Connect with us

Kolom

Sensasionalisme Berita Teror

ZAINAL ALIM

Published

on

Illustrasi/Net

Satu pekan terkahir, masyarakat Indonesia dihadapkan pada situasi mencekam. Aksi teror berlangsung nyaris paralel. Belum usai duka atas tewasnya lima anggota polisi pada kerusuhan Napiter Mako Brimob Kelapa Dua Depok, duka kembali ternjadi hari ini.

Minggu pagi, aksi bom bunuh diri terjadi di tiga gerja Surabaya: Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel, gereja di Jalan Diponegoro, dan di Jalan Arjuna. Catatan pihak kepolisian, ledakan ini menewaskan sekitar 10 orang dan 40 lainnya mengalami luka. Yang menarik, pemberitaan soal insiden ini dikemas dengan pola yang beragam. Media seolah mendeskripsikan peristiwa itu dengan bingkai sensasionalisme.

Di Indonesia, misalnya, teror di Sarinah, Jakarta (14 Januari 2016) bisa kita lihat bahwa teroris melancarkan aksinya dengan pertimbangan pola kerja media. Bom tersebut dalam hitungan matematis memang tidak menelan korban jiwa yang begitu banyak ketimbang terror di Paris atau Bom Bali 1.

Kendati demikian, terror di Sarinah mendapat simpati, baik secara nasional maupun internasional. Alasannya, tak lain karena Jakarta adalah ibu kota Indonesia. Ia adalah pusat media, ekonomi, gaya hidup, pemerintahan dan pusat kantor duta besar berbagai negara. Maka, dengan menyerang salah satu sudut dari berbagai pusat tersebut, secara otomatis akan mendapat reaksi dari media dan masyarakat, sehingga pada akhirnya akan menjadi isu global.

Media, terutama televisi, akan berlomba-lomba menampilkan aksi teror dengan sedramatis mungkin, dengan tampilan visual yang spektakuler dan menyentuh sisi emosionalitas khalayak. Oleh sebab itu, dalam sejumlah penelitian disebutkan bahwa tampilan visual tentang kekerasan, kekejaman, dan kebrutalan di dalam tayangan berita akan menyebabkan perasaan takut bagi seseorang yang tidak merasakan dan terpapar langsung aksi tersebut (Slone, 2010).

Baca Juga:  Era Bersejarah Perempuan Saudi

Bahkan, yang lebih ironis, ketika terjadi kondisi yang paradoksal di mana khalayak membayangkan adegan yang lebih mengerikan dibandingkan dengan realitas yang memang terjadi di lapangan (Ganor, 2005). Hal tersebut terjadi karena berita yang ditampilkan begitu sensasional.

Menurut Iwan Awaluddin Yusuf, ada tiga aspek bahasan mengenai sensasionalisme pemberitaan di media massa, yakni teknik, proses, dan pola. Frekuensi aksi terorisme yang kian meningkat menimbulkan efek ketakutan yang sifatnya kontinu. Terpeliharanya ketakutan inilah yang sebenarnya menjadi orientasi politis dari kelompok teroris.  Bahkan, dari saking parahnya, media seringkali mengabaikan aspek moralitas dan prinsip etis dalam jurnalisme.

Eskploitasi atas peristiwa teror yang dilakukan oleh media, secara tidak langsung telah memberi keuntungan bagi kelompok teroris. Di titik ini, kita bisa memahami bahwa di balik itu semua sebenarnya ada keterjalinan yang sama-sama menguntungkan.

Bagi industri media, keuntungan tersebut didulang dari banyaknya khalayak yang menonton atau membaca berita yang ditayangkan. Sementara, bagi kelompok teroris, keuntungan tersebut didapat melalui persebaran ketakutan yang sifatnya holistik.

Di Indonesia, contohnya, stasiun televisi TV One pernah menayangkan penyerbuan Temanggung hampir 24 jam (2009), atau ANTV yang pernah menampilkan aksi tembak-menembak antara polisi dengan kelompok teroris yang berada di bawah komando Azhari di Malang (2005).

Kedua liputan ini memunculkan kontroversi di tengah-tengah masyarakat. Sehingga, kita bisa menemukan benang merah, bahwa televisi seringkali lebih mengutamakan sensasionalisme dan kebombastisan ketimbang nilai etis jurnalistik dalam meliput kasus terorisme (Imaduddin, 2016).

“The media are the terrorist’s best friends, the terrorist’s act by itself is nothing, publicity is all” (Laquer 2004). Ini artinya media telah menjadi kawan akrab bagi teroris. Kehadiran media dalam setiap aksi teror kian menegaskan bahwa teroris tidak perlu melancarkan serangan dalam skala besar.

Baca Juga:  Habib Rizieq Minta Ulama Kampanyekan Prabowo-Sandiaga di Majelis Taklim Sampai Pesantren

Mereka cukup melancarkan serangan di wilayah yang dianggap vital dalam suatu negara, dan dengan hal itu media akan meliputnya sehingga orang-orang sekitar pun ikut terpapar ketakutan yang disebabkan oleh aksi teror tersebut, meskipun skala serangannya kecil.

Adanya hubungan simbiosis mutualisme antara media dan terorisme menunjukkan tergadainya prinsip jurnalisme, sehingga membuat Paul Johnson—sebagaimana dikutip Behm (1991, 240), merasa geram. Dia menulis, “Most jounalists are scoundrels. They can’t tell the difference between hard news and scandal, exept that like scandal because it make money. They should all be locked up”.

Terjalinnya hubungan media dan teroris juga ditegaskan oleh Giessmann (2002: 134-136). Menurutnya, para teroris membutuhkan media sebagai panggung untuk mencari sensasi agar masyarakat termakan propaganda mereka.

Pada tahap selanjutnya, foto atau video dari setiap detail peristiwa teror akan dipilah dan dipilih oleh media sesuai dengan kebutuhannya. Tujuan dari hal tersebut ialah agar ada kejutan dari berita yang disajikan serta menjadi leading newspaper bagi sejumlah saingannya.

Padahal, media seharusnya mampu menjaga integritasnya. Objektivitas adalah tolok ukur yang mesti dikedepankan dalam setiap peliputan berita. Oleh sebab itu, dalam setiap berita tentang terorisme media semestinya berani untuk bertanggungjawab (Chaudhary, 2002: 158-164). Untuk itu, keakuratan fakta dan keontentikannya merupakan dasar dari setiap peliputan berita terkait terorisme agar bisa memenuhi kepentingan publik.

Berita Populer