Connect with us

Kolom

Pijar Harmoni di Hari Besar Idul Fitri

I PUTU SUDIARTANA

Published

on

Illustrasi (Doc. Net)

Hari ini adalah momentum besar umat Muslim Dunia, Idul Fitri. Hari besar dengan segala aneka suguhan spiritual dan sosial telah melambangkan keadaban sejak dulu. Idul Fitri adalah sebentuk festival ruhani dan sosial yang selalu menenangkan jiwa peradaban bangsa kita, sejak lama.

Hari istimewa ini tidaklah eksklusif hanya untuk kalangan Muslim. Meski, secara harfiah, Idul Fitri bermakna kembali suci – sebagaimana fitrah manusia. Idul Fitri adalah paripurna prosesi ujian Muslim dari puasa sejak sebulan lamanya. Karena itu, Idul Fitri seringkali dimaknai sebagai “hari kemenangan”.

Idul Fitri telah mengkristal menjadi kultur bangsa yang unique: ia tidak hanya memperagakan dinamika spiritual sebagai akhir dari ibadah Ramadhan Muslim, tetapi lebih jauh, Idul Fitri justru juga menjadi media kohesivitas sosial dan kerekatan antar sesama.

Idul Fitri, karena itu, adalah refleksi. Peristiwa ini bukan hanya kalaedoskop yang selalu berulang tiap tahun tanpa makna. Sebagai refleksi, Idul Fitri selalu menyuguhkan pelbagai ritme kesetaraan dan keakraban.

Hari besar Muslim ini telah juga menjadi hari besar peradaban Indonesia. Melalui Idul Fitri, realitas kemajemukan ditafsiri dengan langgam keberadaban dan kesantunan.

Secara spiritual, Idul Fitri bermakna momen kemenangan setiap Muslim setelah sebulan penuh menahan lapar, dahaga, nafsu angkara. Pada saat yang sama, ia juga telah menjadi ‘kaca benggala’: kesetaraan dan emosi kemanusiaan harus terus dimunculkan di tengah gejolak perang ‘urat saraf’. Si Miskin harus mendapatkan perlakuan setara; si kaya mesti berlapangdada.

Idul Fitri telah membaur menjadi diskursus publik. Setiap Muslim merayakannya, non-Muslim juga andil ikut bahagia. Keadaban semacam ini menjadi harta berharga di tengah realitas sosio-kultural masyarakat yang heterogen, multikultur, dan majemuk. Momentum keadaban ini kemudian menjadi siklus penuh makna yang diraskan setiap warga – termasuk non-muslim – untuk terus menghidupkan pijar-pijar persaudaraan.

Baca Juga:  Menelisik Peluang Partai Golkar 2019

Pada Idul Fitri, secara simbolik, semua orang mulai mengakui salah dan hendak memohon maaf kepada Tuhan dan sesama. Pengakuan terhadap ‘dosa’ adalah bentuk introspeksi dan penyerahan. Pada konteks ini, saling klaim benar (trust claim) sedikit demi sedikit mulai memudar luruh. Lalu, setiap orang saling meminta maaf atas perilaku sosial yang keliru. Peristiwa ini sangat berharga bagi keutuhan gotong-royong masyarakat di Indonesia.

Karena itu, sebenarnya, Idul Fitri bukan sebagai ‘properti’ hak milik khusus untuk penganut Islam. Kegembiraan dan panji kemenangan juga dirasakan setiap pemeluk agama lain. Idul Fitri, secara substansial, tidak hanya dirayakan oleh kalangan santri, kiai, ulama, dan kaum muslim lain. Semua warga negara turut bergembira menyambutnya. Inilah kohesivitas sosial yang terbangun melalui perayaan hari besar Idul Fitri. Semua orang, dari ras, suku, dan agama apapun, saling bermaaf-maafan.

Pada momen hari besar itu, cita-cita masyarakat hidup rukun tampak terealisasi. Semua orang saling memuji dan mempercayai. Semua kelompok mulai terpekur merenungi kemajemukan yang adalah berkah ini. Pertikaian tak lagi berarti, sebab fitrah setiap orang adalah suci, fitri.

Idul Fitri adalah momentum besar bagi semua orang untuk kembali merajut harmoni. Pikiran picik dan dengki diblokade, welas asih dan cinta terus bersemi.

Bagaimanapun, keadaban di negara multikultural harus dibangun melalui sikap welas asih dan saling percaya (interpersonal trust) antar sesama. Tanpa itu, keberagaman hanya akan menjadi monumen tak berguna. Karenanya, Idul Fitri menjadi ritual ampuh untuk merefleksikan imajinasi keadaban kita melalui penghormatan dan keakraban terhadap sesama.

Idul Fitri telah merapatkan silaturahmi setiap warga yang mulai regang. Di sinilah, Idul Fitri terus menjadi karnaval spiritual dan sosial yang terus menerus dihidupkan tidak hanya oleh kalangan Muslim, tetapi seluruh masyarakat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Baca Juga:  Padang Diguncang Gempa 5,5 SR, 1 Orang Meninggal dan 2 Luka

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H. Mohon maaf dari salah, baik lahir maupun batin.

*) Kolom ini diambil dan diketik ulang dari catatan tangan I Putu Sudiartana.

Berita Populer