Connect with us

Kolom

Kita Tidak Memilih ‘Kampret’ Apalagi Si ‘Cebong’

MUHAMMAD KAYYIS AR

Published

on

JAKARTA – JARRAK.ID – Pemilu presiden sudah diambang pintu, 2 pasangan calon sudah memastikan diri sebagai calon pemimpin 5 tahun kedepan, hanya dua pasangan, yakni Joko Widodo-Makruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Dalam mengusung paslon masing-masing, mereka saling meningkatkan elektabilitas paslonnya dengan berbagai macam aksi dan reaksi, kendati tanpa disadari terkadang berpotensi memunculkan konflik politik sosial.

Aneh namun nyata, beberapa tahun yang lalu, ada berita santri saling ‘bacok’ karena beda partai, dan tidak sedikit antar tetangga saling bermusuhan, dan lebih aneh ada orang tidak lagi mau membantu lembaga sosial seperti lembaga LKSA (Panti asuhan) karena salah satu pengurusnya berbeda pandangan politik dengannya.

Para pengusung paslon masing-masing memiliki julukan sebagai ‘kampret’ dan ‘kodok’ yang menjadi kata yang sangat fenomenal dan familiar di dunia sosial. Walaupun pada dasarnya, mereka tidaklah sepenuhnya seperti apa yang dituduhkan, namun kita juga khawatir akankah semua akan menjadi kampret atau kodok?

Maka, kita katakan bahwa kita tidak akan memilih si kampret atau si kodok, karena mereka hanya pintar menuduh, memvonis, memfitnah, mencari-cari kesalahan lawan, kalau perlu menciptakan hoak dan minimal suka menggibah lawan politik masing-masing, terus siapa yang akan kita pilih? Ini pertanyaannya.

Tentu kita akan memilih sosok pemimpin yang secara pribadi ia memiliki track record baik di akademisinya, pola kepemimpinannya memiliki karakter yang berani dan akhlak yang mulia, apakah ia suka berdusta atau ia menepati janji manisnya, dan tak kalah pentingnya ia memiliki pemahaman agama yang baik, dekat dengan para ulama dan fuqaha, minimal paslon tersebut didukung dan direkomendasikan oleh para ulama.

Disisi lain, yang akan kita pilih adalah mereka yang tidak suka ‘ngeriwoin’ (merepotkan) rakyat Indonesia. Sudah teruji loyalitas dan nasionalismenya untuk bangsa dan negara sehingga tidak mau untuk menggadaikan martabat dan kedaulatan bangsa kepada aseng, asing dan asong (pribumi penghianat).

Baca Juga:  Peran Milenial Menuju Pemilu 2019

Ia juga harus punya gagasan inovatif dan ide cemerlang untuk keadilan dalam penegakan hukum dan kesejahteraan ekonomi rakyat Indonesia yang majemuk dan bersuku-suku ini.

Karena tidak kita pungkiri, sebagian besar rakyat terkadang terhipnotis dengan kepolosan dan pencitraan para calon presiden dan wakilnya, jika hal ini terjadi, maka akan lahir sosok penguasa ‘pecundang’ yang hanya bermodal harta dan elektabilitas, mereka biasa ‘muncul’ di media dengan kepongahan di atas kendaraan kursi jabatannya.

Namun disisi lain, kita juga tidaklah mudah untuk memilih pemimpin dalam kondisi bangsa dan negara seperti ini, terus siapakah dia, dan adakah diantara kedua paslon itu? maka jawabannya cukup ‘tanyakan pada rumput yang bergoyang’. Itu hanya jawaban barisan bait dari lagu Ebiet G Ade.

Tentu kita akan memilih diantara keduanya, karena mereka adalah putra bangsa Indonesia yang ‘dipilih’ walau belum sepenuhnya menjadi pribadi ‘pilihan’.

Sebagai warga negara indonesia yang memiliki hak politik, tentu sebaiknya kita berkontribusi untuk memilih pemimpin yang layak untuk memimpin bangsa yang besar ini, pemimpin yang siap untuk menyelamatkan ummat dan bangsa.

Namun disisi lain dalam hal memilih pemimpin tidak sekedar melihat sosok seorang yang akan dipilih, tapi juga harus melihat partai pendukungnya dan siapa saja teman dekatnya, karena jika banyak orang-orang yang baik disekitarnya, ulama dan rakyat akan mengingatkan saat ia melakukan kelalaian dan kesalahan dan ia mudah untuk menerima nasehat.

Namun jika sebaliknya, tentu kesombongan dan perlawanan akan ia lakukan dengan mempersekusi dan mengkriminalisasikan para tokoh dan ulama yang mengkritisi kinerjanya.

Sebelum saya akhiri tulisan ini, ada ungkapan menarik “Politisi itu boleh bohong tapi tidak boleh salah, ilmuwan tidak boleh bohong tapi boleh salah”, Inilah sebabnya mengapa seorang ulama dan profesor tidak “mudah” mengikuti logika politik, karena kebohongan (kemunafikan) sangat rentan terjadi pada praktisi politik, hal ini akibat kepentingan pribadi dan kelompok untuk meraih satu tujuannya, yakni kekuasaan.

Baca Juga:  Ekspresi Pancasilais di Hari Lahir Pancasila

Sehingga tidak sedikit diantara mereka menghalalkan segala cara dengan tidak sedikit mengorbankan harta kekayaan, nama baik seseorang dan bahkan harus melibas kehormatan orang lain.

Semoga bangsa Indonesia yang besar ini nantinya lahir dan memiliki pemimpin yang berani, adil dan berpihak kepada rakyat untuk kebaikan rakyat Indonesia yang berketuhanan yang Maha Esa, berkeadilan dalam penegakan hukum, mensejahterakan ekonomi, memberikan pelayanan pendidikan yang murah dan berkualitas, serta memberikan rasa aman dan membangun kembali persatuan dan kesatuan bangsa yang sudah mulai retak ini.

Berita Populer