Connect with us

Kolom

Sedikit Berkisah Soal Gundah

Waktu itu, silaturrahmi cukup terasa sebagai instrumen utama tatap muka. Kesolidan warganegara benar-benar menjadi hantu bagi kaum pengganggu. Bayangkan, jika tidak karena ke-satu-an, bagaimana mungkin bambu runcing bisa mengalahkan senapan dan mesiu?

I PUTU SUDIARTANA

Published

on

Ilustrasi (Doc. Net)

Dalam atmosdir generasi langgas, setiap orang akan terus merasa bangga karena bebas. Aktivitas kehidupan, dari inci ke inci, seolah menjadi milik mereka. Tak ada yang bergantung. Semua berjalan begitu rupa: orang-orang akan lebih suka interaksi dalam jaringan dan kabel ketimbang dalam sua dan tatap muka. Cepat dan mudah, mungkin benar, tapi mereka akan kehilangan kehangatan bersaudara.

Interaksi memang mengharuskan aksi. Tetapi dunia ‘virtual’ telah mengubahnya. Bayangkan, meski hanya melalui tiang tower, apa yang belum selesai dari interaksi? Ekspresi senang-gulana sesorang bisa dipantau melalui baris status media sosial; tatap muka dengan sangat mudah bisa digelar hanya melalui kuota pulsa. Semua serba tidak nyata: kehangatan bersaudara seolah hanya bisa dilakukan di layar gawai.

Apa ini soal? Sebenarnya tidak. Tetapi, menyadur kekhawatiran Jean Baudrillard, kecanggihan tersebut hanya akan menampilkan pesona ekstase-fantasi, yang setiap saat akan merontokkan kehangatan etik berwarganegara satu per satu. Tenggangrasa mungkin tak bisa didapat hanya melalui layar kaca. Alih-alih saling menghormati, orang-orang dengan mudah bisa terus tebar caci-maki.

Bila ditilik berdasar kajian saintifis, perekembangan digital melalui tekhnologi mungkin akan sangat membantu, banyak manfaat. Tetapi toh ada ihwal yang tidak bisa sekadar diukur melalui angka dan data. Kasihsayang, misalnya. Tatakrama, contohnya. Meski begitu, sebagai perkembangan ilmu, semua kemjuan memang musti disyukuri. Tetapi keakraban bersaudara harus terus diisi.

Kita memang kadang merindukan suasana guyub dan gotong royong masa dulu. Pada dulu, saat semua serba kayu dan batu, orang-orang akan bergumul, bercengkrama, begitu hangatnya. Musuh waktu itu hanya Londo koloni. Waktu itu, silaturrahmi cukup terasa sebagai instrumen utama tatap muka. Kesolidan warganegara benar-benar menjadi hantu bagi kaum pengganggu. Bayangkan, jika tidak karena ke-satu-an, bagaimana mungkin bambu runcing bisa mengalahkan senapan dan mesiu?

Masa nostalgik itu begitu indah diingat. Lalu pikiran paling dalam mencoba untuk mengulanginya, dalam masa yang berbeda. Kita hendak bercerita soal keakraban dan kehangatan bersaudara itu di tengah belenggu pots-truth; kita berandai untuk melingkar bersama, duduk sama rasa, berdiri sama tinggi, di tengah arus masa yang penuh gimmick yang tiada henti; kita lalu bersaksi, persaudaraan tidak akan ada habisnya! Tapi apa bisa?

Saya masih ingat, kredo “Mangan Ora Mangan Kumpul” yang populer ditulis Umar Kayam di koran lokal Kedaulatan Rakyat di Jogja itu, masih terus membekas. Kredo itu sekaligus menjadi ‘gerundelan’ seorang sastrawan masyhur untuk menulis hal remeh dengan cara suka-suka. Tapi betapapun, kredo itu menunjukkan sebuah keakraban, persatuan, kerukunan, di tengah gelayut dagang, uang, dan kekayaan. Apapun situasinya, kumpul!

Berkumpul, disadari atau tidak, memang menjadi falsafah kehidupan Manusia Indonesia. Pancasila mendengungkan musyawarah. Keputusan-keputusan sulit yang menyangkut apapun, dalam tradiasi Manusia Indonesia, mesti diselesaikan melalui musyawarah, berkumpul, urun-rembug. Bahwa tokoh-tokoh nasional tempo dulu berdebat dan saling melempar urat, semata untuk mempertahankan energi bangsa melalui ide(ologi) dan bahasa.

Berkumpul memang tidak bisa menampik selisih. Dan karena itu, rerembukan menjadi lebih bermakna. Bahkan, musyawarah dan berdialog hingga kini menjadi instrumen utama untuk rekonsiliasi, untuk keputusan perbaikan, untuk ide-ide konstruktif. Dalam disiplin akademik, dialog itu menjadi wajib. Bahkan, dalam tradisi ilmu, perbedaan pandang iman kadang didialogkan. Bukankah Pancasila bila diperas hanya akan melahirkan gotong-royong dan musyawarah?

Saya membayangkan dialog dan musyawarah terus terlihat hidup di era digital native hari ini. Meski media (sosial) telah memangkas batas keadaban itu, saya masih percaya, kekaraban melalui dialog bukan hal yang mustahil.

Saya percaya, masih ada sedikit orang yang terus mempertahankan dialog etik di tengah kehebatan robot. Margaret Mead, suatu ketika, bilang: “Jangan pernah meragukan bahwa sekelompok kecil orang yang berwawasan tajam dan penuh dedikasi bisa mengubah dunia. Sesungguhnya hanya itulah yang pernah terjadi”.

Sukamiskin, 29 Juli 2017

Advertisement

Populer