ditergetkan pembangunan jembatan baru dan perbaikan jembatan yang ada akan rampung pada 2018. Selain itu juga, telah diupayakan penanganan di 12 titik rawan longsor di daerah Simpang Tanjung,” jelasnya.

Begitu pula pada ruas dua dari Aruk ke Siding, telah direncanakan perbaikan sebanyak 19 jembatan kayu yang sudah menua. Selain itu, peninggian jalan sepanjang 2 km telah dibangun untuk menghindari banjir antara Simpang Tapang dan Simpang Take. Semua upaya tersebut merupakan salah satu cara untuk perbaikan ekonomi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *