Connect with us

Daerah

Selain di Laci, Ternyata KPK Temukan Uang Lain di Ruang Kerja Menag

JARRAK.ID

Published

on

Gedung KPK (Doc. Net)

JAKARTA – JARRAK.ID – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebenarnya menemukan uang lain di ruang kerja Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin selain di laci yang disita.

Kendati demikian, setelah dianalisa dengan didukung bukti dokumen lainnya, uang itu diduga tidak berhubungan dengan kasus dugaan suap jual beli jabatan di lingkungan Kemenag yang sebelumnya menyeret Eks Ketum PPP, M Romahirmuziy atau Rommy.

“Kami sebenarnya juga menemukan uang-uang lain di ruangan Menteri Agama pada saat itu. Dari informasi atau data yang ada disana itu diduga merupakan honorarium dan uang- tersebut tidak dibawa,” ungkap Jubir KPK Febri Diansyah kepada wartawan di Gedung KPK, Kuningan Jakarta, Kamis, (21/03/2019).

Febri kembali menegaskan bahwa, pihaknya memastikan terkait barang bukti yang telah diamankan oleh KPK merupakan terkait perkara yang tengah ditangani KPK yakni dugaan suap jual beli jabatan di lingkungan Kemenag.

“Kami pastikan ketika melakukan penyitaan berarti penyidik itu menduga bukti-bukti tersebut, bukti ini bukan hanya uang ya, ada dokumen, laptop dan lainnya diduga terkait dengan pokok perkara,” tegas Febri.

Menurut Febri, uang itu sengaja tidak ikut disita KPK karena dianggap uang honorarium. Namun kata Febri, jika angkanya tidak rasional, maka akan dikembangkan juga oleh KPK.

“Jadi sejak awal tim KPK sudah memisahkan mana uang dalam amplop yang merupakan honor, mana yang bukan,” kata Febri.

“Ada banyak laporan masuk dari berbagai pihak misalnya ketika ada pejabat melaporkan menerima honor 100 juta. Kalau honor terkait pembicara ya sehingga kalau misalnya ada honor nilainya sangat besar misalnya Rp 50 juta atau 100 juta maka sisanya jadi milik negara,” tandas Febri.

Baca Juga:  KPK Berjanji Segera Bereskan Skandal Korupsi Bank Century

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Advertisement

Berita Populer