Pacitan Masih Sulit, Menuju Tatanan Normal Baru

2 min read

Pacitan,www.jarrak.id- Pelaksanaan tatanan kenormalan baru (new normal) ditengah wabah coronavirus disease (covid-19), disetiap daerah, diminta untuk kembali ditinjau ulang. Hal tersebut seperti disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi), saat berkunjung ke Semarang, Selasa (30/6) kemarin.

Pendekatan keilmuan dan epidemiologi terhadap kasus sebaran covid-19, mutlak diperlukan sebagai acuan pelaksanaan tatanan kehidupan normal baru, di masing-masing daerah. Terlebih daerah yang belum berstatus zona hijau, agar mencabut kembali kebijakan pelaksanaan tatanan kenormalan baru tersebut.

Juru bicara tim komunikasi publik gugus tugas percepatan penanganan covid-19 Pemkab Pacitan, Rachmad Dwiyanto mengatakan, saat ini Kabupaten Pacitan, diakuinya tengah merintis menuju tatanan kehidupan normal baru. Namun demikian, harapan tersebut sepertinya sulit terwujud, dalam kurun waktu dekat ini.

Mengingat, jumlah pasien covid-19 conform terus bertambah. “Kita tengah merintis menuju tatanan normal baru. Akan tetapi, saat ini Pacitan masih berstatus zona kuning. Sehingga belum bisa untuk melaksanakan tatanan kenormalan baru,” katanya, Rabu (1/7).

Menurut Rachmad, suatu daerah bisa melaksanakan tatanan kenormalan baru ketika daerah tersebut sudah ditetapkan sebagai zona hijau sebaran covid-19. “Sedangkan di Pacitan, kemungkinan pertambahan pasien covid-19 conform dalam tiga pekan kedepan, masih memungkinkan terjadi. Karena itulah, masih teramat sulit, untuk melaksanakan tatanan kenormalan baru tersebut,” jelas pria yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika ini.

Oleh sebab itu, berdasarkan kajian dari gugus tugas, seperti kawasan wisata untuk sementara masih tetap dilakukan karantina, sampai batas waktu yang belum bisa ditentukan.

Gugus tugas, lanjut Rachmad, membuat beberapa pemodelan, untuk bisa menentukan kawasan wisata itu bisa beroperasi kembali atau tidak. “Mulai dari presimulasi, simulasi, uji coba dan operasional. Itupun masih banyak syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh penyelenggara. Termasuk di dunia perdagangan, agar penyelenggara usaha pertokoan bisa melakukan tindakan tegas kepada calon pembeli yang tidak memakai masker, untuk tidak dilayani dan diminta pulang,” bebernya.

Rachmad menyadari, tingginya kasus covid-19 di Pacitan, berangkat dari rendahnya kesadaran masyarakat itu sendiri. Banyak dari mereka yang tak acuh dengan imbauan gugus tugas. “Banyak masyarakat kita yang bepergian keluar daerah, dimana daerah tersebut menjadi kawasan outbreak covid-19. Begitupun lalai tidak mengenakan masker saat melakukan interaksi sosial,” pungkasnya. (yun).