Connect with us

Daerah

JARRAK Minta Publik Jangan Berlebihan Sikapi Setya Novanto yang Makan Nasi Padang di Komplek RSPAD

MUHAMMAD KAYYIS AR

Published

on

Mantan Ketua DPR, Setya Novanto (Doc. Net)

JAKARTA – JARRAK.ID – Direktur Eksekutif Badan Pimpinan Pusat (BPP) Jaringan Reformasi Rakyat (Jarrak), John Kelly Nahadin menyesalkan sikap publik yang dianggap berlebihan dalam merespon pemberitaan soal mantan Ketua DPR, Setya Novanto yang diketahui sedang menjalani perawatan di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat akibat penyakit yang dideritanya.

Menurut Nahadin, publik harus cerdas dan jernih dalam melihat pemberitaan soal Setya Novanto yang diketahui makan nasi padang. Terlebih kata dia, Novanto makan nasi padang di tempat yang masih berada di komplek RSPAD Gatot Subroto.

Direktur Eksekutif Badan Pimpinan Pusat Jaringan Reformasi Rakyat (BPP JARRAK), John K. Nahadin (Doc. JARRAK)

“Ingin saya tegaskan bahwa saya tidak mau mencampuri kasus hukum yang sedang menjerat Novanto, tapi saya mau melihat masalah ini secara lebih komprehensif dan utuh, terutama Novanto dalam kapasitasnya sebagai Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) dan Warga Negara Indonesia (WNI), yang sedang menjalani pemasyarakatan di Lapas Sukamiskin dan punya kedudukan sama di muka hukum.”

“Menurut saya, publik sudah disajikan model pemberitaan yang kurang sehat dalam melihat masalah Setya Novanto. Ini yang sebenarnya sangat disesalkan. Apalagi kalau kita lihat lagi, Novanto kan makan nasi padang di lokasi yang masih satu komplek dengan RSPAD, dimana Novanto sedang menjalani perawatan media akibat penyakit yang sedang dideritanya. Kecuali Novanto sedang kepergok di tempat perbelanjaan atau restoran, itu baru harus kita persoalkan, tapi ini kan tidak,” kata Nahadin dalam keterangan resminya kepada redaksi, Selasa malam, (30/04/2019).

Selain itu kata Nahadin, selama menjalani tindakan medis di RSPAD Gatot Subroto, Novanto juga mendapatkan pengawalan dari kepolisian dan pihak Lapas Sukamiskin.

“Artinya ini sudah sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) yang dilakukan oleh Lapas Sukamiskin, dan Novanto tidak melanggar aturan apapun. Karena dia keluar dari pemasyarakatan dengan cara legal,” tegas Nahadin.

Baca Juga:  Lagi, Jaksa Tolak Permohonan Tahanan Rumah Ratna Sarumpaet

Hak-Hak Warga Binaan

Nahadin kemudian menjelaskan soal hak-hak warga binaan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan dan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Syarta dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan.

“Dalam Pasal 14 ayat I UU Nomor 12 Tahun 1995, warga binaan salah satunya mendapatkan hak untuk mendapatkan layanan kesehatan yang layak. Maka kemudian lapas menyediakan poliklinik. Apabila penyakit yang diderita warga binaan tidak bisa ditangani di poliklinik, maka dirujuk ke rumah sakit lain melalui surat rujukan dari dokter.”

“Dalam konteks Setya Novanto, dia sudah mendapatkan rujukan dari dokter untuk dirawat di RSPAD. Artinya, Lapas Sukamiskin dimana Novanto menjalani pemasyarakatan sudah menunaikan kewajibannya pada satu sisi, dan Novanto tidak melawan ketentuan atau peraturan apapun dalam sisi lain. Perkara dia misalnya makan di lokasi atau komplek RSPAD itu masih wajar dan manusiawi. Artinya, peristiwa ini jangan didramatisir seolah-olah Novanto sudah melakukan kesalah besar,” sambung Nahadin.

Nahadin juga menegaskan, dalam konteks hukum pidana, pemidaan bagi seseorang bukan untuk membunuh pelanggar hukum, tapi untuk memberikan efek jera agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik.

“Tapi faktanya, publik melakukan penghakiman terhadap Novanto yang sudah melampaui batas. Padahal Novanto sudah menjalani permasyaratan sebagai penebusan atas kesalahan yang dia lakukan,” kata Nahadin.

Nahadin kembali menjelaskan, dia tidak bermaksud untuk membela Novanto dalam perkara hukum yang menjeratnya. Tetapi ia bertujuan untuk lebih jernih dalam menangkap persoalan.

“Kita semua sepakat bahwa korupsi harus diperangi. Kita apresiasi aparat penegah hukum yang sudah melaksanakan tugasnya dengan baik. Tetapi pada sisi lain, siapapun yang hidup di negeri, punya derajat sama di mata hukum,” tandas Nahadin.

Baca Juga:  Fotonya Saat Didatangi Polisi Saudi tersebar, Habib Rizieq: Pelaku Bisa Dihukum Pancung!

Penjelasan Kalapas Sukamiskin

Tejo juga menuturkan, perawatan Novanto di RSPAD Gatot Subroto telah mendapat rujukan dari dokter Lapas Sukamiskin dan rumah sakit di Bandung. Karena harus mendapat penanganan khusus, Novanto dilarikan ke RSPAD.

Berdasarkan hasil diagnosa tim dokter, kata Tejo, Novanto mengidap sejumlah penyakit di antaranya, Chronic Kidney Disease (CKD) atau gagal ginjal kronis‎, vertigo, serta Coronary Artery Disease (CAD) atau kelainan pada pembuluh darah di bagian jantung.

“Itu diagnosa dokter, bahasa kedokterannya seperti itu,” ungkap Tejo.

Menurut Tejo, Novanto juga mendapatkan pengawalan dari lapas dan aparat kepolisian.

Advertisement

Berita Populer