Connect with us

Politik

Puisi Fadli Zon Dituding Menghina Ulama, Putri Gus Dur: Banyak Warga NU Marah

JARRAK.ID

Published

on

Putri Almarhum Gus Dur, Yenny Wahid (Doc. Net)

JAKARTA – JARRAK.ID – Putri Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Yenny Wahid mengaku banyak warga Nahdlatul Ulama (NU) yang tidak suka dengan puisi berjudul ‘Doa yang Tertukar’ yang ditulis Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon.

Menurut Yenny, puisi Fadli dianggap menyinggung dan kurang menghormati Pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar, Rembang, Jawa Tengah, Kiai maimun Zubair.

“Banyak banget yang enggak terima warga NU, ulamanya dihina seperti itu,” kata Yenny saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, (06/02/2018).

Yenny meminta, jika memang Fadli bermaksud membela Prabowo Subianto bukan berarti harus merendahkan atau menghina ulama.

“Harusnya kalau bela pak Prabowo jangan menghina ulama dong, apalagi menghina ulama NU,” ujarnya.

Menurut Yenny, doa yang disampaikan Mba Moen beberapa waktu lalu saat acara di Pondok Pesantren Al Anwar, ditujukan kepada Presiden Joko Widodo. Memang, kata Yenny saat itu Mbah Moen salah menyebut nama. Tetapi yang dimaksud Mab Moen adalah Jokowi yang duduk di sampingnya.

“Kalau melihat dari struktur kalimat beliau, beliau itu memaksudkan orang yang disebelahnya, orang yang disebelahnya siapa? Pak Jokowi jelas,” tuturnya.

Yenny tak mempermasalahkan kesalahan mengucapkan nama oleh Mbah Moen dimanfaatkan oleh kubu Prabowo-Sandi demi kepentingan pemilihan presiden (Pilpres) 2019. Namun, bagi Yenny ketika memanfaatkan kesalahan tersebut jangan menyalahi etika terhadap ulama. Apalagi ulama sepuh seperti Mbah Moen yang kerap disebut tokoh karismatik dan jadi panutan banyak orang.

“Kami pun hormat pada beliau. Saya kalau ketemu Mbah Moen kalau bisa cium tangan bolak-balik,” tandas Yenny.

Baca Juga:  Quick Count Final: Semua Jagoan Prabowo Keok di Tiga Provinsi di Pulau Jawa

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Berita Populer