Connect with us

Bisnis

Kebijakan Anies Soal NJOP DKI Jakarta Memberatkan Masyarakat

JARRAK.ID

Published

on

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan (Doc. Net)

JAKARTA – JARRAK.ID – Business Development Intiland, Permadi Indra Yoga, menilai bahwa kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Gubernur Nomor 24 Tahun 2018 Tentang Penetapan Nilai Jual Objek Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan Tahun 2018 momentumnya kurang tepat.

Karena akhir-akhir ini, kata Permadi pasar buat developer sedang lesu. Tentu dengan kenaikan NJOP, Permadi yakin ada beberapa kewajiban berupa biaya yang berpotensi memberatkan konsumen.

“Kalau menurut kami ya timing aja. Ini kan lagi situasi market buat developer (sedang sulit), karena nanti hubungannya ke biaya harga jualnya. Ada biaya biaya yang mungkin akan memberatkan konsumen juga di situ,” terang Yoga di Aula Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman Provinsi DKI Jakarta, Senin, (09/07/2018).

Kendati demikian, dia meyakini bahwa kenaikan NJOP tersebut tak akan banyak mempengaruhi daya beli masyarakat terhadap hunian rumah. Sebab, NJOP tiap wilayah berbeda-beda tergantung area.

Terlebih kenaikan NJOP yang angkanya besar memang di kawasan komersial yang sebagian besar ada wilayah pusat perkotaan.

“Ya mungkin enggak signifikan kalau menurut saya karena kan ada yang di area komersial, di daerah kota dan sebagainya, kayak di Sudirman atau di pinggiran kan beda ya harganya,” lanjutnya.

Sementara dampaknya, lanjut dia, baru akan terasa di wilayah perumahan yang menyasar masyarakat menengah atau menengah ke bawah.

Sebelumnya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah meneken Peraturan Gubernur Nomor 24 Tahun 2018 yang mengatur kenaikan NJOP dengan rata-rata 19,54 persen. Jalan Jenderal Sudirman jadi kawasan dengan NJOP paling tinggi, yakni Rp93.963.000 per meter persegi

Baca Juga:  DKI Tanggung Pengobatan Petugas Damkar yang Terluka

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Berita Populer