Connect with us

Kolom

Menelisik Peluang Partai Golkar 2019

ASIP IRAMA

Published

on

Illustrasi/Net

Partai Golkar memang selalu menunjukkan fase konfliktual, terutama di pijakan internal. Tetapi, Partai Golkar adalah sebentuk fenomena kelembagaan politik di Tanah Air yang mewedarkan dinamika unik tersendiri. Bagaimanapun, Partai Golkar menempati posisi strategis dalam Pemilu 2019.

Temuan survei LSI beberapa waktu lalu menunjukkan gerak dinamis itu: Partai Golkar menempati posisi kedua dengan elektabilitas 15,30 persen, di bawah PDI Perjuangan dengan 21,70 persen dan di atas Gerindra dengan elektabilitas 14,70 persen. Diprediksi, ketiga partai ini yang potensial menyabet nomor satu pada Pemilu 2019.

Keseimbangan internal mulai terbentuk pasca ketua umunya, Airlangga Hartarto, mengumumkan struktur kepengurusan pada 22 Januari kemarin. Partai Beringin ini sempat mengalami turbulensi karena kasus hukum yang menimpa Setya Novanto. Tetapi toh, kepercayaan publik pada Partai Golkar terus stabil dan meningkat.

Polarisasi kekuatan elit Partai Golkar hari ini tampak linier. Airlangga Hartarto berhasil memadupadankan politik faksi yang terbentuk sejak rekonsiliasi Partai Golkar yang berujung keterpilihan Novanto. Artinya, Golkar hari ini bisa mengakomodasi semua barisan faksi untuk menggesitkan roda partai menuju 2019.

Partai Golkar selalu menunjukkan skema yang bukan figure sentris dalam entitas kelembagaannya. Diskursus publik selalu dimaknai sebagai selancar potensial untuk menghipnosis nilai elektoral. Buktinya, elektabilitas PDIP dan Partai Gerindra terbangun melalui asosiasi figur Jokowi dan Prabowo, tetapi Partai Golkar justru bergerak di luar itu.

Golkar dinilai memiliki elektabilitas yang cukup besar karena tawaran programnya disukai pemilih. Dalam survei LSI, elektoral Partai golkar meningkat karena, antara lain: pemilih menyukai program sembako murah sebanyak 87,5%, pemilih menyukai program lapangan kerja (84,4%). Kemudian, pemilih menyukai program rumah harga terjangkau dan mudah akses (82,4%), pemilih menyukai program teknologi tinggi untuk keadilan dan kesejahteraan (76,9%).

Meski begitu, stabilitas internal menjadi hal krusial yang mesti selalu dirawat oleh Partai Golkar. Golkar adalah tipe partai modern yang sangat ramah mewadahi anggota dengan beragam latarbelakang dan aliran faksional. Untuk soal ini, Partai Golkar berhasil mengelola managemen konflik dan segera mewedarkan konsensus internalnya. Semua dilakukan nyaris begitu cepat.

Airlangga Hartarto memiliki peluang besar untuk memantapkan Partai Golkar di Pemilu 2019. Peluang ini, nyatanya, telah dimanfaatkan Golkar sejak kali pertama menyatakan dukungan politiknya kepada Joko Widodo, bahkan mendahului partai pengusungnya, PDI Perjuangan. Pelaung Golkar berada di barisan koalisi pemerintah –bahkan ini seperti watak politik Golkar– sebenarnya memiliki efek positif pada mereka.

All out Partai Golkar untuk memenangkan Jokowi pada Pilpres 2019 diprediksi akan menguntungkan Jokowi secara elektoral. Tetapi, diakomodasinya dua menteri di Kabinet Kerja Jokowi dari kader Golkar juga mewedarkan keakraban yang sama. Lagi pula, banyak yang menilai, Pilpres 2019 hanya akan mempertaruhkan ‘singgasana’ antara incombent Joko Widodo dan penantang lamanya, Prabowo Subianto. Pilpres 2019 diprediksi hanya rematch dari Pilpres 2014.

Peluang figur ‘capres ketiga’ rasanya tidak mungkin, meski sebenarnya bisa. Tidak signifikan, tepatnya. Selain karena minimnya figur yang memiliki peluang elektoral menandingi Jokowi dan Prabowo, benturan presidential treshold juga menjadi aral munculnya figur penantang.

Peluang Besar

Kalkulasi politik Partai Golkar sepertinya memang diracik begitu matang. Elektabilitas Partai Golkar yang bahkan berada di atas partai penantang justru menjadi magnet politik tersendiri. Apalagi, sistem pemilihan hari ini dilakukan secara senrentak (concurrent election). Pemilihan legislatif bersamaan dengan pilpres.

Berdasarkan skenario eletoral, Partai Golkar akan memiliki kontribusi banyak terhadap keterpilihan Jokowi di Pilpres 2019. Karena, seperti disebut Alfan Alfian, pemenang pilpres otomatis dapat dukungan mayoritas di parlemen sebagai dampak ikutan coattail effect  atau down-ballot effect partai-partai pendukungnya. Efek itu mencegah fenomena pemerintahan yang terbelah ketika presiden terpilih tapi tekor dukungan di parlemen.

Bahkan, dukungan politik Gokar kepada Jokowi bukan semata berdasarkan pada baliho dan flayer. Mesin partai berlambang beringin ini mulai terbangun kuat dengan akses pemilih yang loyal dan solid. Rata-rata, dukungan publik kepada Partai Golkar karena dilandaskan pada program yang pro-rakyat. Manuver politik Golkar kiranya menjadi ‘kunci’ tersendiri bagi kemenangan Jokowi.

Golkar memiliki memori kemenangan pemilu pada 2004 saat partainya dipimpin Akbar Tanjung. Kemenangan itu terutama karena linieritas faksi dan kontrol internal yang solid. Apalagi, sosok Ketua Umum Partai Golkar hari ini justru menampilkan figur yang bersih dan profesional. Bukan tidak mungkin kemenangan 2004 terulang di 2019.

Meski begitu, ada beberapa pekerjaan rumah yang mesti segera diselesaikan oleh Partai Golkar. Merawat optimisme kader partai untuk tetap loyal dan solid sangatlah penting. Hal ini untuk mengoptimalkan strategi politik Partai Golkar 2019.

Tak kelah penting, Golkar harus memantapkan suara pada kontestasi elektoral di daerah. Pengalaman pada Pilkada Serentak 2015 lalu menunjukkan bahwa Partai Golkar, selain dirundung konflik internal, belum melakukan kerja maksimal. Pada Pilkada 2015, dari 264 daerah, Golkar hanya mampu menang di kisaran 57 daerah.

Pada 2018, ada sekitar 171 daerah yang akan menggelar pilkada serentak. Di antara daerah-daerah yang berpilkada tersebut, terdapat banyak battlegrounds nasional, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, dan lain-lain. Karena itu, energi Golkar harus terus dipompa untuk menghadapi gejolak politik terus-menerus.

Koordinator Nasional Himpunan Aktivis Milenial Indonesia (HAM-I); Alumnus Fakultas Hukum Universitas Bung Karno Jakarta.

Advertisement

Populer