Siapakah yang pantas memimpin Kepri Periode 2020-2025 ?

5 min read

Batam, Jarrak.id | Dalam pesta demokrasi Pilkada 2020 saat ini masyarakat dituntut untuk memilih salah satu calon yang akan dijadikan pemimpin baginya dan seluruh rakyat, dikarenakan negara kita menganut sistem demokrasi, maka semua masyarakat diharuskan untuk memilih calon pemimpinnya.

Adapun kontestan putera terbaik
pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Kepulauan Riau periode 2020-2025, adalah terdiri dari, Dr. H. M. SOERYA RESPATIONO, SH, MH dan IMAN SUTIAWAN, SE. ISDIANTO, S.Sos, MM dan SURYANI, SEANSAR AHMAD, SE, MM dan MARLIN AGUSTINA.

Untuk menentukan pilihan tentu jelas kita pasti punya kriteria pemimpin yang ideal menurut kita masing-masing, namun dalam tulisan ini mencoba memaparkan kriteria pemimpin menurut para filsuf. Karena seorang filsuf terlibat secara aktif dalam pemikiran kritis tentang pertanyaan-pertanyaan besar yang tidak bisa terjawab dengan jelas.

Kita berangkat dari pendapat filsuf barat klasik guna untuk memberikan gambaran tentang kriteria seorang pemimpin, salah satunya adalah Plato yang memiliki konsep tentang pemimpin ideal, meskipun dia menolak sistem demokrasi yang kita anut ini, namun dalam memahami pendapatnya tentu tidak salah, kan?

Plato membangun konsep tentang negara, dimana ada beberapa klasifikasi didalamnya. Pertama ada para petani yang menduduki tataran paling bawah, kelompok ini tugasnya hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negara, yang kedua ada tataran penjaga, tugasnya jelas sebagai penjaga keamanan dalam negara. Kalau di Indonesia seperti TNI dan Polri.
sedangkan tingkatan paling tinggi yaitu para filsuf, dialah yang berhak memimpin dalam sebuah negara. Kenapa Plato mengatakan para filsuf? Karena filsuf itu dianggap sudah memenuhi kriteria sebagai pemimpin menurutnya.

Dalam konsepsinya sebagai pemimpin harus berpihak kepada keadilan, menurut Gutharie dalam menganalisis pemikiran Plato di teori Republika-nya, menurut dia Republika itu adalah bahasa Yunani yang berarti manusia adil atau perihal keadilan.

Jadi pemimpin yang bagus menurut plato adalah manusia yang mampu berprilaku adil dan bijaksana dalam menentukan sesuatu. Keadilan dan kebijaksanaan di sini yaitu seseorang yang tetap berpihak kepada kebenaran, seperti halnya Socrates guru dari Plato sendiri. Ketika Socrates di fitnah sehingga dia menerima hukuman mati dengan meminum racun, ada seorang yang menyuruh dia kabur dari hukuman itu namun Socrates menolaknya seraya berkata “ketika saya kabur dari hukuman ini maka saya meninggalkan kebenaran, dan disini dengan meminum racun ini saya bersama kebenaran itu sendiri.” pendapat itu mungkin mewakili filsuf Yunani.

Dari Barat kita beranjak ke Timur yaitu Al-Ghazali, dimana hal ini dikaji dalam tesisnya Mahasiswa Universitas Islam Negri (UIN) Yogyakarta yang membahas tentang Al-Ghazali.
Al-Ghazali memiliki konsep ideal tentang pemimpin, yaitu pemimpin akhlak yang disebut pemimpin sejati. Pemimpin yang adil, serta memiliki ciri khas, penguasaan dalam bidang ilmu negara dan agama. Itu semua yang dapat mempengaruhi pola kepemimpinannya.

Dikarenakan intelektual, agama, dan akhlak memiliki pengaruh besar terhadap pemimpin. Yang pertama kita lihat dalam memilih seorang pemimpin yaitu dari tiga aspek tersebut. Dari segi akhlak yang kita pandang dari pemimpin pasti dari tingkah laku, dimana tingkah lakunya baik tidak pernah menyakiti orang lain, seperti halnya Rasulullah dimana beliau tidak pernah menyakiti orang lain baik itu muslim ataupun non muslim, jangankan fisik, menyakiti perasaan beliau tidak pernah melakukannya. Dengan salah satu contoh beliau tidak pernah memukul Siti Khotijah (istri Rossul) atau pun memarahinya.

Ketika seseorang calon pemimpin yang akan dipilih telah melakukan tindakan kriminal atau berprilaku tidak baik itu akan berpengaruh terhadap cara dia memimpin nanti, seperti halnya ketika dia telah melakukan tindakan kekerasan maka bisa jadi pada saat memimpin yang digunakan adalah kekerasan, terhadap rakyatnya sendiri.

Kedua yaitu dilihat dari agamanya, karena menurut Al-Ghazali hal ini juga berpengaruh terhadap pola kepemimpinannya, ketika agama yang dianut bukanlah agama yang mengajarkan terhadap kebenaran mungkin negara yang dipimpin akan dibawa ke ranah kesesatan, akan tetapi sejauh ini masih tidak ada agama yang mengajarkan tentang keburukan, semuanya mengajarkan kebaikan.

