Connect with us

Other

Ratna Sarumpaet dan Rocky Gerung Kompak Sebut Reformasi Gagal

JARRAK.ID

Published

on

Rocky Gerung (Doc. Net)

SURAKARTA – JARRAK.ID – Ratna Sarumpaet dan Rocky Gerung kompak menyebut bahwa transisi kepemimpinan pasca 20 tahun reformasi gagal total. Pasalnya pemimpin Indonesia dalam tiga kali Pemilu belum berhasil melahirkan pemimpin yang mampu melaksanakan berbagai agenda dan mandat Reformasi.

Bahkan Ratna menyebut, selama ini pemimpin yang muncul hanya mengakomodir kelompok-kelompok tertentu. Akibatnya rezim kepemimpinan tidak berjalan sesuai kehendak rakyat Indonesia.

“20 tahun yang dilakukan rezim hanya merusak apa yang dicita-citakan pendiri bangsa. Untung untuk dirinya, rugi masyarakat, bangsa dan negara,” jelasnya saat menjadi pembicara dalam dialog Refleksi 20 Tahun Reformasi, Memaknai Kembali Pancasila dan UUD 45 dalam Menghadapi Indonesia Darurat Korupsi, yang digelar di Ralana Resto, Surakarta, Sabtu, (09/06/2018) sore.

Lebih lanjut ia mengatakan jika yang dibangun selama reformasi adalah korupsi. Karena sistem yang ada memang menyediakan peluang untuk berkorupsi. Bahkan ia mencotohkan undang-undang yang seharusnya menjadi aturan penegak saja transaksional.

“Itulah kenapa orang baik tidak bisa masuk ke DPR, ke pemerintahan. Kenapa, karena semuanya transaksional. Memang pada dasarnya manusia punya nafsu hitam, seperti menyeleweng, mengambil yang bukan hak. Itu ada, tapi itu menjadi syukur di dalam 20 tahun terakhir,” tandasnya.

Hal itu, menurut Ratna dikarenakan Undang-Undang Dasar (UUD) yang menjadi dasar semua aturan audah dirubah dengan adanya amandemen yang dilakukan karena niat asing masuk ke konstitusi dan mengobrak-abrik negara. “Karena itu tidak heran kalau ada orang bodoh bisa jadi presiden. Sebab sistem politik kita yang jelek, di Indonesia itu sistemnya. Saya tidak yakin kalau nanti ganti presiden baru apakah akan lebih baik, jangan-jangan sama saja. Karena sistemnya masih sama saja,” ujarnya.

Baca Juga:  Inilah Manfaat Pijat yang Harus Kamu Tahu

Sementara Rocky Gerung mengatakan kegagalan reformasi semata lebih dikarenakan kurang totalitasnya para penggerak kala itu. Ia menegaskan jika seharusnya gerakan rakyat pada 20 tahun silam bukan dinamakan reformasi, tapi revolusi.

“Ada yang ngomong reformasi gagal, ya memang. Tapi kita mesti hitung dimana gagalnya dan oleh apa. Saat kita mulai kita tahu keinginan kita untuk mengubah kualitas politik satu kali untuk selamanya. Karena itu diam-diam kita sponsori yang namanya revolusi tapi kata itu tidak mampu dimunculkan ke publik karena trauma kata itu yang identik dengan berdarah-darah. Makanya kita cari kata lain tetapi mental itu kita inginkan. Pakai kata reformasi yang daya dorongnya sangat lemah.”

“Oleh karena itu hari ini kita menyesali kenapa kita memilih kata reformasi yang menghasilkan kualitas kepemimpinan hari ini yang medioker yang tanggung yang setengah-setengah. Karena kita tidak pindah secara kualitatif dari satu paradigma ke paradigma baru yang hanya bisa berubah kalau pakai konsep revolusi,” ucap Rocky yang disambut tepuk tangan hadirin.

Karena itu ia mengajak masyarakat untuk total dalam melakukan perubahan di tahun 2019 jika tidak ingin mengulangi kembali apa yang terjadi selama 20 tahun terakhir. “Kalau masih takut pada risiko maksimal maka kita akan jatuh pada hal yang sama hanya karena takut pada perhitungan pragmatis,” ujar Rocky.

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Berita Populer