Connect with us

Politik

Ngabalin Jadi Komisaris AP I, Demokrat: Jokowi Rezim Bagi-bagi Kursi

JARRAK.ID

Published

on

Presiden Joko Widodo dan Ali Mochtar Ngabalin (Doc. Net)

JAKARTA – JARRAK.ID – Komisaris PT Angkasa Pura I kini dijabat Tenaga Ahli Kedeputian IV Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin. Ngabalin menggantikan Selby Nugraha Rahman, yang telah menjabat anggota Dewan Komisaris Angkasa Pura I sejak 25 Oktober 2015.

Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum DPP Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean menyindir pengangkatan itu.

“Pertama, saya harus mengucapkan selamat kepada Ali M Ngabalin atas terpilihnya sebagai Komisaris AP I. Selamat dapat tambahan penghasilan,” ungkap Ferdinand, Kamis (19/7/2018).

“Kedua, penunjukan ini membuktikan bahwa Jokowi memang bagi-bagi kursi kepada siapa saja yang membelanya,” tambahnya.

Menurut Ferdinand, Ali Ngabalin tidak punya kompetensi dan kapasitas menjabat Komisaris AP I. Bahkan, kata Ferdinand, Ali Ngabalin hanya ‘menang’ dekat dengan Presiden Jokowi sehingga mendapatkan jabatan itu.

“Satu-satunya menurut saya faktor dan alasan Ali jadi komisaris adalah kedekatan dengan Jokowi. Sementara saya meragukan dari sisi kapasitas dan kapabilitasnya di sektor ini,” ujarnya.

Namun begitu, Ferdinand tetap memberi ucapan selamat kepada Ngabalin. Di akhir katanya, dia menyindir Jokowi.

“Ini akan mendorong banyak orang yang ingin jabatan untuk memuji dan membela rezim ini mati-matian,” kata Ferdinand.

Dilansir detikcom, pengangkatan dan pemberhentian komisaris ini dilakukan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Nomor SK-210MBU/07/2018 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Anggota-Anggota Dewan Komisaris serta Penetapan Komisaris Independen PT Angkasa Pura I (Persero) tertanggal 19 Juli 2018.

Baca Juga:  Eks Gubernur Sumsel Alex Nordien Diperiksa Kejagung, Ini Kasus Korupsinya

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Berita Populer