Connect with us

Other

Mengenal Artidjo Alkotsar: Hakim Agung yang Garang Tangani Kasus Korupsi

JARRAK.ID

Published

on

Mantan Hakim Agung, Artidjo Alkotsar (Doc. Net)

JAKARTA – JARRAK.ID – Hakim Agung Artidjo Alkotsar sejak hari ini, Selasa, (22/05/2018) resmi pensiun. Usia Artidjo sudah memasuki usia 70 tahun yang merupakan batas maksimal untuk jabatan hakim agung sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Mahkamah Agung.

“Beliau sudah pensiun sejak hari. Kalau secara administrasi masih 1 Juni 2018,” kata Juru Bicara MA, Suhadi membenarkan tentang pensiunnya hakim agung yang dikenal sangat langka di republik ini, Selasa, (22/05/2018).

Hari ini menjadi hari terakhir dalam 18 tahun karir Artidjo di lembaga peradilan paling tertinggi di Indonesia. Kendati demikian, banyak sederet prestasi Artidjo selama berkiprah MA.

Galak Tangani Kasus Korupsi

Artidjo merupakan hakim agung yang ‘galak’ dalam menjatuhkan hukuman, terutama bagi para terdakwa tindak pidana korupsi. Kegalakan Artidjo sering dirasakan para pelau kejahatan korupsi ketika mengajukan Kasasi.

Bukannya mendapat hukuman yang lebih ringan, para koruptor tersebut justru mendapat hukuman yang lebih berat lewat ketukan palu Artidjo. Tak ayal, Artidjo menjadi petaka bagi para koruptor.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun Jarrak.id, setidaknya ada sebelas perkara korupsi, di tangan Artidjo hukumannya justru lebih berat dibandingkan vonis hakim pada pengadilan tingkat pertama atau kedua.

Pertama, Mantan Presiden PKS, Lutfi Hasan Ishaaq. Artidjo memperberat hukuman mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi Hasan Ishaaq dari 16 tahun menjadi 18 tahun penjara. Bahkan dalam putusan kasasinya, MA juga mencabut hak politik Luthfi untuk dipilih dalam jabatan publik.

Kedua, mantan Anggota DPR Fraksi Demokrat, Angelina Dondakh. Putusan Mahkamah Agung memperberat hukuman mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Partai Demokrat, Angelina Sondakh alias Angie, terkait kasus korupsi Kementerian Pendidikan Nasional serta Kementerian Pemuda dan Olahraga. Mantan Puteri Indonesia itu divonis 12 tahun penjara dan hukuman denda Rp 500 juta dari vonis sebelumnya 4 tahun 6 bulan.

Ketiga, mantan Ketua MK, Akil Mochtar. Pada Senin (23/2/2015), palu Artijo “galak” menolak kasasi Akil dan menguatkan putusan sebelumnya yang menghukum Akil dengan pidana seumur hidup. Penolakan kasasi Akil Mochtar oleh MA disampaikan Ketua Kamar Pidana MA Artidjo Alkostar.

Keempat, mantan Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah. Lagi-lagi tak ada yang lepas dari “galaknya” palu Artijo yang kali ini menolak pengajuan kasasi dari mantan Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah. Ratu Atut merupakan terdakwa kasus dugaan suap terhadap hakim konstitusi terkait penanganan sengketa Pilkada di MK. Hukuman pidana terhadap Ratu Atut kini diperberat dari empat tahun menjadi tujuh tahun penjara.

Kelima, mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum. Awalnya Anas divonis tujuh tahun penjara dalam kasus korupsi Hambalang. Dalam kasasi yang dipimpin Artidjo, hukuman anas justru diperberat dua kali lipat menjadi 14 tahun penjara.

Enam, Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan. Permohonan kasasi terdakwa kasus suap sengketa Pemilihan Kepala Daerah Lebak, Banten, Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan, ditolak Mahkamah Agung yang dipimpin Artidjo. Bukan hanya itu, upaya Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan untuk meringankan hukuman kandas, setelah permohonan kasasinya ditolak dan bahkan hukuman diperberat menjadi tujuh tahun.

Tujuh,  Mantan Gubernur Riau, Annas Maamun. Artidjo kembali memperberat hukuman mantan Gubernur Riau Annas Maamun dari enam tahun penjara menjadi tujuh tahun penjara serta membayar denda Rp200 juta atau hukumannya ditambah enam bulan kurungan setelah permohonan kasasinya ditolak.

Delapan, Eks pegawai pajak Tommy Hindratno dengan penjara 3 tahun 6 bulan atas kasus korupsi pajak PT Bhakti Investama Tbk (PT BHIT). Namun di tingkat kasasi, Mahkamah Agung memvonis Tommy 10 tahun penjara.

Sembilan, Kembali MA melalui “algojonya” Artidjo mengeluarkan putusan memperberat hukuman untuk koruptor. Kali ini putusan itu dikeluarkan untuk kasasi yang diajukan Aiptu Labora Sitorus, bintara polisi di Papua yang terlibat illegal logging dan penimbunan BBM.

Sepuluh, Mahkamah Agung (MA) kembali mengeluarkan putusan atas kasasi yang diajukan terdakwa perkara korupsi dan pencucian uang terkait pengadaaan alat simulator di Korlantas Polri, Irjen Pol Djoko Susilo. Vonis terhadap Jenderal Bintang dua tersebut telah berkekuatan hukum tetap atau inkracht.

Sebelas, Teranyar, palu Artidjo mengantarkan OC Kaligis harus hidup di penjara hingga usia 84 tahun. OC Kaligis terbukti menjadi otak penyuapan terhadap Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan, Tripeni dkk. Majelis kasasi yang terdiri atas Artidjo Alkostar, Abdul Latief dan Krisna Harahap pada 10 Agustus 2016 memperberat vonis terhadap OC Kaligis dari tujuh tahun penjara di tingkat banding menjadi 10 tahun penjara.

Lihai Mengadvokasi Sejumlah Kasus Hukum

Artidjo Alkostar adalah seorang hakim kenamaan di Indonesia. Pria bertitel Hakim Agung ini kerap mendapat sorotan atas keputusan dan pernyataan beda pendapatnya dalam banyak kasus besar. Saat ini Artidjo dipercaya menduduki posisi sebagai Ketua Muda Kamar Pidana Mahkamah Agung (MA) Indonesia sejak 2014.

Putra berdarah Madura ini lahir di Situbondo pada 22 Mei 1949. Hingga SMA, Artidjo mengenyam pendidikan di Asem Bagus, Situbondo. Setelah lulus pendidikan menengah atas, ia kemudian hijrah ke Yogyakarta untuk melanjutkan studinya.

Menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universtas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta adalah sebuah kebetulan bagi Artidjo. Berbekal ilmu eksakta ketika SMA dulu, Artidjo awalnya justru ingin masuk Fakultas Pertanian. Apa daya, kesempatan untuk mendaftar sudah ditutup. Artidjo lantas mendaftar Fakultas Hukum UII yang masih terdengar asing baginya. Tak disangka, ia rupanya betah mempelajari ilmu hukum.

Setelah berhasil menyandang gelar Sarjana Hukum dari UII pada 1976, Artidjo mantap menjadi dosen di almamaternya hingga saat ini. Ia mengisi mata kuliah Hukum Acara Pidana dan Etika Profesi, serta mata kuliah HAM untuk mahasiswa S2. Artidjo melakukan rutinitas mengajar setiap hari Sabtu sejak pagi hingga malam dan kembali ke Jakarta pada Senin pagi.

Selain aktif sebagai dosen, Artidjo juga pernah bergiat di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta. Ia menduduki jabatan sebagai Wakil Direktur sejak 1981 hingga 1983. Setelahnya, ia pun diangkat menjadi orang nomor satu di LBH Yogyakarta sampai dengan 1989.

Antara tahun 1989 dan 1991, Artidjo berangkat ke New York mengikuti pelatihan untuk pengacara mengenai HAM. Ia mengikuti bimbingan di Columbia University selama enam bulan. Berbarengan dengan itu, selama dua tahun Artidjo juga bekerja di Human Right Watch divisi Asia di New York.

Selepas itu, Artidjo pulang ke Indonesia dan mendirikan kantor hukum bernama Artidjo Alkostar and Associates. Bertahan hingga tahun 2000, ia pun harus menutup firma hukumnya. Pada tahun itu pula, ia ditunjuk oleh Menteri Kehakiman dan HAM Yusril Ihza Mahendra untuk menjadi Hakim Agung (MA) hingga saat ini.

Selama menggeluti dunia advokasi, penyandang gelar LL.M di bidang hukum internasional tentang HAM dari North Western University, Chicago ini telah terbiasa dengan ancaman. Ketika menjadi pembela kasus Santa Cruz di Dili pada 1992, ia pernah diintai oleh intel hingga diancam supir taksi. Tak hanya itu, sewaktu membela korban penembakan misterius muncul kabar bahwa ada tim yang sudah mengincar Artidjo. Ia akan ditembak ketika kembali ke Yogyakarta.

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Advertisement

Populer