KEKUATAN MEDIA SOSIAL LEBIH MASIF DARIPADA KEKUATAN UANG

5 min read

Oleh: PUTU SUASTA / Alumnus Fisipol UGM dan Universitas Cornell

PEMERINTAH melalui Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) dan Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) akhirnya terpaksa membekukan beberapa aplikasi media sosial (medsos) seperti facebook, WhatsApp, Instagram dan twitter sejak 22 Mei 2019. Pemblokiran medsos itu hanya bersifat sementara. Dasar alasan pemblokiran itu adakah peristiwa kerusuhan demo 22 Mei 2019 di depan gedung Bawaslu Jakarta sehubungan dengan akan diumumkannya hasil Pilpres 2019 oleh KPU (kenyataannya pengumuman hasil Pilpres 2019 itu diumumkan lebih awal sehari, yaitu pada dini hari tanggal 21 Mei 2019).

Pemerintah memblokir sejumlah aplikasi medsos dengan pertimbangan agar meminimalisasi penyebaran hoak dari peristiwa demo 21 Mei 2019 yang akhirnya berlangsung rusuh. ”Sementara untuk menghindari provokasi, kita melakukan pembatasan media tertentu untuk menjaga hal-hal negatif yang disebarkan masayarakat,” kata Menkopolhukam Jenderal Wiranto kepada media.

“Pembatasan itu bersifat sementara dan bertahap,” ujar Menkominfo Rudiantara dalam keterangan persnya di kantor Kemenkopolhukam di Jakarta, Rabu, 22 Mei 2019. Menurut Rudiantara, foto-foto dan video-video yang beredar itu kemudian akan menjadi viral bukan di sosial media melainkan di fitur aplikasi WhatsApp. Secara psikologis, lanjut Rudiantara, gambar foto atau video yang provokatif, meski tanpa teks akan dapat memicu emosi mereka yang membaca.

Sebelum rusuh 22 Mei 2019, di medsos memang begitu ramai mengumbar hoax, ujaran kebencian, pertentangan-pertentangan dua kubu Pilpres 2019. Saling ejek, saling hina, derasnya kabar bohong dan yang menjadi sangat heboh adalah pendengungan people power oleh salah satu kubu Pilres 2019. Pertentangan opini dan baku ejek/hina beberapa di antaranya bahkan sampai berlanjut menjadi baku kelahi ke dunia nyata. HaI-hal seperti itulah yang menjadi alasan utama pemerintah untuk memblokir sementara medsos selain yang paling urgen adalah kerusuhan 22 Mei itu.

Sejak 10 tahun medsos begitu diperlukan banyak orang. Medsos kini bahkan ’merenggut’ lebih dari separuh kehidupan dunia nyata. Orang tak lagi bersurat-suratan untuk menyampaikan atau menanyakan kabar, orang tak perlu pergi ke kantor pos untuk mengirim foto, surat kabar kertas lambat laun diambil alih oleh dunia internet. Pendeknya, korespondensi hampir sepenuhnya diambil alih oleh medsos. Itu baru aspek korespondensi. Belum lagi urusan yang lain.

Medsos kini tak ubahnya sebagai suatu khalayak besar. Tata pergaulannya sebagian menyamai pergaulan dunia nyata. Perkenalan baru, permulaan bisnis, mempromosikan produk, adalah bagian yang kini lebih ampuh diraih lewat medsos. Bahkan ‘rapat’ atau penggalangan massa pun bisa dilakukan melalui medsos. Mengapa orang-orang begitu mudah keranjingan medsos? Menurut Varinder Taprial dan Priya Kanwar dalam bukunya Understanding Social Media, medsos menawarkan sejumlah kemudahan, di antaranya: aksesibilitas, di mana medsos begitu mudahnya diakses; interaktivitas di mana pengguna medsos begitu mudah saling berkomunikasi tanpa hambatan; penyimpanan pesan/percakapan yang permanen (jangka waktu lama); keterjangkauan yang tanpa batas; kecepatan dalam hitungan detik dalam membuka akses atau mencari informasi

Dengan sifat-sifat medsos serupa itu, segera kita mengerti mengapa hingga kini miliaran orang di dunia telah menjadi ‘warga’ medsos. Dan sebagian urusan hidup kita juga dijanjikan oleh medsos, dan bahkan lebih cepat, mudah, murah. Kemudahan-kemudahan yang dijanjikan medsos makin membuat ‘warganya’ makin tergantung pada media sosial ini. Menurut data yang dimiliki Pew Research, 6 dari 10 orang Amerika Serikat memperoleh berita dari media sosial.

MEDSOS kini adalah ‘sebuah dunia dengan massa besar’. Sifat inilah yang mulai disadari oleh orang-orang. Ia bisa diharapkan tapi sekaligus juga menjadi mimpi buruk bagi pemegang kebijakan tinggi di pemerintahan. Suatu keputusan yang keliru yang dilakukan suatu lembaga pemerintahan bisa lebih dulu ‘dihakimi’ di medsos dengan cara pembullyan. Kekuatan medsos kini hampir menyamai kekuatan suatu negara. Maka kita segera mengerti mengapa pemerintah terpaksa harus memblokir medsos dalam kaitannya dengan rusuh 22 Mei di Jakarta. Karena pemerintah tahu betapa besar dampak emosional yang dibangkitkan oleh kekuatan medsos menyikapi rusuh 21 Mei tersebut.

