Connect with us

Daerah

Kampung Buku Jogja #4: Madura dalam Rumah Indonesia

JARRAK.ID

Published

on

Illustrasi (Doc. JARRAK)

YOGYAKARTA – JARRAK.ID – Tak banyak yang tahu, di abad ke-18 dan 19 Madura menjadi poros utama kekuatan intelektual-politik yang secara total nyaris menyaingi Jawa. Memang, Madura tidak punya kerajaan besar yang namanya layak disandingkan dengan keagungan Majapahit atau Mataram yang dimiliki oleh Jawa.

Yang kita tahu, sepanjang sejarah jatuh bangunnya kerajaan-kerajaan besar di pulau tetangganya itu, Madura tak lebih dari kadipaten-kadipaten kecil yang secara administratif berada di bawah payung kekuasaan Singasari, Majapahit, Demak, Pajang, hingga Mataram. Namun, siapa duga, di balik kesumiran itu selalu muncul aktor-aktor intelektual yang memengaruhi jalannya peta politik raja-raja Jawa.

Sejumlah catatan kolonial menyebut orang-orang Madura sebagai echte zwervers (pengelana sejati). Di abad ke-18 dan 19—dan mungkin juga sebelum itu—pengelana sejati tidak sama maknanya dengan pelancong atau turis sekarang yang rutin pergi berkeliling ke pelbagai daerah sekadar untuk piknik, melihat pemandangan baru, berfoto, dan selesai.

Pengelana sejati berkaitan erat dengan kegigihan orang-orang Madura dalam membangun dan merawat jaringan intelektual, ekonomi, dan politik dalam skala yang sulit dibayangkan terjadi pada masa-masa itu. Namun, itulah faktanya. Gen aktor-politik yang menubuh dalam diri Pangeran Aryawiraraja, misalnya, terus diwariskan secara kolektif ke dalam darah-daging orang-orang Madura.

Pemerintah kolonial tahu betapa bahayanya arah politik Jawa jika terus-terusan disetir oleh aktor-aktor intelektual dari Madura. Ketergantungan Raffles dapat ditarik sebagai contoh.

Raffles memiliki hubungan baik dengan Sultan Abdurrahman, raja Sumenep yang mengusai bahasa Sanskerta, Jawa Kuno, Inggris, Arab, dan Belanda, justru karena kecanggihan intelektual Sultan Abdurrahman yang sangat dikagumi Raffles. Tanpanya, mungkin The History of Java tidak akan pernah rampung ditulis.

Kerja sama kebudayaan itu menandakan adanya pengaruh besar orang-orang Madura terhadap orang-orang Jawa yang tak dapat ditutupi. Maka, pemerintah kolonial jengah, lalu dibuatlah stereotip yang dapat mengaduk sentimen kebencian orang-orang Jawa terhadap orang-orang Madura. Strategi pemerintah kolonial berhasil meski tak sepenuhnya dapat memadamkan tumbuhnya gen aktor-politik-intelektual di generasi-generasi setelahnya.

Baca Juga:  5 Penyakit Langka Ini Bikin Penderita Punya Kekuatan Super

Cara paling mudah untuk memastikan kesahihan narasi di atas adalah dengan cara menengok pencapaian literasi orang-orang Madura. Jarang di antara pemerhati kebudayaan atau sejarawan yang tahu bahwa di abad ke-18 dan 19, terdapat naskah-naskah penting tentang ilmu politik, agama, ekonomi, dan sastra yang ditulis oleh orang-orang Madura.

Baso (2012) menyebut angka hampir 200 buah buku yang dihasilkan oleh para aktor-intektual Madura yang sebagian besar sekarang teronggok sepi di rak-rak Perpustakaan Universitas Leiden.

Itulah kegagahan Madura di masa lalu: ada intelektualisme yang tumbuh dan membiak di sana. Namun, kemewahan itu sering tertutupi oleh debu stereotip yang kadung mengkristal dan pada gilirannya orang-orang Madura selalu dipandang sebagai orang-orang yang keras dan tak kenal ampun.

Demi mengikis virus stereotip dan demi menggaungkan kembali literasi Madura yang kaya, Kampung Buku Jogja #4 mengangkat tema “Madura dalam Rumah Literasi Indonesia”. Tema itu diusung untuk mempercakapkan secara komprehensif pertanyaan penting: masihkah gen aktor-politik-intelektual lengkap dengan pertumbuhan literasi terus berbenih dan cukup membanggakan (kalau tidak malah mengecewakan) hari ini? Bagaimana peran serta posisi (literasi) Madura dalam konteks keindonesiaan kita hari ini?

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Berita Populer