Connect with us

Kolom

Paugeran Konsep Pendidikan

Published

on

Menarik bila meneroka lebih dalam dan komprehensif konsep paugeran yang diamsalkan Cak Nun dalam Kolom Wedang Uwuh berjudul Negeri Paugeran (30 Maret 2018). Ilustrasi paugeran dalam tulisan Cak Nun menyiratkan bentangan luas, cair, sekaligus subtil. Menurutnya, paugeran bukan sesuatu yang padat dan bisa digenggam. Keberadannya seperti uraikan:

“Kalau engkau burung, paugeran adalah angkasa luas dengan udara segar. Kalau engkau ikan, paugeran adalah lautan yang dalam. Kalau engkau ayam, paugeran adalah kebun permai ‘loh jinawi’. Kalau engkau bukan burung, begitu masuk Yogya, engkau akan mau tak mau jadi burung. Siapa pun, dari mana pun, berke-diri-an apapun, begitu bersemayam di Yogya, akan belajar menjadi burung, ayam atau ikan.”

Universalitas paugeran sebagai nilai bisa ditarik ke dalam ranah pendidikan. Simplifikasi demikian bukan tanpa dasar. Jika mengingat Yogya, jamak orang kembali pada situasi seabad lampau tatkala Ki Hadjar Dewantara mendirikan Tamansiswa berikut segenap konsep pendidikannya.

Menteri Pengajaran Republik Indonesia pertama itu telah menyusun kerangka acuan apa dan bagaimana seharusnya pendidikan dimanifestasikan ke dalam praktik pengajaran. Pelbagai tulisan mengenai pendidikan tersebar luas di media massa sejak tahun 1930-an. Ketersebaran gagasan tertulis itu, setidaknya, terangkum padat pada buku Pendidikan I dan II.

Membaca semesta pemikiran Ki Hadjar soal pendidikan, kita akan terbawa jagat intertekstual yang rumit dan penuh kontemplasi. Banyak narasi di sana yang mengimplikasikan bahwa Ki Hadjar sedikit-banyak terinspirasi dari konsep pendidikan ala Tagore dan Montessori. Keduanya memengaruhi dinamika intelektual Ki Hadjar—selain dipengaruhi pula oleh Fröbel, R. Steiner, dan E.J. Dalcroze.

Tagore, peraih hadiah Nobel pertama orang Asia itu, pernah bertatap muka dengan Ki Hadjar. Demikian pula Montessori yang berkebangsaan Italia itu. Pergulatan pemikiran di antara mereka akhirnya menyublim menjadi kematangan konsep pendidikan ala Ki Hadjar.

Pemilik nama asli Suwardi Suryaningrat itu pada gilirannya mengawinkan konsep pendidikan Tagore dan Montessori. Lahirlah pendidikan Tamansiswa.

Ki Hadjar mafhum betapa dimensi afeksi yang dibawa Tagore dan aspek kognisi yang dirumuskan Montessori perlu direkonstruksi. Perguruan Tamansiswa mengacu pada titik tengah itu. Ki Hadjar menginginkan suatu keseimbangan batin dan rasio yang menurutnya relevan diterapkan di Nusantara.

Sepanjang prosesnya, Ki Hadjar melakukan eksperimentasi empiris dengan membagi pendidikan menjadi empat lapisan: Taman Indria (TK), Taman Muda (SD), Taman Dewasa (SMP), Taman  Guru (SPG), Taman Karya (SMK), dan Taman Madya (SMA). Pembagian ini diakui Ki Hadjar sesuai perkembangan psikologi anak. Tanpa kejelasan dikotomis-hierarkis, pembelajaran akan menghadapi kesulitan teoretis dan praktis.

Terkubur Sejarah

Konsep pendidikan yang dirumuskan Ki Hadjar seakan-akan hidup segan mati pun enggan. Terutama kontinuasi pemikirannya ke dalam praktik pendidikan nasional sampai hari ini.

Potret Ki Hadjar hanya dilegitimasi secara simbolik, baik melalui moto sekolah maupun pahatan wajah. Padahal, sejumlah kerangka dasar pendidikan Ki Hadjar serupa paugeran pendidikan nasional yang pada permulaan Indonesia berdiri dianggap terobosan luar biasa bagi anak bangsa.

Salah satu orientasi pedagogik yang acap kali luput dipertahankan pendidikan nasional dewasa ini antara lain seputar penemuan dan pembinaan bakat. Peserta didik zaman ini masih terpaku pada bejibun paket mata pelajaran umum.

Sementara bakat, di satu sisi, hanya disubordinasikan melalui kegiatan ekstrakurikuler pascasekolah. Alih-alih bakat dijadikan substansi pembelajaran di kelas, proses belajar-mengajar cenderung artifisial dengan mengedepankan mata pelajaran umum sebagai acuan mayor.

Bukan berarti pelajaran umum dikatakan buruk atau tak memenuhi prakondisi pendidikan berbasis pencarian bakat siswa. Namun, dalam konteks ini, perlu dievaluasi kembali mengenai proporsi antara pelajaran umum dan pendidikan bakat. Bila bakat tak lagi dijadikan preferensi pertumbuhan peserta didik, nasibnya di hari depan akan tetap terkatung-katung—absen keterampikan partikukar karena tak dibina sejak dini.

Di era disrupsi yang menekankan kecakapan praktis sebagai bekal utama, bakat siswa menjadi penting guna bertahan di tengah persaingan ketat akibat Revolusi Industri 4.0.

Pada titik ini konsep pendidikan Ki Hadjar menjadi relevan untuk direvitalisasikan secara sungguh-sungguh. Tanpa kehendak serius, terutama peran pemerintah dan pamong (guru), peserta didik akan mengalami kegamangan akut. Di sini kita perlu mengingat paugeran pendidikan.

Advertisement

Populer