Kembali Duduki Gedung Waskita Karya, Massa KCB Suarakan Tiga Tuntutan

3 min read

Koordinator Aksi KCB, Asep Irama berorasi di depan Gedung PT Waskita Karya, Jakarta Timur, Kamis, (29/03/2018)/Jarrak.id

JAKARTA – JARRAK.ID – Massa yang tergabung dalam Komunitas Cinta Bangsa (KCB) kembali menggelar aksi demonstrasi lanjutan di depan Gedung PT Waskita Karya (Persero) di Jl. MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur, Kamis, (29/03/2018). Sebelumnya massa juga menggelar aksi serupa pada Selasa, (20/03/2018).

Salah seorang pimpinan demonstrasi, Asep Irama mengatakan ada tiga poin besar yang menjadi tuntutan massa KCB.

Pertama, meminta Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno untuk melakukan evaluasi secara komprehensif terhadap kinerja perusahaan plat merah yang bergerak di bidang konstruksi tersebut.

“Kalau diperhatikan, riwayat kecelakaan konstruksi pada proyek yang dikerjakan PT Waskita Karya sudah di luar batas toleransi. Sehingga KCB meminta Rini Soemarno turun tangan untuk mengevaluasi secara menyeluruh kinerja BUMN Karya itu dalam semua aspek,” kata Asep kepada Jarrak.id seusai aksi.

Langkah efektif yang bisa dilakukan Rini kata Asep, melakukan penyegaran di internal perusahaan dengan merombak direksi. Perombakan direksi imbuh Asep, harus fokus pada direksi di level kualitas keselamatan, keamanan, kesehatan dan lingkungan (QHSSE), serta divisi operasi.

“Ini (perombakan direksi, red) merupakan langkah mendesak yang harus dilakukan untuk memperbaiki kualitas kerja perusahaan ke depan,” imbuh mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bung Karno (UBK) Jakarta tersebut.

Kedua, Asep meminta aparat penegak hukum memeriksa seluruh direksi PT Waskita Karya atas kelalaian kerja sehingga menyebabkan korban jiwa. Pemeriksaan untuk mendalami potensi terjadinya tindak pidana.

“Pada dasarnya kelalaian ini memang bagian dari tindak pidana. Sehingga PT Waskita Karya selain bertanggung jawab secara moral, harus bertanggung jawab secara hukum. Polisi harus segera lakukan penyelidikan terhadap beberapa kecelakaan kerja atas proyek konstruksi yang dikerjakan PT Waskita Karya,” jelas Asep.

Ketiga, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menurut Asep, selain melakukan audit kinerja dan keuangan, harus melakukan audit investigasi terhadap berbagai proyek insfrastruktur yang dikerjakan PT Waskita Karya. BPK menurut Asep, berwenang melakukan hal tersebut selama proyek infrastruktur yang mengalami kecelakaan menggunakan uang negara.

“Karena itu, kami meminta BPK langsung bergerak untuk menggelar audit investigasi terhadap beberapa proyek pembangunan infrastruktur yang bermasalah. Ini penting dilakukan BPK untuk mengimplementasikan keinginan publik,” tandas Asep.

Asep berjanji akan menggelar aksi demonstrasi lanjutan jika Menteri BUMN, Kepolisian, dan BPK mengabaikan tuntutan KCB. Asep membocorkan, demonstrasi selanjutnya akan dilaksanakan di Polda Metro Jaya agar kepolisian turun tangan ikut menyelesaikan masalah tersebut.

Daftar Kecelakaan Kerja Proyek Insfrastruktur

Selain jatuhnya bekisting pada tiang tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu di Jalan DI Panjaitan, Jakarta Timur, Februari lalu, dalam catatan Jarrak.id sejak Agustus 2017 sampai Februari 2018, setidaknya telah terjadi 11 kasus kecelakaan konstruksi.

Pertama, pada 04 Agustus 2017, tiang penyangga proyek Light Rail Transit (LRT) di Palembang, Sumatera Selatan roboh. Kecelakaan ini mengakibatkan 2 orang meninggal dunia. Kedua, 29 September 2017, jembatan overpass Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi) ambruk, sehingga mengakibatkan 1 orang meninggal dunia dan 2 orang terluka. Ketiga, 17 Oktober 2017, tiang konstruksi Proyek Light Rail Transit (LRT) di Kelapa Gading, Jakarta Utara roboh dan menimpa rumah. Akibatnya 3 orang menjadi korban.

Keempat, 3 November 2017, pembatas beton Proyek Mass Rapid Transit di Jalan Wijaya II, Jakarta Selatan roboh dan menimpa motor, sehingga mengakibatkan 1 orang terluka. Kelima, 29 Oktober 2017, kontruksi jembatan Proyek Tol Pasuruan-Probolinggo ambruk. 1 orang meninggal dunia dan belasan orang terluka. Keenam, 15 November 2017, beton Proyek Light Rail Transit (LRT) di Jalan MT Hartono, Jakarta Timur jatuh sehingga menimpa mobil lewat, untung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa naas tersebut.

Ketujuh, 16 November 2017, Crane rambu Variable Massage Sin (VMS) di Proyek Jalan Ton Layang Jakarta-Cikampek roboh. Kedelapan, 02 Januari 2018, simpang susun Proyek Jalan Tol Depok-Antasari di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan ambruk. Kesembilan, 22 januari 2018, Beton girder Proyek LRT di Pulo Gadung, Jakarta Timur roboh. Akibatnya 5 orang pekerja mengalami luka-luka. Kesepuluh, 04 Februari 2018, crane pengangkut beton Proyek Rel Kereta Double Double Track di Matraman, Jakarta Timur roboh. 4 orang dilaporkan meninggal dunia dan belasan lainnya mengalami luka-luka. Kesebelas, 05 Februari 2018, jembatan underpass Rel Kereta bandara Soekarno Hatta di Tangerang, Banten ambruk. Kejadian mengakibatkan 1 orang meninggal dunia dan 1 orang lainnya terluka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *