Connect with us

Kolom

Menyongsong Pemilu Raya UM 2018, Pastikan Kandidat Tidak Terjangkit Paham Radikal

ALI BISRI MUNIRI

Published

on

Ilustrasi (Doc. Net)

Setelah Badan Intelijen Negara (BIN) mencatat ada sekitar tujuh perguruan tinggi negeri yang terpapar paham radikalisme dan 39 persen mahasiswa 15 provinsi tertarik dengan ajaran paham radikalisme. Pihak BIN enggan untuk mempublikasikan perguruan tinggi yang terjangkit paham tersebut, kita sebagai insan akademisi pada perguruan tinggi perlu untuk mengantisipasi sejak dini.

Buah radikalisme agama paling revolusioner, menurut cendekiawan muslim Azyumardi Azra, mulai berkembang ketika gerakan ini tak menemui tandingan pada ruang perguruan tinggi di saat apa yang disebut dengan “kelompok cipayung” lagi kurang kelihatan bertaji. Menurutnya, guna untuk mengimbangi atau bahkan untuk menangkal pemikiran paham islam transnasional, kelompok-kelompok mahasiswa nasionalis macam HMI, PMII, PMKRI, GMNI untuk lebih berperan aktif dalam mengisi ruang-ruang publik dalam kampus.

Meski bukan kali ini saja, pertarungan gerakan radikalisasi agama mencuat dalam pembahasan setiap elemen masyarakat baik dalam kampus maupun pada masyarakat biasa (luar kampus), nyatanya gerakan semacam itu semakin masif dan memuncak pasca-Soeharto 1998, gelombang demokrasi membangunkan elemen-elemen keagamaan setelah terkubur selama rezim otoriter Orde Baru.

Selain tawaran ideologis yang menjadi senjata utama gerakan semacam ini, penggunaan argumentasi yang ringan dan dekat dengan keseharian mereka pada kajian-kajian Alquran dan sunnah menjadi nilai yang belum terpikiran pada kelompok cipayung. Sehingga modal dalam menawarkan apa itu HMI, PMII, PKRI, GMNI dan lain sebagainya menjadi sedikit tidak mempuyai lahan subur yang cukup untuk berkembang biak. Pada pihak tersebut secara murni dan konsekuen menggunakan jargon sebagai pra-syarat untuk menuju Islam kaffah.

Pemilu Raya Universitas Negeri Malang (UM) kali ini akan diselenggarakan pada 29 November 2018, ajang pesta demokrasi tahunan dalam kampus dari tingkatan Jurusan, Fakultas hingga Universitas menjadi moment yang tak luput dari pembahasan mahasiswa UM khususnya, baik yang dari kader Organasisi Ekstra maupun kader Organisasi Intra.

Baca Juga:  Bandung Tanpa Embel-Embel (Catatan Ringan dari Debat Kandidat Walikota/Wakil Walikota Bandung 2018)

Ajang ini akan menjadi berharga ketika perhelatan semacam ini dijadikan sebuah ajang pembelajaran dari berbagai aspek, baik dalam mempertarungkan gagasan-gagasan sesama mahsiswa, program yang terus inovatif, serta pada aspek politik dalam hal mengusung calon beserta mengawal sampai hasil akhir, terlepas terpilih atau tidak.

Persaingan akan menjadi sehat dimana ketika asas-asas demokrasi selalu dikedepankan, pembahasan yang selalu mengedepankan gagasan dan pembelajaran akan mengantar kita pada apa yang tidak selalu praktis atau bahkan pragmatis. Dalam konteks politis ada beberapa hal yang memang taktis bukan praktis, misalnya dalam pengawalan isu-isu yang tersebar, hal semacam itu tidak perlu melakukan tindakan-tindakan diluar nalar, cukup dengan hal-hal yang taktis, pengambilan sikap atau bawa ke meja duduk bersama lalu dialogkan, sudah.

Dewasa ini sering kita terjebak dalam pembahasan-pembahasan yang merujuk pada hal praktis, terlihat pada penggarapan visi dan misi yang diusung, ketidakberagaman yang terlihat pada apa yang menjadi tawaran pada setiap calon, menjadi hal yang sangat sedikit mendapat sorotan akhir-akhir ini. Keringnya gagasan dan pemikiran yang jauh kedepan perlu menjadi perhatian khusus dalam menentukan pemimpin kedepannya. Sehingga, setidaknya kita dapat menangkal sejak dini bibit paham radikalisme melalui apa-apa yang menjadi tawaran dari para calon.

Jika kolomnis Hasanudin Abdurakhman mendefinisakan radikal sebagai orang yang dalam beragama menganggap pemeluk agama lain sebagai musuh atau ancaman bagi dirinya, dan ia menginginkan negara ini diatur berdasarkan ajaran agama dia secara utuh. Bagi penulis, lebih radikal lagi jika orang-orang dari pengusung calon atau bahkan calon itu sendiri dalam perhelatan Pemilu Raya 2018 kali ini tidak mengedepankan pembelajaran politik yang sehat bagi civitas akademika UM, baik gagasan ataupun yang lainnya, serta menganggap orang-orang yang bersebrangan sebagai musuh.

Baca Juga:  Ide ‘Nakal’ Rocky dan Kebenarannya

Selama pikiran semacam itu menjangkit otak para orang-orang pengusung calon atau calon itu sendiri, selama itu juga pertarungan gerakan dalam menanggulangi paham radikalisme tidak akan bisa menyenggol apalagi menggulingkan kalangan paham radikal ekstrimis.

Menurut Rektor Universitas Paramadina Profesor Firmanzah, memaparkan setidaknya ada empat instrumen sementara ini, dalam upaya solusi mencegah paham radikalisme dalam diskusi Persepektif Indonesia yang digelar Smart FM dan Populi Center, Jakarta.
Instrumen pertama ialah instruksi, maksud dari intrumen instruksi ini ada semacam komando dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tingkat Tinggi kepada rektor di perguruan tinggi, sehingga nantinya mengalir kelapisan paling bawah instruksi tersebut. Hal ini menjadi misteri bersama kita kepada Menriset Dikti, apakah instruksi semacam itu benar-benar ada nantinya. Patut kita tunggu bersama tereboson lainnya Menriset Dikti.

Kedua, ialah instrumen pemilihan dan pembenahan kurikulum kampus. Universitas Negeri Malang (UM) sebagai The Learning Universty akan menemukan kajian kurikulum yang bisa saja menjadi embrio kurikulum penangkalan paham radikalisme, alih-alih bisa dijadikan sebagai rujukan kurikulum nasional perguruan tinggi negeri, sesuai dengan misi kampus UM.

Instrumen ketiga adalah perlu adanya kegiatan-kegiatan di luar kelas yang bisa memperkuat persatuan dan kesatuan. Kegiatan ini bersifat lintas universitas dan didukung oleh pemerintah. Kegiatan semacam ini rupanya sudah ada beberapa yang terlaksana, seperti kegiatan Bela Negara yang melibatkan mahasiswa baru dan organ pemerintah lainnya, seperti TNI dan lain sebagainya.

Intstrumen keempat, ialah semacam strategi budaya, Indonesia. Kegiatan semacam ini perlu digalakkan lagi, optimalisasi tiap elemen kebudayaan sebagai modal awal untuk meningkatkan kearifan-kearifan lokal dengan tujuan menjunjung tinggi toleransi dan harmoni kebersamaan.

Patut kiranya kita sadari bersama, bahwa perhelatan pesta demokrasi kali ini Pemilu Raya UM 2018 menjadi pembelajaran awal untuk menyongsong Pemilu Umum 2019 nantinya. Tidak terprovokasi terhadap apa yang sedang dijadikan isu-isu miring. Selamat berkontestasi. Salam.

Baca Juga:  Menjadi Kaya, Menjadi Bahagia(?)

Berita Populer