Connect with us

Daerah

Kasian, Anak Terduga Teroris Ini Selalu Panggil Nama Ayahnya

JARRAK.ID

Published

on

Ais saat diselamatkan anggota kepolisian dalam insiden aksi teror di Mapolrestabes Surabaya (Foto: Istimewa)

SURABAYA – JARRAK.ID – Ais (7), putri bungsu keluarga pelaku bom bunuh diri di Mapolrestabes Surabaya, dikenal memiliki prestasi dalam bidang olahraga bela diri. Bahkan dalam waktu dekat, dia dijadwalkan mengikuti kejuaraan bela diri di Malaysia.

Tapi sayang, Ais nyaris saja meninggal dunia dalam insiden penyerangan di Mapolrestabes Surabaya, Selasa (15/5/2018), oleh terduga teroris Tri Murtono yang merupakan ayah kandung Ais.

Dalam insiden tersebut, Ais dapat diselamatkan dan langsung dibopong oleh salah satu anggota kepolisian untuk segera mendapatkan tindakan medis

Menurut Kapolda Jatim Irjen Machfud Arifin, Ais sudah menjalani operasi pengambilan serpihan ledakan di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim pada Senin malam kemarin.

Saat ini kondisi Ais sudah berangsur pulih. Sekalipun Ais masih mengalami trauma psikologis akibat peristiwa mengerikan tersebut. Bahkan Ais selama perawatan disebut sering memanggil nama ayahnya yang ikut tewas bersama ibu dan kedua saudaranya dalam aksi teror tersebut.

“Tampaknya kerinduan Ais terhadap ayahnya begitu besar. Sesekali ia terdengar memanggil-manggil nama ayahnya,” kata Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi saat menjenguk Ais di RS Bhayangkara, Surabaya, Rabu, (16/05/2018).

Kendati demikian, menurut pria yang akrab dipanggil Kak Seto itu, kondisi Ais menunjukkan perkembangan yang signifikan. Ais kata Kak Seto sudah mulai bisa diajak berkomunikasi dengan baik dan dapat tersenyum.

“Kita harus mengapresiasi keberanian anggota kepolisian yang dengan cepat mengambil tindakan penyelamatan terhadap Ais. Tindakan ini menunjukkan bahwa kepolisian melakukan langkah ramah anak,” terang Kak Seto.

Terkait penanganan Ais dan anak para terduga teroris lainnya, Kak Seto meminta peran negara untuk membimbing tumbuh kembangnya anak-anak tersebut.

“Salah satunya membangun peran RT dan RW yang merupakan perangkat terdekat dari warga. Di antaranya dengan membentuk seksi perlindungan anak hingga tingkat RT/RW. Sehingga perkembangan anak di sekitar pemukiman warga dapat terus terpantau. Termasuk sebagai antisipasi gerakan radikal yang berkembang untuk mencuci otak yang menyasar anak-anak,” terang Kak Seto.

Baca Juga:  Fadli Zon Akan Kirim Surat ke Jokowi Soal Pencekalan Habib Rizieq

Kak Seto juga berpesan kepada seluruh masyarakat untuk memberikan perhatian yang sama kepada anak-anak terduga teroris. Kak Seto menegaskan, mereka hanya korban dari kesesatan dan kebiadaan perilaku orang tua mereka. “Kita harus menerima mereka layaknya anak-anak lainnya,” tandas Kak Seto.

Sementara itu, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Aris Merdeka Sirait menekankan pentingnya menanamkan pemahaman deradikalisasi kepada anak-anak sejak usia dini.

Menurut Aris ini untuk menghindari berkembangnya paham radikal terhadap anak-anak yang biasanya ditransformasikan oleh orang tuanya sejak masih kecil.

“Pemahaman deradikalisasi dapat dilakukan dengan pendekatan psikologis terhadap anak,” kata Aris.

Berikan Pendampingan

Dikonfirmasi terpisah, Kapolda Jawa Timur, Irjen (Pol) Machfud Arifin menegaskan pihaknya akan memberikan pendampingan terhadap Ais dan anak-anak lain yang selamat dari aksi teror. Pendapingan itu akan dilakukan oleh polwan, psikolog, dan ahli deradikalisasi untuk memulihkan mental mereka.

Selain itu, Machfud menegaskan pihaknya akan meminta jaminan kepada pihak keluarga yang berhak atas pengasuhan anak tersebut untuk diberikan pemahaman yang sehat. “Ini penting agar pertumbuhan mental dan fisik Ais dapat berjalan secara positif,” tandas Machfud.

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Berita Populer