Connect with us

Kolom

Pesan Perlawanan dalam Sebuah Billboard

JUMA D. PUTRA

Published

on

Illustrasi/Net

Catatan Singkat Three Billboards Outside Ebbing

Di sebuah kota bernama Ebbing, terjadi kasus pemerkosaan terhadap seorang putri remaja. Korban ditemukan dalam keadaan mati terbunuh. Peristiwa itu telah terjadi 6 bulan lalu, sementara pemerkosa dan pembunuh, masih berkeliaran di luar sana. Enam bulan bukan waktu yang sebentar, sementara manusia selalu punya potensi lupa dan abai.

Dalam menghadapi sebuah peristiwa, manusia memang punya reaksi yang beragam; mulai yang dari cuek, abai, melupakan dan memaafkannya. Tetapi, membiarkan kejahatan meraja lela dan membiarkan pelaku kejahatan terus berkeliaran, berarti membiarkan kejahatan serupa terjadi kembali.

Mildred, sosok ibu yang kehilangan putri remajanya tahu betul bagaimana ia berjuang sendirian untuk mencari keadilan hukum. Ia tak pernah tahu, mengapa kejahatan yang menimpa anaknya tak kunjung menemukan titik cerah pelakunya. Mengapa pembunuh dan pemerkosa anaknya masih berkeliaran.

Semua tanya terus menghantuinya setiap waktu. Ia tak tahu mesti berjuang lewat apa. Ia tak mengerti bagaimana menyuarakan kepedihan hatinya atas kehilangan anaknya. Ia pun tak tahu kenapa polisi belum bisa menangkap pelaku kejahatan itu.

Saat itulah, ia merasa keadilan memang tak selalu menang dalam memerangi kejahatan. Ia menemukan papan reklame kosong. Dirinya tersadar, harus melakukan sesuatu. Mildred pun pergi ke toko iklan, memasang iklan berukuran besar. Tiga papan reklame dengan tulisan; “Bagaimana bisa, Kapol Willoughby?”, “Pelaku masih belum ditangkap.”, dan “diperkosa saat sekarat.”

Pesan papan reklame adalah suara kekecewaan seorang ibu yang kehilangan anaknya. Seorang ibu yang mencari keadilan agar ditegakkan secara merata. Bukan hanya pada mereka yang punya kuasa dan punya uang. Setidaknya, itulah gambaran film Three Billboards Outside Ebbing. Seorang perempuan paruh baya yang berjuang mencari keadilan kala menemukan anaknya diperkosa, dibunuh dan ditelantarkan tanpa mendapatkan keadilan.

Baca Juga:  Bisakah Menggugat Paslon Fiktif Nurhadi-Aldo?

Tiga papan reklame sengaja dipasang di tempat anaknya diperkosa dan ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa. Mildred berkelakar bahwa pemasangan papan reklame sengaja ditempatkan disana sebagai bentuk perlawanan dan sindirankeras agar polisi melirik kasus kejatahan yang menimpa anaknya.

Ya, Mildred seolah tahu, papan reklame di pinggir jalan dapat menarik perhatian khalayak ramai; pejalan kaki, pengendara motor dan mobil akan melihat tulisan atau gambar yang ada di papan reklame. Iklan di papan reklame pun berhasil memancing keriuhan kota dan masyarakatnya.

“Masyarakat yang punya kodrat lupa, kembali tersadar lewat sebuah papan reklame”

Masyarakat mulai tersadar akan borok kepolisian yang selalu abai dalam menuntaskan kejahatan yang menimpa masyarakat. Kebebalan polisi, kacau balaunya birokrasi dan abainya menegakkan keadilan bagi korban perkosaan. Polisi yang lamban, cendrung bertele-tele dengan janji-jani penegakan hukum.

Sementara, pihak kepolisian kebakaran jenggot memandangi papan reklame Mildred. Mereka merasa harga dirinya diinjak-injak sosok perempuan paruh baya. Merasa harga dirinya dijatuhkan, pihak kepolisian bereaksi mendatangi Mildred, memaksa menurunkan papan reklame dan berjanji akan mengurai pelaku kejahatan. Apa mau dikata, kekecewaan seorang ibu telah memuncak, ia sudah tak percaya pada polisi. Ia tetap mempertahankan papan reklame meski kepolisian mengancamnya.

Sosok Willoughby, kepala kepolisian dianggap orang paling penting yang harus menyelesaikan kasus hukum dan paling bertanggung jawab atas kejahatan yang terjadi di masyarakat. Secara khusus, Mildred menuntut Willoughby menemukan dan menangkap siapa sosok pemerkosa dan pembunuh anaknya.

Papan reklame itu sebagai bentuk perlawanan dan suara para pencari keadilan. Mildred sedang menyadarkan masyarakat betapa pentingya perlawanan dalam bentuk apa pun. Bahwa kejahatan bisa menimpa setiap anggota keluarga masing-masing dan mereka harus siap melawan dalam bentuk apa pun; baik dalam bentuk papan reklame atau protes secara langsung. Jika tidak, kepolisian akan terus mengumbar janji mengungkap kejahatan, sementara mereka tetap santai menikmati kopi dan rokok di kantornya.

Baca Juga:  Menanti Aturan Baru Kemenhub untuk Mengakhiri Polemik Transportasi Online

Keberanian menyewa papan reklame adalah bentuk meyakinkan masyarakat dan upaya menelanjangi kinerja kepolisian. Pihak kepolisian tidak bisa hanya mengobral janji tanpa menelusuri jejak pelaku kejahatan. Mildred hanya ingin bersuara bahwa polisi tidak benar-benar bekerja sebagaimana klaim mereka selama ini.

Papan reklame telah menjadi suara hatinya. Ia ingin bersuara lewat papan reklame. Ia merasa bahwa suara keadilan bagi masyarakat kecil telah sirna dari dunia kepolisian. Kepolisian lebih melirik kasus-kasus lain yang remeh-temeh dan problem rasial dari pada mengejar pembunuh atau menuntaskan kasus pemerkosaan anak dibawah umur.

Perlahan, ingatan saya terbawa pada papan reklame yang bertebaran di pusat kota, di pinggir jalan. Papan reklame memang selalu ampuh untuk menggerek perhatian masyarakat. Di tangan politisi, papan reklame berfungsi menyebarkan propaganda dan menarik simpati masyarakat.

Di tangan pengusaha, papan reklame digunakan untuk memperkenalkan produknya. Apakah itu efektif? Bukan soal efektif atau tidak efektif, tetapi papan reklame digunakan untuk menaikkan popularitas dan usaha manusia untuk mendekatkan diri dengan masyarakat. Asal pesan terbaca, itu sudah cukup bagi mereka.

Bukankah kita sudah begitu familiar melihat iklan dan papan reklame bertebaran di jalan raya. Senyum para politisi mewarnai jalanan kota. Sesekali, masyarakat kecil atau para pencari keadilan memang perlu bersuara lewat papan reklame atau billboard, agar jalanan kota tak sesak oleh iklan politik para politisi atau iklan produk kecantikan

Esais. Selain dosen di salah-satu Perguruan Tinggi, Ia juga sering menulis di media massa. Tulisan-tulisannya bisa juga dijumpai di beberapa buku.

Berita Populer