Connect with us

Other

Tentang Kisah dan Politik yang Saling Awas

I PUTU SUDIARTANA

Published

on

Melalui kisah, setiap orang akan menuliskan narasi besar pikirannya. Seperti lukisan, berkisah laiknya usaha untuk menemukan skema bagaimana titik per titik disambung secara estetis. Itulah kenapa, kisah selalu menjadi domain yang memuat kilasan peristiwa politis.

Anda tentu masih ingat, bagaimana pekik orasi Bung Tomo dikisahkan dalam buku sekolah hingga membikin gelora patriotis terpancar di dada setiap siswa? Itulah kuasa kisah.

Suatu kali, Hannah Arendt dalam bukunya Yhe Human Condition (1958) mengutip kalimat Isak Dinesen, “All sorrows can be borne if you put them into a story or tell e story abaut them”. Dinesen berkeyakinan, hanya melalui kisah, setiap tindakan seseorang akan termaktub menjadi sejarah.

Bagaimanapun, bagi Saya, negara besar selalu dibangun salah-satunya melalui kisah. NKRI adalah puzzle yang tersambung dan lengkap satu sama lain karena kisah. Nasionalisme adalah ikhtiar dan spirit cinta Tanah Air yang juga terbentuk melalui kisah, hingga menyejarah.

Sutan Sjahrir, Bung Kecil itu, didaku pahlawan bukan hanya untuk orang Minang. Bahkan masyarakat Jawa begitu akrab dengan namanya, meski dia dari Sumatera Barat, tepatnya Padang Panjang. Revolusi Sjarir telah menyejarah karena kisah yang ditulis dan cerita yang dibacakan.

Karena itu, kisah telah mempererat jabat tangan setiap elemen masyarakat yang dipisah bahkan oleh beribu pulau. Kita mungkin tidak tahu persis masyarakat di Miangas dan Pulau Rote, tetapi dengan kisah, karena sejarah, kita bersikukuh menyebut saudara. Nasionalisme yang terbangun melalui kisah—meminjam istilah Benedict Anderson—adalah imagined communty.

Meski begitu, kisah juga menjadi instrumen politis seseorang untuk membolak-balik kebenaran sejarah. Kisah, pada kadar tertentu, juga menjadi alat kuasa untuk provokasi, agitasi, dan propaganda. Karena itu, berkisah karena kepentingan politis tertentu akan menorehkan beda pengertian sejarah.

Baca Juga:  Sering Mual di Pagi Hari, Ini Penyebabnya

Saya melihat, ada indikasi keterpelantingan makna kisah, terutama jelang perhelatan kontestasi politik Pilkada dan Pilpres. Elektabilitas dibangun seolah melalui kisah-kisah manipulatif. Track record tokoh politik hari ini dikisahkan dengan jumawa dan nyaris tanpa makna.

Kisah mulai bergeser dari mempersatukan menjadi membubarkan. Di tahun politik ini, berkisah rupanya tak beda jauh dengan kampanye politik untuk interest jabatan dan prestise. Buku dan bacaan tentang sejarah pahlawan kalah jumlah dengan buku tokoh politik partai.

Jean Baudrillard, tokoh masyhur postmodern itu, suatu kali berucap, “The real monopoly is never that of technical mean, but of speech”. Boudrillard menilai, monopoli selalu hadir di atas sejadah sejarah melalui kebahasaan, melalui kisah.

Genderang perselisihan nyaris tiap saat terdengar. Kabar-kabar dengan nilai informasi nihil terus tersebar. Propaganda dibuat bukan untuk berpangku tangan, tetapi untuk saling menjatuhkan. Diskursus publik seperti tengah terjangkit krisis akut: saling menghasut, saling tidak percaya.

Tentu kita tidak mau, anak-anak dan remaja potensial kita selalu dijejal kisah politik-provokatif. Dulu, saya masih ingat, kita dibesarkan dengan optimisme yang terbangun karena hikmah dari kisah jenaka, seperti kisah Kancil dan Buaya. Sekarang, pesimisme hadir akibat mental koloni ‘adu domba’ masih menggema dan belum juga musnah.

Harusnya kita mulai berpindah dari mental kolonial ke mental beradab keindonesiaan. Pupuk saling percaya, tumbuhkan gotong-royong, dan basmi permusuhan. Tanamkan dalam-dalam, bangsa ini dibangun karena kisah yang berhikmah, bukan agitasi politik yang saling awas.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer