Perlu Ada Kepastian Hukum Dalam Pembangunan Ketahanan Keluarga

2 min read

Padang, Jarrak.id | Nevi Zuairina yang kini menjadi Legislator DPR RI asal Sumatera Barat, dilantik menjadi ketua pada kepengurusan Wilayah Aliansi Perempuan Peduli Indonesia (Alppind) Sumatera Barat priode 2020 -2024.

Pada acara pengukuhan kepengurusan Alppind Sumatera Barat ini, sekaligus diadakan seminar ketahanan keluarga yang dihadiri Guberburnur Sumatera Barat. Peserta yang hadir secara offline sekitar 70 orang dengan penerapan protokol kesehatan ketat dan juga di hadiri secara online sebanyak 391 orang.

“Untuk memberikan kepastian hukum dalam penyelenggaraan pembangunan ketahanan keluarga, perlu adanya pengaturan dalam bentuk Undang-Undang dan Peraturan Daerah.

Alhamdulillah Fraksi PKS menginisiasi dan mendorong disahkannya RUU Ketahanan Keluarga menjadi Undang-Undang,” tutur Nevi dalam siaran persnya, Minggu (27/9/2020).

Nevi mengharapkan, bahwa adanya aliansi perempuan peduli Indonesia ini, menjadi mitra pemerintah dan masyarakat untuk mewujudkan Perlindungan, pemajuan, penegakan dan pemenuhan hak asasi manusia. Namun yang menjadi lokomotif penegakan HAM ini mesti dipikul bebannya sebesar-besarnya oleh negara, terutama pemerintah.

Anggota DPR dari Fraksi PKS ini menekankan akan ancaman bangsa ini diawali dari rapuhnya institusi keluarga. Banyaknya kasus perceraian, narkoba, penyimpangan prilaku dan masih banyak lagi yang mesti menjadi kewaspadaan kita bersama. Dan yang paling miris adalah Perempuan dan anak banyak mengalami kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi.

“Keluarga adalah bagian yang tak terpisahkan dari sebuah proses pembentukan peradaban. Pembinaan Pribadi yang berkarakter, Pembentukan keluarga Yang kuat dan harmonis akan mewujudkan perbaikan lingkungan masyarakat secara mikro dan secara makro akan menjadi perbaikan negara secara keseluruhan,” jelasnya.

Nevi melanjutkan, dalam kondisi pandemi seperti ini, ada tantangan bangsa yang diawali dari keluarga. Dengan terbukanya teknologi komunikasi yang masuk ke rumah bahkan kamar anak-anak berupa gadget, akan membuka tantangan ideologi yang mengikuti arus media. Tantangan Sosial Budaya yang dimasa depan kemungkinan akan menyesuaikan secara drastis perubahan zaman.

Begitu juga masalah psikologis masyarakat yang cenderung berubah seiring perkembangan teknologi informasi dimana sosial media begitu dominan di masyarakat.

“Tantangan terberat pada masa pandemi ini adalah tantangan ekonomi. Sebelum adanya pandemi saja masyarakat miskin Indonesia masih menjadi persoalan akut. Dengan bayang-bayang persoalan kesehatan, kini jurang resesi yang sudah di umumkan menteri keuangan merupakan tantangan ekonomi terberat hingga 2 tahun kedepan,” tutup Nevi. (wok)

Editor: GR