Connect with us

Bisnis

Mahasiswa KKN UNIM Bangun Kerja Sama dengan Desa Jembul dan Eksportir Porang Jawa Timur

MUHAMMAD KAYYIS AR

Published

on

Kegiatan 'Sosialisasi Edukasi Ekspor dan Budidaya Porang secara Modern dan Profesional' yang dilaksanakan Mahasiswa KKN Universitas Islam Majapahit (UNIM) di Balai Desa Jembul, Jatirejo, Mojokerto, Senin, 19 Agustus 2019 (Doc. JARRAK)

MOJOKERTO – JARRAK.ID – Mahasiswa KKN Universitas Islam Majapahit (UNIM) memberikan Sosialisasi Edukasi Ekspor dan Budidaya Porang secara Modern dan Profesional kepada masyarakat di Balai Desa Jembul, Jatirejo, Mojokerto, Senin siang, (19/08/2019).

Dalam kegiatan tersebut Tim KKN UNIM menggandeng Ketua KEMI (Komunitas Eksportir Muda Indonesia) Kustanto serta Lukman Hakim selaku pegiat porang sekaligus salah satu pengusaha porang terbesar di Jawa Timur.

Usaha ekspor porang yang digeluti oleh Lukman Hakim ini sudah berjalan selama 15 tahun, dan memiliki anak cabang pabrik di Lombok, Sulawesi dan masih banyak lagi di luar Jawa.

Acara tersebut dihadiri oleh Kepala Bappeda Pemkab Mojokerto, Rektor UNIM Rachman Sidharta Arisandi, Ketua LP4MP Pipit Sari Puspitosari, Camat Jatirejo Amin Sun, Dinas Kehutanan Jawa Timur Eko Erwanto, perwakilan Perangkat Desa sekaligus Ketua LMDH Samsul Huda serta warga Desa Jembul.

Kegiatan sosialisasi ini dilakukan untuk mengembangkan budidaya Porang di Desa Jembul. Dengan proses tanam yang masih tergolong tradisional dan sederhana, tanpa adanya budidaya intensif yang berkala oleh petani di Desa Jembul.

Akibatya hasil panen yang diperoleh tidak bisa maksimal. Sedangkan kebutuhan pasar global porang membutuhkan banyak sekali pasokan porang. Indonesia sendiri hanya bisa menghasilkan 20% dari permintaan pasar. Pemasok terbesar selama ini berasal dari negara China dan Jepang.

Oleh karena itu, perlu dikembangkan budidaya porang untuk menghasilkan jumlah panen yang maksimal.

“Dengan harga basah glondongan porang hari ini sebesar 12.000-12.500 rupiah perkilonya, sudah cukup menggiurkan apalagi bila petani bisa memaksimalkan hasil panen dan bisa mengolahnya menjadi kripik, tepung dll., tentu nilai jualnya akan menjadi berkali-lipat sampai ratusan ribu perkilonya,” kata Lukman.

Masyarakat Desa Jembul merasa kesulitan untuk membudidayakan porang, dikarenakan saat musim kemarau benih porang yang sudah disemai tidak bisa tumbuh.

“Jadi, mereka hanya bisa panen setahun sekali pada sekitar bulan April,” tegas dia.

Kurangnya pemahaman masyarakat mengenai bagaimana proses budidaya porang yang benar turut menjadi kendala bagaimana proses budidaya yang dilakukan oleh masyarakat itu menjadi kurang maksimal.

Ketua KEMI Kustanto dan Lukman Hakim selaku pegiat dan pengusaha Porang melakukan bisnis matching dengan warga Jembul dalam budidaya porang.

“KEMI sangat mendorong upaya-upaya sinergis berbagai pihak dalam optimalisasi lahan potensial untuk dijadikan lahan produktif budidaya porang sebagai sumber perekonomian utama warga Desa Jembul dan sekitarnya Jangan khawatir jika menanam banyak tidak bisa jual, sudah didepan mata ada yang akan mau beli”, ujar Kustanto.

Ketua LP4MP, Pipit mengatakan bahwa UNIM sudah dari sebelumnya telah melakukan kontrak kerjasama dengan Desa Jembul dalam upaya penelitian pengembangan dan pengabdian masyarakat.

Melalui proses edukasi secara kontinyu dengan didukung sinergitas partisipasi aktif warga, ditargetkan Desa Jembul akan menjadi desa mandiri dan tidak menutup kemungkinan ke depan menjadi daerah sentra ekonomi baru berbasis agro di Mojokerto, terutama komoditas porang.

“Dengan diadakannya acara ini, telah terjalin komitmen kerjasama dan kesepakatan MoU antara Desa Jembul, UNIM dan pengusaha Porang berorientasi pasar eksport dari KEMI, dengan disaksikan langsung oleh Kepala BAPPEDA Pemkab Mojokerto beserta staf, Rektor Universitas Islam Majapahit, Camat Jatirejo, Perhutani serta semua warga dan undangan yang telah hadir,” kata Zuhri Dosen Pendamping KKN.

Advertisement

Populer