Tahun 2018, PT Garam Alokasikan Anggaran Rp 204 Miliar untuk Serap Garam Rakyat

2 min read

PT Garam alokasikan 65 persen, atau Rp 204 milar dari dana PMN sebesar Rp 300 milar untuk serap garam rakyat/Doc.Net

JAKARTA-JARRAK.ID– PT Garam (Persero) sudah mulai bergerak untuk melakukan penyerapan garam milik rakyat. Tahun 2018, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu telah mengantongi Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp 300 miliar. Dari total anggaran tersebut, 65 persen diantaranya atau Rp 204 miliar dialokasikan untuk kegiatan penyerapan garam rakyat.

Kepala Satuan Tugas Penyerapan Garam Rakyat PT Garam (Persero), Indra Kurniawan mengaku sudah berkeliling ke sentra produksi garam rakyat di berbagai daerah di Indonesia.

“Tujuannya tentu untuk melakukan kegiatan penyerapan garam langsung kepada petani, sehingga petani tidak dipermainkan pengepul,” kata Indra di Jakarta, Rabu, (07/03/2018).

Sekalipun demikian, Indra mengaku masih menjumpai petani yang enggan menjual produksi garamnya ke PT Garam. Padahal kata Indra, harga beli yang ditawarkan PT Garam mencapai Rp 2.400 per kilo.

“Harga itu sudah paling mahal. Termahal sepanjang sejarah PT Garam melakukan kegiatan penyerapan garam rakyat,” tegas Pejabat Eselon I PT Garam tersebut.

Petani kata Indra, baru akan menjual garamnya sekitar bulan April ke atas. Petani meyakini, di bulan itu harga garam akan jauh lebih mahal dibandingkan sekarang.

Indra juga menyampaikan, pada prinsipnya, perusahaan yang dibangun pada 1991 itu akan membantu petani. Jika harga garam tidak stabil, mereka bakal hadir mengangkat harga jual. Pada saat jumlah produksi tinggi, PT Garam juga akan membantu menyerap.

Namun, petani memiliki pilihan untuk menjual kristal putih itu ke perusahaan swasta jika harga lebih baik. Indra juga membeberkan, penyerapan garam rakyat pada musim 2016 kurang maksimal. Sebab, cuaca tidak stabil sehingga jumlah produksi rendah.

Begitu pula pada 2017, penyerapan garam rakyat oleh PT Garam juga kurang maksimal. Sebab, harga jual di pasaran sangat tinggi. Petani menjual garam Rp 2 juta-Rp 4 juta per ton. Sementara perusahaan yang kali pertama ber-home base di Sumenep itu hanya merencanakan Rp 510 ribu per ton.

“Dengan berbagai upaya yang dilakukan PT Garam, tahun ini harapannya penyerapan garam rakyat bisa lebih baik,” tukas Indra.

Secara terpisah, Direktur Utama PT Garam (Persero), Budi Sasongko mengingatkan agar para petani tidak perlu takut menyikapi rumor produksinya tidak akan laku. Seperti sering disampaikan para pengepul, pedagang dan pihak swasta. Budi meyakini, banyak oknum yang memanfaatkan keadaan dengan maksud mencari keuntungan.

“Langkah pembelian garam rakyat merupakan salah satu upaya PT Garam untuk tetap menstabilkan harga. Kalau harga stabil, petani tidak akan rugi dalam kondisi dan situasi seperti apapun,” tegas Budi.

Selain itu, kata Budi, penyerapan garam rakyat secara optimal melalui Satgas PT Garam juga untuk mengurangi impor garam. Diakui Budi, impor telah memberikan efek domino yang sangat besar terhadap nasib petambak garam lokal.

“Mudah-mudahan niat baik PT Garam disambut positif oleh pelaku pergaraman, baik oleh petani garam, pengepul, pihak swasta dan pemerintah. Karena substansinya penyerapan garam rakyat untuk meningkatkan kesejahteraan petani garam lokal,” tandas Budi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *