Connect with us

Daerah

Menpora Imam Nahrawi Segera Tersangka? Ini Kata KPK

JARRAK.ID

Published

on

Menpora, Imam Nahrawi (Doc. Net)

JAKARTA – JARRAK.ID – Juru Bicara KPK, Febri Diansyah menegaskan, pihaknya masih akan menunggu putusan majelis hakim terkait kasus dugaan suap dana hibah KONI untuk melihat dugaan keterlibatan Menpora, Imam Nahrawi.

Sebelumnya, dalam tuntutan terhadap Sekjen KONI, Ending Fuad Hamidy dan Bendahara Umum KONI, Johnny E Awuy, nama Menpora Imam Nahrawi diduga ikut terlibat dalam kasus dugaan suap hibah Kemenpora untuk KONI.

Menurut Febri, nanti putusan hakim akan dijadikan landasan oleh KPK untuk melakukan analisis, sepanjang memang ada alat bukti yang cukup, termasuk untuk menyeret Menpora Imam Nahrawi.

“Nanti kita tunggu pertimbangan Hakim terhadap fakta-fakta sidang dan tuntutan JPU tersebut dan juga putusan akhir kita tunggu itu dulu agar kemudian baru dilakukan analisis lebih lanjut kemungkinan pengembangan dalam sebuah perkara itu selalu ada sepanjang ada bukti yang mendukung hal tersebut ,” kata Febri saat dikonformasi, Sabtu, (11/05/2019).

Febri mengatakan, KPK akan teliti dan cermat dalam melihat setiap fakta persidangan yang terjadi, termasuk dugaan keterlibatan Menpora Imam Nahrawi.

“Jadi kita tunggu dulu untuk konteks kasus kemenpora ini kita tunggu nanti putusan pengadilan,” tegasnya.

Sebelumnya, dalam tuntutan dua pejabat KONI, Jaksa KPK menilai keterangan Imam dan staf pribadinya Miftahul Ulum, serta staf protokol Kemenpora Arief Susanto yang membantah adanya penerimaan uang harus dikesampingkan. Keterangan mereka dianggap tidak relevan dengan barang bukti dan keterangan saksi lainnya.

Menurut jaksa, adanya keterkaitan bukti dan keterangan saksi lainnya justru menununjukkan bukti hukum bahwa Imam, Ulum dan Arief melakukan permufakatan jahat.

Menurut jaksa, Hamidy dan Johny terbukti secara bersama-sama menyuap Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga Mulyana, pejabat pembuat komitmen (PPK) pada Kemenpora Adhi Purnomo dan staf Kemenpora Eko Triyanta. Hamidy dan Johny disebut memberikan 1 unit Toyota Fortuner hitam dan uang Rp 300 juta kepada Mulyana. Selain itu, Mulyana diberikan kartu ATM debit BNI dengan saldo Rp 100 juta. Kemudian, Johny dan Hamidy juga memberikan ponsel merek Samsung Galaxy Note 9 kepada Mulyana. Selain itu, Ending juga memberikan uang Rp 215 juta kepada Adhi Purnomo dan Eko Triyanta.

Baca Juga:  BMKG Pastikan Tsunami Selat Sunda Akibat Erupsi Gunung Krakatau

Diketahui, KONI mengajukan proposal bantuan dana hibah kepada Kemenpora dalam rangka pelaksanaan tugas pengawasan dan pendampingan program peningkatan prestasi olahraga nasional pada multi event 18th Asian Games 2018 dan 3rd Asian Para Games 2018. Kemudian, proposal dukungan KONI dalam rangka pengawasan dan pendampingan seleksi calon atlet dan pelatih atlet berprestasi Tahun  2018.

Atas perbuatannya, Hamidy dinilai melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 jo Pasal 64 ayat 1 KUHP. Sementara Johny dinilai melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Berita Populer