Connect with us

Kolom

Kita Rindukan Pilpres Santun dan Menyejukkan

MUHAMMAD ALI ZUBAIR

Published

on

Illustrasi (Doc. Net)

Sebagai praktisi pendidikan dan sosial, fenomena Pilpres 2019 ini merupakan hal yang ‘biasa’ karena tidak jauh beda dengan pesta demokrasi lima tahunan sebelumnya. Hal ini dinilai dari sebagian masyarakat Indonesia yang masih dalam taraf transisional peradaban. Mulai dari kultur pendidikan dan sosial masyarakat kelas menengah dan masyarakat bawah menjadi pemicu utama rendahnya kedewasaan masyarakat dalam melihat makna pilpres tahun ini.

Sehingga, pilpres seakan menjadi satu-satunya pintu masuk untuk melakukan perubahan perbaikan dan peradaban. Nilai sebuah rezim sangat berharga di setiap masa berkuasa. Berharga untuk dinikmati, berharga untuk dijadikan pondasi pengakaran rezim, berharga untuk membalikkan rezim sebelumnya, dengan tanpa melihat kebenaran atau kebatilan dari masing-masing pendukung dan simpatisan paslon.

Pilpres 2019 tahun depan memang menjadi penentu bagi kekuatan petahana atau peralihan kekuasaan. Sinyal peralihan itu semakin menguat setelah para pendukung paslon mengumbar syahwat kekuasaannya, dengan saling ‘serang’ melalui medsos sampai mengukur tingkat kekuatan fisik ala preman jalanan. Semua merasa paling berhak dan merasa memiliki harapan yang penuh untuk bisa tetap atau mengganti rezim.

Mengikis logika berpikir para pemburu dan ‘boneka’ kekuasaan semacam ini masih butuh waktu. Pengamatan sederhana saya, tahun 2019 tetap hanya akan menjadi momen panggung perebutan kekuasaan oleh para lakon lama yang mereka juga pernah satu meja makan dengan menu makan siang yang tidak gratis. Konteks subtantif konsep pemikiran lengkap dengan kejelasan arah pemecahan masalah terhadap sosial dan pendidikan masih menjadi “hal yang sepi” di setiap perhelatan pilpres 5 tahunan ini. Hanya menjadi ajang debat yang lebih fokus pada untaian kata dan ‘mimik’ bahasa tubuh yg ditampilkan untuk sebuah citra dihadapan para pemirsa.

Baca Juga:  Hasto Singgung Pemimpin Karbitan, Demokrat Bantah AHY Menteri

Pilpres adalah suatu hal penting dalam sistem demokrasi untuk peralihan masa kekuasaan. Hal ini membuat banyak bermunculan analisis-analisis bayaran dan survey titipan bahkan berdasarkan ‘terawangan’ ghaib. Semakin hiruk pikuk karena masing-masing memiliki amunisi untuk meletupkan issu yang dianggapnya bisa bermanfaat bagi kelompoknya dan menjatuhkan lawannya.

Jika hal ini terjadi, akankah bisa dijamin peralihan kekuasaan tahun 2019 di pilpres nantinya akan menghasilkan sosok yang kredibilatas, adil, dan amanah? Semoga saja masih bisa, asal semua tokoh paslon yang diusung tidak terpancing dan mengikuti arus kejahatan publik, apalagi mereka sendiri yang sampai memancing gemuruh suara rakyat.

Kita memang harus tetap semangat dan optimis untuk Indonesia lebih baik, Indonesia yang bermartabat, dari konstelasi yang sudah mulai melepuh ini. Sementara tekanan emosi politik semakin meninggi. Emosi karena merasa di-PHP, emosi karena sakit hati dikhianati, emosi karena ingkar janji yang tak pasti, emosi karena tidak segolongan dan seorganisasi, emosi karena tidak banyak mendapatkan jatah posisi, bahkan emosi karena tidak dapatkan ‘bagian’ kursi, sampai pada tingkat emosi karena melihat dan mendengar tentang emosi!

Sehingga wajar saja jika wajah emosi kini sangat mudah dirasakan dan dilihat di keseharian masyarakat Indonesia. Karena hampir semua lapisan masyarakat menjadi pelaku-pelaku euphoria dalam kubangaan emosi. Mereka saling menterkaitkan beban-beban masa lalu para paslon, seakan menjadi lubang cahaya untuk menghirup energi potensi kemenangan dipihak yang dibela dan dipuja

Terasa sedih dan kasihan masyarakat Indonesia, ketika mereka harus kelelahan dengan carut marut politik yang melahirkan kebijakan ketimpangan ekonomi yang makin hari kian ambruk, pendidikan yang tak melahirkan moral ketimuran, apalagi keislaman. Sosial masyarakat yang tak lagi ramah lingkungan karena saling curiga karena berbeda ormas, suku dan agama, dan sekarang malah dipaksa untuk melihat dan bertemu wajah-wajah emosi yang tidak melihat sisi kedewasaan dan kebijaksanaan dalam berinteraksi mulai dari dunia maya sampai di dunia nyata.

Baca Juga:  Gerindra Klaim Isu Mahar Rp500 M dari Sandi Bikin Emak-Emak Simpati

Ingin rasanya pilpres segera berakhir, walau para pelaku euphoria emosi saat ini akan kembali memancing emosi masyarakat dengan gaya dan lagu sumbang yang berbeda. Akhirnya, kita, keluarga, dan masyarakat Indonesia akan berganti melihat wajah-wajah emosi dengan berapa topeng dalam siklus lima tahunan!

Kita rindu kompetisi yang jujur, adil, dan bijaksana. Karena kita sadar pada akhirnya pasti akan ada yang menang dan kalah. Menang yang tetap merangkul yang kalah, dan yang kalah tetap semangat untuk membangun bangsa dan negara di luar kekuasaan. Karena bangsa Indonesia lahir dari sebuah perjuangan dan pengorbanan para pendahulunya. Bangsa yang memiliki kedaulatan dan harga diri di hadapan bangsa lain di dunia.

Semoga kita tak lagi bermimpi untuk mendapatkan pemimpin yang mewujudkan bangsa Indonesia yang berdaulat, memberikan rasa aman, melahirkan pendidikan yang bermoral dan mensejahterakan rakyat dalam bingkai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Aamien Ya Rabb.

Berita Populer