Connect with us

Daerah

Tejo Harwanto Bantah Ada ‘Bilik Asmara’ di Lapas Sukamiskin

JARRAK.ID

Published

on

Kalapas Sukamiskin, Tejo Herwanto (Doc. Net)

BANDUNG – JARRAK.ID – Kepala Lapas Klas I Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, Tejo Harwanto membantah soal keberadaan kamar khusus yang disebut ‘bilik asmara’ yang digunakan untuk hubungan suami istri yang dibuat terpidana kasus suap pejabat Bakamla, Fahmi Darmawansyah.

“Selama saya bertugas tidak ada ruangan yang dimaksud,” kata Tejo, Rabu, (5/12/2018) dilansir TribunJabar.

Tejo mengaku sudah mengecek seluruh ruangan, dan tidak ada kamar yang kerap disebut ‘bilik asmara’ sebagaimana disebut Jaksa KPK.

Menurut Tejo, seluruh ruangan digunakan sesuai dengan fungsi masing-masing. Sehingga tidak ada kamar tersebut.

Jangankan ‘bilik asmara’, bahkan pengunjung dilarang masuk ke dalam Lapas Sukamiskin kecuali tempat yang memang sudah disediakan oleh petugas lapas bagi keluarga narapidana, baik istri, kerabat atau yang lainnya.

Bahkan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) sudah menyiadakan satu tempat khusus bagi Warga Binaan Permasyarakatan (WBP), dalam menerima kunjungan, baik dari keluarga maupun teman.

“Sehingga semua warga binaan mendapatkan perlakuan yang sama, tidak ada yang diistimewakan. Bahkan Lapas Sukamiskin dibawah kepemimpinan Tejo Harwanto sangat tertib dan betul-betul mengikuti aturan,” kata sumber internal Jarrak.id, Kamis, (06/12/2018).

Tejo Harwanto sebelumnya resmi menggantikan Wahid Husen sebagai Kalapas Sukamiskin pasca Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK.

Sebelumnya dalam agenda pembacaan dakwaan terhadap mantan Kalapas Sukamiskin, Wahid Husen oleh Jaksa KPK dalam kasus dugaan gratifikasi di Pengadilan Tipikor Bandung pada Rabu, (05/12/2018) terungkap adanya sejumlah fasilitas mewah bagi terpidana kasus korupsi di dalam Lapas Sukamiskin.

Jaksa KPK mengatakan jika Wahid Husen mengizinkan Fahmi membangun saung dan kebun herbal di areal lapas, serta ruangan khusus 2×3 yang dilengkapi tempat tidur. Ruangan ini disebut-sebut sebagai ‘bilik asmara’.

Baca Juga:  MIRIS, Mantan Karyawan BPJS Ketenagakerjaan Diperkosa Atasannya 4 Kali, Nyaris Bunuh Diri

“Salah satunya untuk melakukan hubungan badan suami-istri, baik itu dipergunakan Fahmi saat dikunjungi istrinya maupun disewakan Fahmi kepada warga binaan lain dengan tarif sebesar Rp 650 ribu sehingga Fahmi mendapatkan keuntungan yang dikelola oleh Andri Rahmat, ujar Jaksa KPK Trimulyono Hendardi,”

Andri Rahmat merupakan terpidana kasus pembunuhan yang menjalani pidana penjara selama 17 tahun. Andri Rahmat digaji Rp 1,5 juta oleh Fahmi sebagai asisten untuk membereskan ruangan Fahmi. Andri juga jadi terdakwa dalam kasus ini di berkas terpisah.

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Advertisement

Berita Populer