Dan yang terakhir, intelektual. Yakni kepandaian dalam berfikir. Karena kebanyakan yang peka terhadap keadaan yaitu orang yang mampu berpikir dan memiliki wawasan yang luas.

Dalam hal ini Al-Ghazali tidak memaparkan tentang penampilan luar dari seorang pemimpin akan tetapi lebih kepada penampilan dari dalam diri seseorang, ada sebuah kata-kata “jangan melihat orang dari luarnya saja.” Kenapa dia lebih memandang kepada sisi dalamnya, karena yang mempengaruhi pemikiran itu bukanlah penampilan luar.

Menurut Sigmund Freud dimana yang mempengaruhi tingkah laku manusia yaitu alam bawah sadar, dia petakan sebagai ID, Ego, dan Super Ego. Namun hal ini tidak akan dipaparkan secara melebar, hanya sebagai penambah wawasan tentang “jangan melihat orang dari luarnya” begitulah kira-kira.

Jadi orang yang berpenampilan amburadul belum tentu kepribadiannya buruk karena seperti yang dibahas diatas, semuanya tidak bisa dipandang dari sisi luarnya saja, namun dari sisi dalam pun juga perlu dan sangatlah fundamental dalam menilai seseorang.

Seperti itulah konsep pemimpin menurut Al-Ghazali sebagai filsuf Islam, adapun tokoh filsafat dari barat yaitu Niccolo Machiavelli, dia menjelaskan kriteria pemimpin yang mampu memimpin, dengan cara seseorang itu harus mampu memposisikan dirinya dalam bertindak.
Dia mengatakan “sebagai manusia harus mampu bermain baik sebagai manusia maupun sebagai binatang buas” dia berpendapat demikian dikarenakan menurutnya ketika seorang pemimpin lemah maka dia akan diatur oleh masyarakat dan ketika pemimpin itu terlalu keras maka dia akan dibenci oleh masyarakat.

Jalan tengah yang diambil Machiavelli ialah dengan keterampilan seorang pemimpin dalam melihat situasi, kapan dia harus menjadi orang baik dan kapan dia harus menjadi srigala.

Pada akhirnya, kepemimpinan adalah sebuah seni bukanlah sains. Ini adalah satu set sifat bawaan, disempurnakan dan disempurnakan seiring waktu dengan pendidikan, pelatihan, dan pengalaman.

Ketika rasa takut untuk mengambil tanggung jawab sebagai pemimpin muncul pada diri seseorang, maka dia akan menjadi pengikut dari mereka yang berani mengambil tanggung jawab tersebut.

Tidak semua orang bisa mengambil peran sebagai seorang pemimpin sama seperti tidak semua orang bisa menjadi aktor yang baik.

Seorang pemimpin adalah mereka yang mau maju ke depan meninggalkan barisan di belakang dan mengambil tantangan untuk memimpin.

Dalam penelitian yang dilakukan GLOBE di 60 negara, disimpulkan bahwa para pemimpin itu identik dengan:

“Integritas, berkarisma, inspirasional, visioner, mampu memberi dorongan, berpikir positif, pembangun kepercayaan diri, dinamis, memiliki pandangan ke depan, membangun tim yang efektif, mampu berkomunikasi dan berkoordinasi serta pemberi keputusan, cerdas, dan pencari solusi yang win-win problem solver.”

Semua atribut di tersebut adalah kombinasi dari kepribadian, karakter, keterampilan, komunikatif, dan kecerdasan emosional.

Oleh karena itu seorang pemimpin lahir, berkembang, terampil dalam komunikasi, dan dibina melalui pengalaman hidup.

Jadi pemimpin itu bisa dilahirkan dan dibentuk, tergantung pada bagaimana mendefinisikannya karena setiap orang dapat memimpin dan menjadi pemimpin.

Apakah seorang terlahir dengan “tanda khusus untuk memimpin” atau tidak, jika ingin menjadi seorang pemimpin tentunya harus bekerja untuk membangun, mengembangkan dan menyempurnakan karakteristik pemimpin yang hebat.

Kita berharap dari beberapa calon Gubernur dan wakil gubernur sebagai putra terbaik Kepri
masyarakat kepulauan Riau dapat memilih dengan cerdas siapa yang pantas dan memiliki kompetensi untuk memimpin Provinsi Kepulauan Riau periode 2020-2025.

Walaupun dengan kriteria pemimpin yang berbeda-beda, tentu saja tujuannya satu yaitu membawa Provinsi Kepulauan Riau kepada ranah yang lebih baik untuk membangkitkan perekonomian dan dapat menciptakan ekosistem dunia usaha yang berdaya saing Global dengan memperhatikan segala aspek perubahan yang dibuat dari masa sebelumnya.

Editor: GR/Habil

Sumber: Bahzomi Fuadi, Dosen Universitas Ibnu Sina Batam