Connect with us

Kolom

Politik dan Kita yang Gila Tagar

NOVAL

Published

on

Illustrasi (Doc. Net)

Politik acapkali menjadi suatu pembahasan yang digandrungi oleh sebagian besar publik kita dewasa ini, tak terkecuali. Ia begitu menarik untuk terus kita bincangkan karena sifatnya yang dinamis dan wataknya yang berubah-ubah. Politik adalah tema yang serasa paling afdhal untuk terus kita analisa tanpa jeda.

Kini, tema politik tidak hanya dimonopoli para politisi beserta para analisnya untuk memperbincangkannya, tetapi ia sudah menjadi tema tak terpisahkan dari setiap  perbincangan publik kita hingga ke tataran grass root. Hari ini, siapapun bebas ngomongin politik.

Semakin banyaknya publik kita menggandrungi tema-tema politik dalam setiap perbincangannya, bisa menjadi satu indikasi, bahwa kepedulian publik kita akan politik semakin tinggi. Tentu hal ini begitu membanggakan, di satu sisi. Tetapi di sisi yang lain, menjadi ironis ketika publik kita beramai-ramai memperbincangkan politik, padahal mereka buta politik.

Kebutaan mereka terhadap politik akan  mengakibatkan bencana politik. Di mana, politik hanya akan menjadi alat adu domba, sehingga konflik horizontal tak terelakkan. Gara-gara politik, ada banyak orang yang suka mencaci juga membenci. Hal ini tentu bertolak punggung dengan essensi politik itu sendiri. (pendapat ahli politik)

Politik kita, kini sudah tidak menyatukan, tetapi memporak-porandakan tatanan sosial kita yang tertib dan beradab. Keadaban dan keberadaban kita kini sudah dimangsa oleh kebiadaban politik kita. kelompok politik yang satu siap memangsa kelompok politik yang lain demi menyalurkan hasrat politik dan memuaskan syahwat politiknya.

Politik kita hari ini sudah mencapai pada kebiadaban yang akut. Nalar politik kita kini sudah tumpul karena kita mau dipermainkan oleh tagar (politik). Sebagaimana kita mafhum, bahwa keseharian kita disesaki oleh ingar-bingar dan cekcok antar tagar. Kita benar-benar dipermainkan oleh tagar. Betapa berkuasanya tagar dalam membentuk, men-setting, dan bahkan mempermainkan pola pikir dan pola sikap kita.

Baca Juga:  Gerindra: Dukung Jokowi, Ternyata TGB Ipar Luhut

Ia begitu leluasa memporak-porandakan dan mencabik-cabik tatanan sosial kita yang katanya humanis-religius ini. Sebut saja #2019GantiPresiden yang memicu lahirnya tagar-tagar yang lain, misalnya #Jokowi2Periode, #2019TetapJokowi, #2019TetapPancasila dan tagar-tagar lain yang menurut saya sama anarkisnya.

Tagar telah membuat nalar politik kita tidak waras. Ketidakwarasan ini yang pada akhirnya membuat wajah politik kita bagaikan hutan rimba. Di mana, kelompok yang satu bebas memangsa kelompok yang lain. Kelompok mayoritas bebas menerkam kelompok minoritas dan kelompok penguasa bebas mencabik-cabik kelompokyang lemah.

Di media sosial kita akan dengan mudah menemukan carok antar tagar, dan bahkan nyaris tanpa jeda dan genjetan senjata sedetik pun. Gara-gara tagar orang mudah tersinggung, mudah curiga, mudah marah, dan mudah menuduh yang lain kafir, sedangkan yang lain makar. Gara-gara tagar bangsa ini sudah mulai kehilangan akal budi dan hati nuraninya.

Dan harus diakui, tagar telah melumpuhkan nalar kritis kita. Kita tidak akan berani atau minimal enggan mengkritisi ketidakbenaran, dan bahkan kabatilan, jika kebetulan penyembah tagar yang sama. Misalnya, sama-sama penyembah #2019GantiPresiden atau penyembah #Jokowi2Periode. Sehingga tidak berlebihan jika saya mengatakan, kita sedang dibuat gila oleh tagar.

Kegilaan kita pada tagar sudah mencapai pada tingkat kegilaan yang akut. Sepertinya tidak ada hal yang lebih urgen dari kehidupan politik kita selain tagar. Buktinya, kita rela uring-uringan dengan teman karib gara-gara tagarnya tidak senada dan seirama.

Dan bahkan narasi kebenaran dijadikan banjakan untuk melegitimasi tagarnya masing-masing. Karena pada hakikatnya, tagar-tagar itu tidak sedang memperjuangkan kebenaran tetapi memperjuangkan kepentingannya masing-masing. Ketahuilah! kebenaran itu tidak diperebutkan, tetapi diperjuangkan.

Tagar-tagar itu telah mengaburkan kebenaran di mata orang-orang awam seperti kita. Sehingga jamak sebagian banyak dari kita mudah terlena dan tertipu oleh kebenaran-kebenaran yang diperdagangkan, dan bahkan dilacurkannya. Sungguh, suatu kondisi yang benar-benar miris.

Baca Juga:  Mengejutkan! Mahfud MD Blak-Blakan Soal Jokowi Tak Berdaya Ditekan Partai Koalisi

Kemirisan itu lahir karena anarkisme yang acapkali dipertontonkan oleh masing-masing pemuja tagar, baik #2019GantiPresiden, maupun #Jokowi2Periode. Mereka sama-sama bahlulnya di mata saya, karena mencampur adukkan antara tagar dan kebenaran. Padahal kebenaran itu jelas, sedangkan tagar itu tidak waras.

Aktivitas tagar-tagaran itu adalah aktivitas yang bukan saja mubadzir bagi saya, melainkan merupakan ketidakwarasan alias kegilaan. Terakhir saya ingatkan para pejuang tagar, Anda itu sebenarnya tidak  sedang memperjuangkan kebenaran, melainkan memperjuangkan kegilaan. Jadi berhentilah teriak-teriak tagar, jika tidak, Anda akan saya teriaki makar.

Koordinator Forum Libertarian Sumenep dan Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Sumenep

Berita Populer