Connect with us

Kolom

Merdeka dari Korupsi

Butuh berabad-abad kemerdekaan ini kita raih. Tak terhitung seberapa banyak nyawa dikorbankan demi mencicipi manisnya kemerdekaan. Bagi para pejuang kita, berkorban nyawa tidak menjadi soal, sebab kemerdekaan jauh lebih penting daripada seutas nyawa

NOVAL

Published

on

Gambar ilustrasi tentang Hari Kemerdekaan dan korupsi (Doc. Net)

Hari ini bangsa kita sedang bereuforia memperingati momen kemerdekaan Republik ini dari cengkraman kolonial Belanda dan pendudukan Jepang. Memang layak peringatan kemerdekaan ini dikemas dengan semeriah mungkin, mengingat betapa sulitnya kemerdekaan ini kita gapai. Tak semudah membalikkan telapak tangan. Karena merayakan kemerdekaan salah satu cara menikmati kemerdekaan.

Merayakan kemerdekaan memang layak diagungkan sebagai ungkapan terimakasih kita kepada para pejuang kita, dan sebagai ikhtiar mengingatkan serta mendidik generasi kita bahwa, ada kucuran darah para pejuang di balik pesta-fora kemerdekaan ini. Kita kabarkan kepada generasi kita, bahwa kemerdekaan ini diperjuangkan bukan gratisan. Supaya mereka tidak seenak dengkulnya menikmati kemerdekaan ini.

Butuh berabad-abad kemerdekaan ini kita raih. Tak terhitung seberapa banyak nyawa dikorbankan demi mencicipi manisnya kemerdekaan. Bagi para pejuang kita, berkorban nyawa tidak menjadi soal, sebab kemerdekaan jauh lebih penting daripada seutas nyawa. Mereka ingin mempersembahkan kemerdekaan ini untuk anak-cucunya. Supaya mereka dapat menikmati kekayaan alam dan keindahan panoramanya.

Membincang kemerdekaan, seketika menyeruak dalam ingatan apa yang pernah dipesankan Bung Karno, bahwa melawan penjajah dari bangsa sendiri jauh lebih sulit daripada melawan penjajah asing. Wejangan Bung Karno, dulu seakan isapan jempol belaka, tak lebih sekedar dongeng yang sulit terbukti kebenarannya. Tetapi kini, kebenarannya nampak di depan mata kita.

Penjajah dari bangsa sendiri, sebagaimana diwejangkan Bung Karno menjelma dalam berbagai macam wujud. Salah satu wujudnya adalah koruptor. Korupsi sungguh menjadi momok yang menakutkan, sekaligus menghawatirkan bagi keberlangsungan kemerdekaan ini. Ia siap merobohkan semua tatanan kehidupan bangsa ini.

Korupsi di Indonesia sudah berada dalam level yang menghawatirkan. Ia seumpama penyakit kronis yang setiap saat siap menghancurkan pengidapanya. Pada tahun 2005, menurut data Pacific Economic and Risk Consultancy, Indonesia menempati urutan pertama sebagai negara terkorup di Asia. Sungguh prestasi yang memilukan juga memalukan.

Dan tentu semakin ke sini, tindak pidana korupsi semakin merajalela menyusui setiap sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia sudah begitu kuat mencengkram detak nadi kehidupan kita. Terbukti, kasus tindakan pidana korupsi melimpah ruah, seumpama jamur di musim hujan.

Penguasa (legislatif, eksekutif, dan yudikatif) menjadi nominator yang sering terjerat dalam lingkaran setan bernama korupsi ini. Kekuasaan dan korupsi ibarat blangko pada surat, sulit dipisahkan. Tidak salah ketika Lord Action berfatwa dalam salah satu suratnya kepada uskup Mansell Creighton pada April 1887, bahwa kekuasaan membuat seseorang berbuat korupsi (power tenda to corrupt, and absolute power corrupts absolutely).

Kekuasaan yang pada hakikatnya adalah alat untuk memerdekakan bangsa ini dari penjajahan bangsa-bangsa asing, dulu, dan kini memerdekakannya dari ketidakadilan dan keserakahan, serta dari kesenjangan sosial dan ekonomi, tetapi malah dijadikan alat untuk menjajah bangsanya sendiri dengan cara korupsi.

Dengan modus mensejahterakan rakyat, uang rakyat beserta kekayaan alamnya mereka rampok secara berjamaah, sebagaimana kasus PT. WUS di Sumenep yang melibatkan Sitrul dan Taufadi, beserta bandit-bandit kelas kakap lainnya yang sampai hari ini belum tersentuh hukum.

Korupsi dan kekuasaan ibarat dua mata uang yang tak terpisahkan. Kenyataan ini bersambut gayung dengan Kwik Kian Gie (2007), di mana dia menyatakan bahwa, sangat sulit mencari birokrat yang tidak terjangkit korupsi dalam sejarah hidupnya. Mencari penguasa atau birokrat yng tidak korupsi itu sulit. Ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami.

Korupsi dilakukan secara jamaah. Jadi apakah mereka akan selamat dari jerat hukum KPK atau tidak bergantung pada nasib. Nyaris sama dengan arisan itu lah. Hanya menunggu lotre, ia akan segera ditangkap KPK dan digelandang ke balik jeruji besi.

Jika dilihat dari kenyataan sehari-hari, tindak pidana korupsi nyaris terjadi dalam segala lini kehidupan masyarakat kita, terutama yang berkaitan langsung dengan hajat orang banyak. Misalnya dalam pengurusan surat izin mendirikan bangunan, proyek pengadaan barang di instansi pemerintahan, gratifikasi dan penyalahgunaan wewenang (Memahami untuk Membasmi; Buku Panduan untuk Memahami Tindakan Pidana Korupsi:  2006)

Contoh paling kongkrit nya adalah kasus korupsi Hambalang yang melibatkan banyak politisi Partai Demokrat besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu. Juga kasus yang terjadi baru-baru ini, jual beli jabatan di Kemenag yang menjerat dan melibatkan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Romahurmuzy. Dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Bangsa ini, dalam arti yang sesungguhnya belum merdeka. Belum merdeka dari tindakan pidana korupsi. Bangsa ini telah terjangkiti korupsi akut. Lambat laun, tatanan bangsa ini akan menjadi kropos, dan kemudian hancur lebur. Hingga tak ada lagi yang tersisa.

Korupsi berdampak lebih buruk dari bom atom yang meluluh-lantakkan Hiroshima dan Nawasaki. Karena yang rusak dan hancur adalah fisik bukan hati dan psikologisnya. Buktinya, Jepang mampu kembali membangun kedua kota besar itu. Sedangkan Kerajaan Ottoman atau yang lebih akrab dengan sebutan Kekhalifahan Usmani menjadi hancur tak tersisa kecuali puing-puing bangunannya, diakibatkan korupsi.

Korupsi memiliki dampak yang kronis. Karens itu, perayaan kemerdekaan dengan hiruk-pikuknya harus dijadikan satu momentum untuk memerdekakan diri dari korupsi. Memerdekakan diri dari korupsi bisa dilakukan dengan cara mengawal setiap terjadi kasus tindak pidana korupsi yang terjadi, baik di tingkatan desa, daerah hingga pusat. Sambil teriakkan ke hadapan publik, bahwa korupsi membunuhmu. Karena diam bukan pilihan.

Koordinator Forum Libertarian Sumenep dan Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Sumenep

Advertisement

Populer