Kekhawatiran pemerintah bukan tanpa alasan. Karena kekuatan medsos bukan main-main. Dalam sejarah medsos di masa lalu, sejumlah ‘pelajaran’ betapa adidayanya medsos dibuktikan dengan peristiwa tergulingnya Presiden Mesir Hosni Mubarak, Januari 2011. Penggalangan massa dilakukan melalui media sosial (facebook, twitter, instagram dan fitur-fitur yang lain) yang menjadi bagian yang meruntuhkan kekuasaan Presiden Mesir tersebut. Media sosial yang awalnya hanya digunakan sebagai sarana informasi dan komunikasi berubah menjadi medium perubahan yang sangat kuat.

Manfaat dan kekuatan medsos makin hari makin disadari oleh ‘warganya’. Sejumlah peristiwa yang menyangkut kebijakan pemerintah suatu negara yang bertentangan dengan kepentingan publik akan mendapat perlawanan warganya dari ranah medsos. Di Hong Kong, wilayah independen China, melakukan aksi protes dengan memanfaatkan media sosial pada 2014. Kala itu masyarakat Hong Kong marah atas dihapuskannya pemilihan kepala pemerintahan Hong Kong secara langsung. Masyarakat Hong Kong yang dipelopori oleh pada pemuda, memanfaatkan media sosial untuk menggalang kekuatan aksi massa.

Hari ini medsos benar-benar menjadi ‘tandingan’ eksistensi bagi dunia nyata. Meski hanya sebagian dari kiprah dunia nyata diambil oleh medsos khususnya dan dunia internet pada umumnya, namun kekuatan sosial yang diperlihatkan sudah cukup membuktikan untuk menumbangkan seorang presiden sekali pun. Itu sebabnya mengapa presiden sekelas Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa kemenangannya tak terlepas dari peran media sosial yang selama ini ia manfaatkan untuk bersuara kepada masyarakat. Kepada CNN, Trump berkata, “Perang media sosial sangat besar. Dan saya rasa media sosial memiliki kekuatan Iebih masif ketimbang uang kampanye yang mereka (pihak Hilalary Clinton) keluarkan. Di taraf tertentu, saya membuktikannya.”

Medsos kini bukan lagi sekadar ‘dunia maya’ karena kekuatannya bisa jadi sangat riil. la bisa menjadi gelombang besar bagi penguasa yang menyelewengkan kepentingan publik. Ia bisa menjadi ‘hakim’ yang bengis jika seseorang melakukan hal-hal di luar batas kemanusiaan. Pun ia bisa menjadi ‘pembocor nomor satu’ untuk sesuatu yang berlevel ‘top secreet’ dari suatu negara, perusahaan raksasa atau instansi vital. Ketergantungan orang-orang kepada medsos kini amat tinggi. Ia bahkan menjadi suatu kemutlakan dalam pergaulan dunia modern.

Begitu besarnya kekuatan medsos, sejumlah penguasa negara mempertimbangkan keberadaan media sosial ini di negaranya.Beberapa negara bahkan sama sekali menutup akses medsos di wilayah pemerintahannya seperti China yang melarang keberadaan facebook, snapchat dan Pinterest. Demikian juga dengan Korea Utara yang sejak 2016 memblokir media sosial seperti facebook, twitter dan youtube. Ada sejumlah negara yang sepenuhnya melarang media sosial dengan berbagai pertimbangan dan kepentingan nasional suatu negara masing-masing.

Fakta fenomenal pemblokiran permanen media sosial dilakukan oleh Sri Lanka. Pemerintah Sri Lanka sejak 21 April 2019 memblokir media sosial setelah terjadi aksi teror bom bunuh diri di 3 gereja dan 3 hotel mewah pada Minggu Paskah, 21 April 2019 yang menewaskan lebih dari 250 orang. Pemerintah Sri Lanka memblokir media sosial untuk mencegah penyebaran ujaran kebencian di tengah masyarakat yang trauma dengan teror dan munculnya sikap saling curiga antarkelompok
masyarakat pascateror bom bunuh diri yang diklaim lSlS. Sebelum Sri Lanka, China dan Turki lebih dulu melarang penggunaan media sosial.

TAK sedikit pun di masa lalu orang-orang berpikiran bahwa akan tumbuh suatu bentuk realitas sosial yang disebut-sebut sebagai ‘maya’ dengan istilah populer ‘dunia maya’ (media sosial).

Kini media itu telah terbentuk dengan amat solid. Kekuatannya nyata dan telah terbukti. Daya pengaruhnya pun tak lagi bisa dibendung oleh sekat-sekat geografis. Maka, mengakhiri tulisan ini, saya kembali menyitir apa yang diucapkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada CNN, “Dan saya rasa media sosial memiliki kekuatan lebih masif ketimbang uang …” ***