Connect with us

Politik

Meskipun Banjir Protes, PSI Tak Akan Tarik Video Soal HAM era Soeharto

JARRAK.ID

Published

on

Foto Pengurus PSI (Doc. Net)

JAKARTA – JARRAK.ID – Ketua Tim Komunikasi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Andy Budiman menegaskan pihaknya tidak akan menarik video tentang pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang terjadi pada pemerintahan Presiden Soeharto.

Andy juga menegaskan PSI tidak akan minta maaf sekalipun video tersebut menuai banyak protes. Andy beralasan, video tersebut bagian dari edukasi politik yang menyehatkan bagi anak bangsa.

“Kami tidak merasa perlu meminta maaf dan menarik video tersebut,” Ketua Andy dalam keterangan tertulisnya, Minggu, (03/05/2018).

Video yang dipersoalkan adalah satu dari serangkaian video dengan hashtag #Mei98JanganLagi yang khusus diproduksi PSI untuk mengenang 20 Tahun Reformasi di bulan Mei. Sepanjang Mei 2018, PSI setiap hari mengunggah video 1 menit tentang berbagai praktek kotor di masa Orde Baru: pelanggaran HAM, Daerah Operasi Militer, penindasan umat Islam, penculikan aktivis, KKN, pemberangusan pers dan kebebasan berekspresi, BPPC, dan sebagainya.

“PSI tidak menyerang Pak Harto secara personal, melainkan praktek-praktek politik yang akhirnya membawa pada jatuhnya Pak Harto pada Mei 1998,” jelas Andy.

PSI sengaja mempublikasikan video tersebut agar anak bangsa tidak terjebak dalam pembangunan opini sesat, bahwa era Soeharto lebih baik dibandingkan pemerintahan pasca Reformasi.

“Upaya penyesatan opini ini harus dilawan. Karena itu PSI merasa bertanggungjawab untuk mengingatkan sekaligus menginformasikan tentang kejahatan-kejahatan Orde Baru,” imbuh Andy.

Protes Partai Berkarya

Sebelumnya diberitakan, Partai Berkarya mengkritik PSI terkait video tentang Presiden ke-2 RI Soeharto. Menurut Sekjen Berkarya Priyo Budi Santoso, video PSI kelewat batas. Priyo meminta PSI bersaing secara sehat.

“Saya telah melihat video tersebut, saya terperanjat dalam situasi seperti ini, ada sekelompok orang yang secara terbuka bangga dengan simbol partainya, melakukan kampanye hitam, tendensius. Menghancurkan dan merusak nama baik Pak Harto, keluarga, termasuk diri pribadi ketua umum kami, yaitu Tommy Soeharto, dengan cara-cara yang tidak baik, provokatif, sombong,” ujar Priyo di Ballroom Gedung Granadi, Kuningan, Jakarta, Sabtu, (02/06/2018).

Baca Juga:  Andi Arief Beberkan Kronologi Dugaan Mahar Rp 500 M dari Sandiaga untuk 'Beli' PKS dan PAN

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Berita Populer