Connect with us

Kolom

Spirit Nasionalisme Bung Karno dan Songkok

I PUTU SUDIARTANA

Published

on

Ilustrasi (Doc. Net)

Di pinggir seorang penjual sate terlihat seorang yang gundah gulana, perasaannya berkecamuk, dilema seolah membelenggunya. Ia berdebat dengan dirinya sendiri. “Apakah engkau seorang pemimpin atau hanya seorang pengekor?”. “Aku seorang pemimpin”, jawabnya atas pertanyaannya sendiri. Batinnya kemudian menyentak “kalau begitu, tunjukkanlah! Majulah. Pakai songkokmu dan masuklah ke dalam ruang rapat ”. Dia adalah Soekarno sebelum menghadiri rapat Jong Java, di Surabaya, Juni 1921.

Penampilan Soekarno saat itu menghentak peserta rapat yang terdiri dari kaum intelegensia, suatu fashion yang menyayat-nyayat elitisme dengan ketajaman identitas kultural. Hingga pada suatu waktu di tempat dan peristiwa yang berbeda, songkok menjelma menjadi identitas nasional (Cindy Adams, 1966).

Perihal peta historis dari mana songkok itu berasal menuai banyak versi. Seorang antropolog Malaysia Rozan Yunos menulis “The Origin of the Songkok or Kopiah” dalam The Brunei Times pada 23 September 2007. Rozan berujar dalam tulisannya “Menurut para ahli, songkok menjadi pemandangan umum di Kepulauan Malaya sekitar abad ke-13, saat Islam mulai mengakar”.

Asal mula songkok memang penuh bintik-bintik spekulasi, dan barang yang menyerupai songkok telah populer ketika kekaisaran Bani Ottoman. Mulai dari dataran Asia Selatan yang dikenal dengan Rumi cap (topi Rumi), ke dataran Alexandria Mesir yang disebut tarboosh hingga bertepi di Turki yang populer dengan nama fez.

Akan tetapi, Songkok hitam yang dipakai Soekarno adalah hasil perasan dari berbagai nuansa yang berbeda-beda atau sebagai bentuk otentik yang lahir dari akulturasi budaya. Meskipun Soekarno dihadapkan dengan beragam corak songkok, namun beliau tetap teguh pendirian untuk memakai songkok atau peci beludru hitamnya. “Bung Karno tak pernah memakai corak yang lain. Dia tetap memakai peci beludru hitam, yang bahannya berasal dari pabrik di Italia,” tulis Molly Bondan dalam Spanning A Revolution.

Baca Juga:  Kredo Cinta Buku Tanpa Membaca (Kisah Kecil si Penjual Buku)

Soekarno ingin membenamkan identitas kultural menjadi ruh nasionalisme. Ia ingin menunjukkan pada dunia bahwa inilah “Aku”, inilah bangsa Indonesia. Suatu keberanian melawan dan menentang arus kolonialisme. Bagi Soekarno, songkok tidak hanya sebatas simbol yang hampa makna, ia merupakan wujud simbol yang berkorelasi dengan praksis kehidupan.

Jika Soekarno memakai songkok sebagai aktualisasi nasionalisme, orang Madura menggunakan songkok dengan panjang di atas rata-rata untuk meneguhkan keperkasaannya. Di balik songkok panjang, tersirat sifat maskulinitas dan keteguhan diri. Sehingga, adegium “abhental ombhek asapok angin” (berbantal ombak dan berselimutkan angin), manjadi narasi yang terpatri dalam sanubari laki-laki Madura.

Jatuhnya Kesakralan

Lantas pajabat negeri ini memakai songkok untuk apa? Pada satu sisi saya mengapresiasi, mungkin mereka ingin meneruskan tradisi yang telah digagas Soekarno. Tetapi apa makna tradisi kalau hanya sebatas simbol belaka, tradisi itu dengan sendirinya akan layu dan pudar.

Di sisi yang lain, nurani kita akan tercabik-cabik ketika melihat realitas yang menghampar di depan kita. Saat dimana songkok dijadikan alat untuk meneguhkan elitisme. Kita sering melihat bapak presiden memakai songkok saat agenda kenegaraan atau para DPR saat melaksanakan sidang paripurna, sungguh gagah mereka yang seolah-olah ingin mentahbiskan dirinya, “akulah penerus tradisi Soekarno, akulah seorang nasionalis”.

Namun sayang, sebagian mereka, disadari atau tidak, menghamba pada kapitalisme dan tunduk di bawah pragmatisme. Berbeda dengan Soekarno, beliau sama sekali tidak pernah tunduk pada kapitalisme, jiwanya terus berkobar untuk menghapus penindasan kapitalis dan nasionalismenya terus bergelora hingga ahir hayatnya. Songkok yang Soekarno pakai sebenarnya merupakan simbol pakaian untuk menentang kapitalis dan kolonial.

Ahir-ahir ini jiwa kebangsaan tertutupi awan elitisme, sehingga narasi nasionalisme semakin absurd. Saya kemudian mempunyai kecurigaan atau mungkin su’udzan terhadap pejabat negeri ini. Ketika mereka dengan congkak menggunakan songkok, tetapi lupa terhadap substansi yang terkandung di dalamnya. Inilah ironi yang membungkam nasionalisme.

Baca Juga:  Kafe dan Sastra Sufistik

Songkok terjatuh dari kesucian dan tercerabut nyawa nasionalismenya. Ironi itu terus menjalar, saat pejabat negeri ini menistakan kesucian songkok. Mereka berpura-pura memakai songkok agar rakyat mengira bahwa spiritualitas dan nasionalisme bergelayut di dalam dirinya.

Namun ternyata nasionalisme dan spiritualitas itu tergantung, terpasung dan terpenggal hingga ahirnya mati dalam kesunyian. Kondisi ini benar-benar akan terjadi ketika elite negeri ini terjebak dalam rimba gelap hedonisme. Begitulah ahir riwayat kesucian dan ruh nasionalisme dari seonggok barang yang namanya songkok. Lalu bagaimana Anda melihat songkok di revolusi industri 4.o? Bagaimana pula makna kepahlawanan di balik songkok?

Selamat Hari Pahlawan!

Berita Populer