Connect with us

Mancanegara

Krisis Rohingya, Panglima Militer Myanmar Sabet Penghargaan

JARRAK.ID

Published

on

MYANMAR – JARRAK.ID – Di tengah isu krisis kemanusiaan etnis Rohingya, Panglima Militer Myanmar, Min Aung Hlaing menerima penghargaan dari kerajaan Thailand pada Jumat (16/02/2018).

Berdasarkan laman resmi sang jenderal, menunjukkan beberapa gambar sang panglima tengah berjabat tangan dengan mitranya dari Thailand Jenderal Tarnchaiyan Srisuwan. Jenderal Hlaing diberikan bintang kelas pertama dalam upacara di Bangkok.

Seperti dikutip dari AFP, berdasarkan pernyataan dari buletin resmi kerajaan Thailand, Royal Gazette, Min Aung itu didominasikan Raja Thailand, Maha Vajiralongkorn sejak pada 21 Agustus 2017.

Min Aung menjadi nominator karena dianggap memberikan dukungan dan pelayanan kepada tentara Thailand.

Seperti diketahui, Thailand yang mayoritas berpenduduk pemeluk Buddha sering memberikan bintang jasa kerajaan kepada para panglima tentara dari negara-negara lain yang mendukung tentara Thailand.

Dari Kerajaan Thailand dia menerima gelar The Knight Grand Cross (First Class) of the Most Wxalted Order of the White Elephant. “Penghargaan ini untuk menunjukkan hubungan yang sudah berjalan lama dan erat antara kedua negara,” kata Angkatan Bersenjata Kerajaan Thailand dalam sebuah pernyataan.

Di samping itu, penganugerahan ini justru menimbulkan kritik. Salah satunya datang dari kelompok kampanye dari Fortify Rights, Matt Smith.

Matt Smith mengatakan Thailand seharusnya mendukung seruan untuk akuntabilitas dan keadilan di Myanmar ketimbang memberikan penghargaan kepada pejabat tinggi militer.

Keadilan kaum minoritas Rohingya dipandang belum terpenuhi. Mereka terpaksa mengungsi hingga ke negara-negara tetangga seperti Bangladesh, Malaysia, Indonesia, dan Thailand.

Meskipun kini, para pengungsi sedang dalam proses pemulangan, namun keamanan mereka di Rakhine, Myanmar pun masih belum terjamin.

Dari dulu etnis minoritas Rohingya selalu menjadi korban diskriminasi karena tidak diakui sebagai warga negara. Warga lokal Myanmar selalu menolak dan menyebut mereka imigran ilegal.

Situasi semakin runyam ketika pemerintah Myanmar tidak bisa berbuat apa-apa dan terkesan membiarkannya.

Dengan latar belakang tersebut, mereka kerap menjadi sasaran kekerasan. Gelombang kekerasan terakhir terjadi sejak 25 Agustus tahun lalu bahkan menyebabkan lebih dari 100 ribu orang tewas dari 600 ribu orang melarikan diri ke Bangladesh.

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer