Connect with us

Politik

OTT KPK, Dahnil: Bukti Dinasti Politik Melebar

JARRAK.ID

Published

on

JAKARTA-JARRAK.ID– Kini publik telah mengetahui sebagian polah dari politisi Tanah Air. Kontestasi politik menjelang pilkada dan pilpres, selalu saja diwarnai dengan langkah yang merusak dan menciderai nilai demokrasi.

Hal ini terjadi saat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang tengah menjaring berbagai pejabat pemerintah, baik pusat atau daerah, dan terkungkung ke dalam Operasi Tangkap Tangan (0TT). KPK menilai, pejabat korup sebagai praktik nalar berjiwa politik rente.

Ketua Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak menyatakan, politik bernalar rente ini merupakan politik yang dibangun atas dasar watak dan sifat yang egoistik. Pasalnya, politisi saat ini cendrung lebih mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu daripada kepentingan umum.

“Politik itu adalah ruang altruisme, negeri kita kehilangan visi sejak awal, orang jadi PNS bukan ingin jadi pelayan publiK, tapi ingin banyak sabetan, orang jadi politisi bukan karena ingin membela kepentingan publik, tapi berburu rente,” kata Dahnil, saat Launching Buku Nalar Politik Rente, Gedung Pusat Muhammadiyah, Rabu (28/02/18).

Seharusnya, menurut Dahnil, cara-cara berpolitik seperti itu, harus menggunakan kepentingan umum sebagai wajah demokrasi, dan meninggalkan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu yang dapat merugikan masyarakat secara umum.
Secara tegas Dahnil menyatakan, nalar egoistik merupakan nalar ekonomi yang ditujukan untuk memperoleh serta mengantongi berbagai macam keuntungan.

Namun demikian, nalar ini digunakan oleh sebagian politisi demi mengejar keuntungan yang sebesar-besarnya, tanpa memandang keterpurukan orang lain.

Tentu saja, harapan terbesar bagi Dahnil yang juga terangkum dalam bukunya Nalar Politik Rente, sudah seharusnya para elite politisi berlomba dalam kebaikan dan tak membuat kesepakatan tentang strategi yang mencederai nilai demokrasi.

“Ada masalah dengan niat dan visi, politik kita diwarnai oleh politik rente,” sebut Dahnil.

Ternyata, bagi Dahnil, kekhawatiran akan politik rente juga berpotensi berpengaruh di wilayah politik dinasti. Lahirnya politik dinasti di berbagai daerah, dinilai oleh Dahnil, merupakan konsekuensi dari kompetisi yang tidak sehat dan curang.

Bagi Dahnil, politik dinasti hanya bisa diperankan oleh mereka-mereka yang mempunyai modal besar untuk meneruskan modalnya dan menanamkan modal itu ke dalam dunia politik praktis. Kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja terjadi dalam waktu dekat.

“Belakangan ini, jelang pemilu semua upaya dilakukan, ketika maju harus bayar mahar berapa, bohong kalau mereka enggak bayar. Pasar politik kita tidak memberikan ruang bagi mereka yang berkualitas tinggi,” jelas Dahnil.

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer