Connect with us

Mancanegara

Tak Mampu Bayar Utang ke China, 3 Negara Ini Bangkrut dan Miskin

JARRAK.ID

Published

on

Presiden Joko Widodo bersama Presiden China Xi Jinping (Doc. Net)

JAKARTA – JARRAK.ID – Pemerintahan Presiden Joko Widodo terus menggenjot pembangunan infrastruktur melalui dana utang luar negeri. Hal tersebut sontak menjadi polemik nasional. Tidak hanya Indonesia, ada banyak negara yang menggunakan dana hutang uantuk membiayai infrastruktur.

Peneliti Institute dor Fevelopment of Economics and Finance (INDEF) Rizal Taufikurahman menjelaskan, beberapa negara yang telah menggunakan skema utang dalam membiayai pembangunan infrastruktur antara lain Jepang, China, Korea Selatan, Angola, Zimbabwe, Nigeria, Sri Lanka.

Meski demikian, pembiayaan infrastruktur melalui utang luar negeri ternyata tak selamanya berjalan mulus. Ada beberapa negara yang justru gagal bayar hutang sehingga negaranya menjadi bangkrut.

“Jadi ada bad story dan success story. Yang bad story itu Angola, Zimbabwe, Nigeria, Pakistan dan Sri Lanka,” ujar Rizal saat mengisi diskusi dengan media di Kantor INDEF, Jakarta.

“Mereka membangun proyek infrastrukturnya lewat utang, akhirnya mereka tidak bisa bayar utang. Banyak beberapa negara, di antaranya Angola mengganti nilai mata uangnya. Zimbabwe juga,” imbuh dia.

Berikut negara yang gagal dan bangkrut bayar hutang ke China:

  1. Zimbabwe

Kisah pahit negara gagal membayar utang dari utang luar negeri terjadi di Zimbabwe. Negara ini memiliki utang sebesar 40 juta dollar AS kepada China. Namun, Zimbabwe gagal membayarkan utangnya kepada China, hingga akhirnya harus mengganti mata uangnnya menjadi Yuan sebagai imbalan penghapusan utang.

  1. Nigeria

Dominasi China juga dialami oleh Nigeria. Model pembiayaan melalui utang oleh china yang disertai perjanjian merugikan negara penerima pinjaman dalam jangka panjang. China waktu itu mensyaratkan penggunaan bahan baku dan buruh kasar asal China untuk pembangunan infrastruktur di Negeria.

  1. Sri Lanka

Sri Lanka juga tidak mampu membayarkan utang luar negerinya untuk pembangunan infrastruktur. Akhirnya, Sri Lanka harus melepas Pelabuhan Hambatota sebesar Rp 1,1 triliun atau sebesar 70 persen sahamnya dijual kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) China.

Baca Juga:  Warna Air Sungai di Chicago Berubah jadi Hijau, Ada Apa?

Karena itu, Rizal berharap, pemerintah perlu hati-hati dan kecermatan dalam mengelola utang luar negeri terutama yang berkaitan untuk pembangunan infrastruktur.

Seperti diketahui, pada akhir 2014, utang pemerintah mencapai Rp 2.609 triliun dengan rasio 24,7 persen terhadap PDB. Sedangkan hingga akhir 2017, utang pemerintah mencapai Rp 3.942 triliun dengan rasio 29,4 persen.

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Berita Populer