Connect with us

Kolom

Ekspresi Pancasilais di Hari Lahir Pancasila

I PUTU SUDIARTANA

Published

on

Illustrasi/Net

Gemuruh tepuk tangan menyeruak di sidang BPUPKI, 73 tahun yang lalu. Saat itu, 1 Juni 1945, Soekarno dengan gagahnya menyiarkan konsepsi dasar negara merdeka di hadapan sekitar 65 peserta sidang. Pada saat yang sama, Pancasila diucapkan pertama kali.

Muhammad Hatta dalam Menuju Gerbang kemerdekaan (2010), berkisah, tepuk tangan dalam sidang sekaligus menandakan persetujuan atas lima dasar bernegara yang disimpulkan Soekarno – yang kini dikenal dengan Pancasila: Kebangsaan Indonesia; Humanisasi; Demokratisasi; Kesejateraan Sosial; dan Ketuhanan Esa.

Di Gedung Pancasila, Soekarno memikirkan keadaban bangsa Indonesia futuristik. Soekarno mengucapkan Pancasila bukan sekadar sebagai asas pelengkap merdeka, tetapi ia berasal dari perasan kebudayaan Ibu Pertiwi. Sejarah bersambut, dibentuklah Panitai Sembilan untuk merumus lebih lengkap ide visioner Soekarno.

Terdiri dari Soekarno, Muhammad Hatta, Marami Abikoesno, Abdul Kahar, Agus Salim, Achmad Soebardjo Muhammad Yamin, dan Wahid Hasyim. Melalui urun rembug ide brilian merka, Pancasila kemudian dikukuhkan sebagai dasar dan ideologi negara. Pancasila dibentuk sebagai garis tak putus yang bisa mengakomodir kepentingan bangsa yang majemuk.

Pancasila dihargai, tidak hanya oleh publik Tanah Air, tetapi oleh semenanjung masyarakat dunia. Meski ada beberapa aral dalam perjalanannya, tetapi Pancasila bak pusaka: ia selalu dibawa atas dasar kemujuran, keselamatan, kesahihan. Karena itulah, hari lahir Pancasila, hari di mana Soekarno pertama kali mendengungkan Pancasila, diperingati dari tahun ke tahun.

Pancasila bagi Indonesia laiknya mata air bagi si dahaga. Dengan historisitas dan diskursus, Pancasila terus berpijar di Indonesia. Realitas masyarakat yang multikultural-plural tak pernah oleng karena rakitan paham Pancasila. Semua kalangan menerimanya, termasuk semua kalangan juga pernah mendebatnya.

Sebagai fondasi, lima sila dalam Pancasila saling sinergis. Tak ada kenyataan konfliktual yang tak masuk bahasannya. Ia mengakomodir semua kepentingan bangsa, semua kebutuhan rakyatnya. Ia tidak mengikat secara otoritatif, semua kalangan boleh mendebatnya. Tetapi hingga kini, lima sila tetap utuh mengkristal, dan Pancasila tetap survive dan tak pernah usai.

Baca Juga:  Politik Nalar Sehat atau Politik Nalar Sekarat?

Hari ini, kita memperingati dan menghayati keberanian dan intelejensi founding father mencetuskan Pancasila, 73 tahun silam. Diskusi waktu itu memang berjalan alot, tetapi toh mereka bersepakat untuk hal paling fundamental: dasar kemerdekaan. Karena itu, memperingati Pancasila adalah memperingati keakraban dan keberanian tokoh nasional proklamasi silam.

Sebenarnya, apa yang didapat dari sebuah siklus peringatan? Pada Pancasila, ia tidak sekadar dikenang untuk dilupakan, tetapi memperingati Pancasila adalah menghidupkan lebih terang obor-obor keakraban masyarakat-warga. Memperingati Pancasila berarti tidak sekadar menghafal secara visual lima dasarnya, tetap memantapkan dalam hati dan pikiran tentang nilai dan prinsip yang terkandung di dalamnya.

Hari ini, Pancasila didengungkan untuk menyemai ide damai. Momentum yang pas untuk mendinginkan suasana panas jelang Pemilu. Saat ini, kepentingan dibuat pada list nomor wahid untuk segera dilakukan, hingga kadang mereka lupa pada komitmen kemanusiaan. Pada saat yang sama, Pancasila harus terus diserukan, melalui instrumen peringatan.

Kerukunan dan gotong royong adalah intisari Pancasila. Tetapi, apa kita lihat, semua orang nyaris memusuhi itu. Semua orang bersiap untuk perang, sebagaimana mereka sigap untuk saling serang. Konflik terus menjejal perjalanan Republik, tetapi pada saat yang sama, Pancasila hanya seremonial sebagai penguat ergumentasi elite.

Padahal, dalam Pancasila, dialog menjadi hal penting untuk menangkal sikap absolutisme dan primordialisme. Bagi Pancasila, berdialog dan bermusyawarah adalah moderator. Terkadang, kenyataan menunjukkan hal sebaliknya: Pancasila terus dibicarakan, tetapi hegemoni mayoritas pada minoritas kerap kali menguat. Konflik karena perbedaan terus meruncing, sementara Pancasila seperti kaku karena geraknya yang hanya sebatas seremoni.

Di atas Pancasila, keberagaman dan pluralitas bisa ditampung tanpa tendensi dan hegemoni mayoritas. Karena itu, dalam Pancasila, yang ditampilkan pertama-tama adalah sikap welas asih, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Itulah ekspresi pancasilais yang harus terus disandarkan dalam setiap peringatan.

Baca Juga:  Jurnalis, Antara Kebenaran dan Pembenaran

Selamat Hari Lahir Pancasila

Berita Populer