Connect with us

Mancanegara

Tahun 2100, Kota di Asia dan Afrika Bisa Selamatkan Sejuta Orang dari Kematian Prematur

JARRAK.ID

Published

on

WASHINGTON – JARRAK.ID – Menurut para ilmuan, sebanyak 15 kota di Asia dan Afrika sampati tahun 2100 masing-masing bisa menyelamatkan setidaknya satu juta jiwa dari kematian premature, jika berhasil mengurangi emisi karbondioksida.

Berdasarkan laporan dari situs online jurnal ilmiah Nature Climate Change pada Senin (19/03/18), Kota Bandung dan Jakarta dapat menyelamatkan lebih dari satu juta nyawa dari kematian premature, jika bisa mengurangi polusi udara. Demikian hasil sebuah studi yang dilakukan para ilmuan Amerika Serikat.

Studi tersebut menunjukkan, 15 kota di Asia dan Afrika masing-masing bisa menyelamatkan satu juta anak dari kematian dini, jika target pengurangan emisi karbondioksia yang merupakan bagian dari Kesepakatan Paris 2015 bisa dicapai.

Dari 15 kota itu, 11 kota berada di daratan India. Yang berada di luar India hanyalah Bandung, Jakarta, Ibadan di Nigeria dan Dongguan di Cina.

Kota metropolitan Kolkata di India bisa menyelamatkan sampai 4,4 juta anak dari kematian dini sampai tahun 2100,demikian debutkan studi itu, yang menerapkan model computer di 154 kota besar dunia.

“India saat ini memiliki peraturan kualitas udara yang sangat lemah,” kata Profesor Drew Shindell, guru besar di Duke University di negara bagian AS, North Carolina tersebut.

Untuk mencapai kesimpulan tersebut, para ilmuan mendata kematian secara tidak langsug yang terkait dengan emisi karbondioksida. Yaitu partikel mikro dan gas ozon yang terbentuk dengan konsentrasi karbon yang tinggi, kata Shindell kepada kantor berita Reuters.

Kematian tersebut biasanya disebabkan oleh penyakit infeksi saluran pernafasan akut dan penyakit kardiovaskular seperti stroke dan kanker paru-paru, kata periset tersebut.

“Mobil masih memproduksi polusi yang berkaitan dengan partikel dan ozon, juga pembangkit listrik dan kompor untuk masak” lanjutnya.

“Anda melihat asap hitam ketika orang menyalakan pemanas minyak saat musim dingin?, warnanya hitam karena ada partikel,” tambah Shindell.

Sementara itu, menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa awal tahun 2018 ini, target itu sulit dicapai. Kecuali pemerintahan menerapkan perubahan drastis yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan mengalihkan penggunaan bahan bakar fosil ke bahan bakar berkelanjutan.

Menurut prediksi saat ini, peningkatan suhu global sampai tahun 2100 akan berada di atas kesepakatan 1,5 derajat Celsius.

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer