Connect with us

Politik

Media Inggris Bongkar Praktik Buzzer Ahok: Mengirim Propaganda Sampai Dibayar Rp4 Juta

JARRAK.ID

Published

on

Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam salah satu kegiatan kampanye di Pilkada DKI Jakarta 2017 silam (Doc. Net)

JAKARTA – JARRAK.ID – Isu adanya buzzer-buzzer di dunia maya dalam kontestasi politik Indonesia rupanya bukan isapan jempol belaka. Baru-baru ini media Inggris The Guardian membongkar praktik lancung para buzzer tersebut dalam melakukan politik pecah belah dengan memanfaatkan isu suku, Agama, ras dan golongan (SARA). The Guardian bahkan sempat memuat temuan tersebut dalam sebuah tulisan.

Media yang bermarkas di Inggris itu sempat melakukan wawancara kepada seorang buzzer yang punya keberpihakan politik kepada mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok. Buzzer yang mengaku bernama Alex itu menuturkan ada sekitar 20 orang buzzer dalam sebuah pasukan rahasia di dunia maya yang bertugas untuk menyebarkan pesan-pesan propaganda untuk mendukung Ahok meggunakan akun media sosial palsu. Saat itu menurut Alex Ahok tengah bertarung dengan Anies Baswedan dalam perebutan tahta gubernur DKI pada tahun 2017.

“Mereka mengatakan kepada kami bahwa Anda harus memiliki lima akun Facebook, lima akun Twitter dan satu Instagram,” katanya seperti dikutip dari The Guardian, Rabu, (25/07/2018).

“Dan mereka mengatakan kepada kami untuk merahasiakannya. Mereka mengatakan itu adalah ‘waktunya berperang’ dan kami harus menjaga medan perang dan tidak memberi tahu siapa pun tentang kami bekerja,” Lanjutnya.

“Ketika Anda sedang berperang, Anda menggunakan apa pun yang tersedia untuk menyerang lawan. Tetapi kadang-kadang saya merasa jijik dengan diri saya sendiri,” tuturnya.

Menurut penuturan Alex, ia dan teman-teman buzzernya itu saat Pilkada DKI 2017 lalu punya setidaknya tiga tugas penting. Diantaranya, Alex dan para buzzer rahasia itu harus melawan serangan isu anti Ahok. Selain itu, mereka juga diharuskan untuk menyerang balik kandidat lawan Ahok yang saat itu adalah Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Para buzzer tersebut juga ditugasi untuk melakukan propaganda terhadap koaisi kelompok Islam.

Baca Juga:  Panas! Muktamar XVII Pemuda Muhammadiyah Sempat Ribut, Ini Penyebabnya

Mendapat Upah Rp4 Juta

Soal bayaran? dalam tulisan The Guardian, Alex dan tim buzzernya mengaku dibayar Rp4 Juta. Para buzzer tersebut menurut Alex terdiri dari pendukung Ahok dan sebagaian adalah mahasiswa. Kuat dugaan mereka dalam menjalankan misi propagandanya itu bertempat di sebuah kawasan rumah mewah di sekitar daerah Menteng, Jakarta Pusat.

Tugas mereka cukup mudah untuk mendapat uang Rp4 Juta itu. Mereka, para buzzer tersebut hanya diminta untuk memposting cuitan atau status di Facebook kurang lebih sekitar 60 hingga 120 kali dalam sehari. Sebagai tim rahasia, tentu postingan mereka merupakan cuitan atau status yang dikirimkan dengan menggunakan akun palsu. Hal ini juga agar menyulitkan pelacakan.

Alek dan timnya yang terdiri dari 20 orang itu dalam melancarkan aksi propagandanya mengandalkan setidaknya 11 akun media sosial abal-abal per buzzer. Sehingga jika itu dikalikan jumlah buzzer 20 orang maka akan menghasilkan jumlah postingan yang fantastis untuk sebuah aksi propaganda dalam kontestasi politik. Alex mengaku setidaknya setap hari 2.400 cuitan propaganda dikirimkan ke linimasa publik di dunia maya.

Praktik lancung ini dikoordinasikan dalam sebuah grup percakapan Whatsapp yang menurut penuturan Alex diberi nama special force yang berarti pasukan khusus. Dalam grup ini setidaknya ada 80 orang anggota.

Soal profil akun media sosial mereka, menurut Alex para buzzer juga diminta untuk memberikan kesan seolah-olah akun mereka adalah akun asli. Sehingga foto profil yang mereka gunakan harus mengesankan jika akun media sosial tersebut bukan abal-abal.

“Mereka tidak ingin akun tersebut menjadi anonim sehingga mereka meminta kami untuk mengambil foto untuk profil tersebut, jadi kami mengambilnya dari Google, atau terkadang kami menggunakan gambar dari teman-teman kami, atau foto dari grup Facebook atau WhatsApp,” tutur Alex.

Baca Juga:  PDIP Tuding Aksi Buruh Dipolitisasi Buat Sudutkan Jokowi

“Mereka juga mendorong kami untuk menggunakan akun wanita cantik untuk menarik perhatian pada materi; banyak akun yang seperti itu,” sambungnya.

Tak hanya itu, kata Alex mereka bekerja dengan sebuah job description masing-masing. Setidaknya ada dua ruang dan dua tugas yang harus dilakukan para buzzer bayaran itu.

“Ruang pertama untuk konten positif, di mana mereka menyebarkan konten positif tentang Ahok. Ruang kedua adalah untuk konten negatif, menyebarkan konten negatif dan pidato kebencian tentang oposisi,” sebut Alex.

Meski pengikut akun abal-abal buzzer tersebut cukup sedikit, namun mereka menggunakan strategi hashtag. Pasalnya, dengan menggunakan permainan hashtag setiap hari, mereka secara artifisial akan dapat meningkatkan visibilitas di platform. Dengan memanipulasi Twitter, mereka memengaruhi pengguna dan media Indonesia, yang sering mengacu pada hashtag yang sedang tren sebagai barometer suasana nasional.

Ahok Tetap Keok

Sayang, nyatanya penggunaan buzzer-buzzer bayaran seperti Alex belum dapat memberikan kemenangan kepada Ahok. Ia kalah dan kini mendekam di penjara.

Ahok saat mengikuti persidangan (Doc. Net)

Salah seorang juru bicara Ahok, Ulil Yusron tak mau berkomentar soal tuduhan adanya buzzer-buzzer bayaran itu. Ia hanya mengatakan jika kampanye untuk Ahok sangat sulit.

“Penggunaan fitnah, kebencian dan tipuan (berita palsu) sangat besar,” katanya kepada The Guardian.

“Secara alami, tim membentengi diri dengan pasukan pendukung, termasuk di media sosial. Itu bukan sesuatu yang baru dalam politik,”tandasnya.

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Berita Populer