Connect with us

Politik

Suara Ajat-Syaikhu dan Sudirman-Ida Terdongkrak Jauh Diluar Dugaan, Begini Penjelasannya

JARRAK.ID

Published

on

JAKARTA–JARRAK.ID – Hasil hitung cepat berbagai lembaga survei banyak  memberikan kejutan. Hal itu seperti yang terjadi pada hasil hitung cepat Pilgub Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Pada kedua pilgub tersebut, pasangan Sudirman-Ida dan pasangan Sudrajat-Syaikhu meraup  suara quick count yang jauh diluar dugaan. Suara kedua pasangan yang juga sama-sama diusung Gerindra-PKS tersebut berhasil terdongkrak jauh. Padahal sebelumnya banyak lembaga survei yang pesimistis karena elektabilitas keduanya terbilang rendah.

Menanggapi fenomena tersebut, General Manager Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kompas Toto Suryaningtyas mengungkapkan jika preferensi politik masyarakat semakin dinamis pada Pilkada Serentak 2018.

Dinamisnya preferensi politik tersebut menurut Toto dipengaruhi oleh sejumlah hal.

Pertama, menurut Toto adalah faktor pengaruh pembicaraan politik di lingkungan sekitar. Hal ini misalnya arah dukungan politik dapat dipengaruhi oleh keluarga, kelompok agama, suku dan sebagainya. Dalam hal ini peran pemimpin kelompok sangat berpengaruh terhadap arah dukungan dalam sebuah kontestasi politik di lingkungannya.

“Pilihan bisa diarahkan oleh pimpinan komunal-komunal itu. Karena angkanya sangat besar dan mengejutkan, kok bisa? Jadi ada pergerakan suara yang masif didorong oleh satu isu besar, kemudian gerakan yang tidak terdeteksi, jadi ada sebab besar,” kata Toto sebagaimana di lansir dari laman Kompas.com,Kamis, (28/06/2018).

Kedua, yang tidak kalah pentingnya menurut toto adalah faktor berita bohong (hoax), ujaran kebencian, dan fakta-fakta negatif yang terus disosialisasikan. Faktor-faktor tersebut secara signifikan berpotensi  merubah preferensi politik masyarakat karena bagi masyarakat dengan tingkat literasi rendah, akan mudah terpengaruh.

“Di mana isu, berita, informasi itu langsung masuk dari point to point, person to person, itu langsung bisa menciptakan perubahan preferensi,” kata Toto.

Baca Juga:  Hasil Survei Indo Barometer: Inilah Alasan Publik Tidak Suka Kepemimpinan Jokowi

Toto menambahkan kalau kedua faktor tersebut akan menjadi semakin parah dan menemukan momentumnya manakala hal tersebut mendapatkan pengakuan (legitimasi) dari otoritas sosial sepeti tokoh agama, guru, tokoh masyarakat maupun tokoh agama.

“Sehingga kombinasi antara hal yang laten dengan hal yang sifatnya sporadik itu menciptakan kondisi lebih dinamis daripada perkiraan kita. Jadi pilkada sekarang basisnya dinamis dia, kita ini agak terbuai dengan hasil survei kemarin, kayaknya yang menang ini, ini, ini. Ternyata enggak, masyarakat kita dinamis,” terang Toto.

Toto melanjutkan kalau dalam Pilkada 2018 ini masih terdapat potensi permainan isu SARA. Dia khawatir kalau isu semacam itu akan terus diproduksi oleh pihak tertentu untuk kepentingan politik sesaat. Terlebih menjelang Pilpres 2019 bukan tidak mungkin isu SARA akan tetap dimainkan. Jika hal itu terjadi, kata Toto hanya akan menimbulkan persaingan tidak sehat dan mencoreng demokrasi.

“Kalau itu terbukti itu jadi masalah. Karena itu aturan mainnya ditabrak dengan isu-isu SARA itu, lalu menciptakan kondisi-kondisi yang menunjang pemanfaatan isu SARA untuk kepentingan politik,” tandasnya.

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Berita Populer