Connect with us

Daerah

Pasar Ganding Dituding Jadi ‘Sarang Tikus’, Begini Jawaban ‘Nakal’ Bupati Sumenep

HOLIDI

Published

on

Bupati Sumenep, A. Busyro Karim menggunting pita saat meresmikan Pasar Ganding dan enam pasar tradisional lainnya secara simbolis di Pasar Ganding, Sumenep, Rabu, 30 Januari 2019 (Doc. JARRAK)

SUMENEP – JARRAK.ID – Bupati Sumenep, Madura, Jawa Timur, A. Busyro Karim membantah bahwa renovasi Pasar Ganding yang baru saja selesai dikerjakan menjadi ‘sarang tikus’ atau praktik dugaan tindak pidana korupsi.

“Sekarang (Pasar Ganding, red) akan menjadi sarang uang dolar. Karena dulu memang banyak tikusnya, apalagi kera-kera enggak boleh,” kata Busyro saat dikonfirmasi Jarrak.id di sela-sela peresmian Pasar Ganding dan enam pasar tradisional lainnya yang dilakukan secara simbolis di Pasar Ganding, Sumenep, Rabu siang, (30/01/2019).

Busyro berharap, Pasar Ganding dan sejumlah pasar tradisional lain yang akan ia resmikan dapat bertransformasi menjadi pasar semi modern dalam aspek pelayanan dan ketersediaan barang.

“Saya berharap juga ada petugas keamanan yang bertanggung jawab terhadap keamanan. Selain itu pasar tradisional juga harus nyaman. Artinya pasar harus bersih dan rapi, sehingga pengunjung merasa nyaman saat berbelanja,” tegas Busyro.

Busyro juga enggan berkomentar soal dugaan tindak pidana korupsi dalam renovasi Pasar Pragaan tahun 2014 silam yang disinyalir merugian keuangan negara sebesar Rp675 juta.

“Kalau selama proses hukum, biarkan saja itu kewenangan penegah hukum,” kata mantan Ketua DPRD Sumenep tersebut.

Sebelumnya Laskar Pemuda Ganding (LPG) Sumenep mengaku memiliki beberapa bukti dugaan tindak pidana korupsi dan sejumlah penyelewengan lainnya selama renovasi Pasar Ganding dikerjakan.

Bahkan dalam selebaran yang dibagikan, LPG membeberkan tujuh persoalan yang terjadi selama renovasi Pasar Ganding dilakukan. Salah satunya soal tidak disediakannya lahan sementara bagi pedagang pasar yang mengakibatkan pihak ketiga menyewakan tempat sementara untuk berjualan dengan sewa antara Rp500 ribu sampai Rp 1,5 juta.

Selain itu, juga ada oknum yang sengaja membuat kios di dalam pasar yang juga ikut disewakan kepada pedagang dengan biaya sewa antara Rp1,2 juta sampai Rp10 juta.

“Kami memang mengantongi beberapa bukti soal dugaan tindak pidana korupsi selama renovasi Pasar Ganding dilakukan. Sehingga data-data yang kami input atau masukkan (dalam selebaran yang diberikan, red) juga disertai bukti-bukti yang kami simpan. Bukti itu berupa video dan rekaman,” kata Ketua Laskar Pemuda Ganding, Faisol saat dikonfirmasi Jarrak.idsoal selebaran yang diberikan saat peresmian tujuh pasar tradisional oleh Bupati Sumenep, A. Busyro Karim di Pasar Ganding, Rabu, (30/01/2019).

Advertisement

Populer