Connect with us

Kolom

Man in Prison (Menulis Sejarah dari Balik Jeruji)

Di luar persepsi sentimentil sebagian orang, penjara justru menyuguhkan seabrek peristiwa monumnetal. Dalam gerak perjuangan, penjara hadir bukan sebagai ‘konsekuensi moril pendosa’, tetapi justru sebagai perlawanan. Bahkan, ijtihad intelektual justru banyak lahir dari jeruji dingin penjara.

ALI BISRI MUNIRI

Published

on

Ilustrasi (Doc. Net)

Penjara memang menakutkan. Bagi sebagian orang, penjara laiknya tempat pengasingan yang sarat dengan derita, kesepian, penyesalan. dalam banyak perspektif, penjara tentu menjadi ‘momok’ paling mengesalkan dalam benak setiap orang. Karena itu, hampir banyak orang menyebut penjara sebagai ironi. Tak ada yang enak dari penjara!

Meski begitu, ada yang istimewa dari penjara. Di luar persepsi sentimentil sebagian orang, penjara justru menyuguhkan seabrek peristiwa monumnetal. Dalam gerak perjuangan, penjara hadir bukan sebagai ‘konsekuensi moril pendosa’, tetapi justru sebagai perlawanan. Bahkan, ijtihad intelektual justru banyak lahir dari jeruji dingin penjara.

Salah satunya, banyak lahir karya menyejarah berupa karangan dan buku dari balik penjara. Karena suasana tenang dengan nuansa kontemplatif, para pakar dan intelektual -bahkan pejuang- menelurkan gagasan imajinernya dari penjara. Sebut, misalnya, sastrawan cum budayawan paling dikenal, Pramoedya Ananta Toer.

Sebagai budayawan kondang yang namanya disebut berkali-kali dalam daftar kandidat pemenang Nobel Sastra, Pram menulis: “Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Gagasan ini justru terlihat dari laku kreatif Pram. Penjara tak membuatnya sejengkalpun berhenti menulis!

Memang, hampir separuh hidup Pram dihabiskan di balik jeruji besi -sebuah wajah semesta paling purba bagi manusia bermartabat. Pram berkali-kali mengenyam dingin jeruji: 3 tahun dalam penjara kolonial, 1 tahun pada Orde Lama, dan 14 tahun yang melelahkan pada masa otoriter Orde Baru di sejumlah titik berbeda (13 Oktober 1965-Juli1969, Pulau Nusa Kambangan dari Juli 1969-16 Agustus 1969, Pulau Buru dar Agustus 1969-12 November 1979, dan Banyumanis 1979).

Di penjara, Pram tak menyianyiakan ide perjuangannya. Bahkan, dari balik jeruji besi itulah lahir karya monumental yang hingga kini tetap menjadi referensi sastra perjuangan paling wahid di Indonesia. Dari penjara, Pram menulis banyak buku fenomenal, di antaranya Trilogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, dan Rumah Kaca).

Dalam kesunyatannya dalam penjara, Pram telah berhasil melahirkan 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Karena kiprahnya di sekual sastra dan kebudayaan -yang tentu sebagin besar ditulis dari penjara- Pram berhasil menyabet banyak penghargaan prestisius, baik dalam maupun luar negeri. Begitulah Pram, sosok yang harum namanya karena penjara.

Seabrek kisah menyejarah dari balik penjara tidak hanya dari Pram. Draft pledoi Soekarno yang kemudian diberi judul Indonesia Menggugat juga ditulis dari bilik penjara.  Buku itu kemudian ia bacakan di Gedung Landraad pemerintah Kolonial Belanda di Bandung. Buku Indonesia Menggugat menjadi salah satu poin historical dan naskah politik historis yang kelak melahirkan ide kemerdekaan Indonesia.

Selain itu, penjara juga telah mengekalkan nama pejuang Tan Malaka. Memori perjuangan Tan ia bukukan dari balik penjara saat masa Orde lama dio bawah kepemimpinan Soekarno. Tan dan Soekarno memiliki alur pergerakan yang nyaris berbeda. Pengasingan dan penjara telah menghidupkan nama Tan Malaka sebagai seorang martir nasionalisme. Semua itu termaktub dalam buku yang ditulisnya dari bilik penjara berjudul Dari Penjara ke Penjara.

Selain mereka, ada nama pemikir politik populer Antonio Gramsci. Waktu itu, ia dikenal banyak pihak sebagai pemikir Marxis paling pentingpada abad ke-20, khususnya sebagai pemikir kunci Marxisme Barat. Hebatnya, dari balik penjara, ia berhasil menulis lebih dari 30 buku beserta 3000 halaman sejarah dan analisis selama di penjara. Tulisan tersebut kemudian dikenal luas sebagai Buku Catatan Penjara, Prison Notebook. Buku itu menjadi referensi wajib diskursus politik hingga saat ini.

Demikian seabrek kisah monumental dari balik penjara. Penjara, karena itu, justru meluaskan sudut pandang. Penjara memang secara fisikal adalah kurungan pagar jeruji, tetapi dalam pemikiran justru tak terbatas. Singkatnya, penjara telah menghidupkan -dan bahkan mengharumkan- nama seseorang. Kenapa kita tidak?

Advertisement

Populer