Connect with us

Daerah

Kades Sana Laok Pamekasan Diduga Lakukan Pungli PTSL, Kadus Geram

MOH AIDI

Published

on

Moh Fadil Aqil, Kepala Dusun di Desa Sana Laok Pamekasan saat menunjukkan data di kantor program PTSL Pamekasan (Doc. JARRAK)

PAMEKASAN – JARRAK.ID – Kepala Desa (kades) Sana Laok, Pamekasan, Abdur Rahman diduga melakukan pungutan liar (pungli) terkait Program Tanah Sistematis Lengkap (PTSL).

Pasalnya, masyarakat yang mengurus sertifikat tanah diminta 250 ribu. Hal ini membuat Kepala Dusun (Kasun) Kajujila, Moh. Fadil Aqil, geram. Dia juga memastikan dugaan tersebut palsu.

“Saya pastikan dugaan pungli 250 ribu itu bohong karena kami punya semua data masyarakat yang sudah menerima sertifikat tanah,” terang Fadil sambil membeberkan data di kantor PTSL Desa Sana Laok, Senin, (12/08/2019).

Namun demikian, kadus yang pernah kuliah di Institut Agama Islam (IAI) Al-Kahirat Pamekasan itu tidak menampik bahwa masyarakat yang ingin menyertifikat tanah dikenakan biaya 150 ribu.

Dia melanjutkan besar nominal 150 ribu itu sesuai dengan Permendagri yang berlaku di desa seluruh Indonesia yang mendapat program PTSL.

“Dalam SKB Tiga Menteri Nomor: 25/SKB/V/2017, Nomor: 590-3167A Tahun 2017, Nomor: 34 Tahun 2017 tentang Pembiayaan Persiapan Pendaftaran Tanah Sistematis bahwa biaya Rp. 150.000 per bidang,” jelas dia.

Fadil berjanji siap mengganti kalau memang ada masyarakat yang diminta lebih dari 150 ribu per bidang.

“Silahkan datang ke kantor PTSL desa, kami siap mengganti kalau memang ada yang bayar lebih dari 150 ribu,” imbuhnya.

Ia juga siap memperoses secara hukum jika benar ada pungli. Langkah tersebut mendapat dukungan penuh dari Abdur Rahman, Kepala Desa Sana Laok.

Medi Cahyanto selaku Surveyor Kadastra Berlesensi (SKB) yang sedang bertugas di BPN Pamekasan menyayangkan adanya dugaan tidak berdasar itu.

Namun demikian, sarjana Tekhnik yang konsentrasi di bidang pengukuran tanah Universitas Winaya Mukti (Unwim) Bandung itu menegaskan dugaan itu tidak akan mencederai desa.

“Kami bersama tim surveyor dan BPN Pamekasan tahu persis kecepatan dan ketanggapan aparat desa Sana Laok,” kata pria asal kota Bandung itu.

“Wajar bila setiap kali BPN Pamekasan mengadakan rapat, Desa Sana Laok selalu jadi perbincangan,” tukas Medi.

Advertisement

Populer