Connect with us

Politik

Inilah Penjelasan PBNU Soal Rencana Kunjungan Yahya Cholil Staquf ke Israel

JARRAK.ID

Published

on

Yahya Cholil Staquf (Doc. Net)

JAKARTA – JARRAK.ID – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Robikin Emhas membantah bahwa rencana kunjungan Yahya Cholil Staquf untuk kepentingan kerja sama antara PBNU dengan Israel.

Menurut Robikin, selama ini tidak pernah ada rencana kerja sama program atau bentuk kegiatan yang lain antara PBNU dengan negara zionis tersebut.

“Tidak ada kerja sama NU dengan Israel. Sekali lagi ditegaskan,” ujar Robikin dikutip melalui keterangan resminya pada Minggu, (10/06/2018).

Menurutnya, kepergian Gus Yahya Staquf ke Israel bukan dalam kapasitas sebagai Katib Aam PBNU, apalagi mewakili PBNU.

“Saya yakin kehadiran Gus Yahya tersebut untuk memberi dukungan dan menegaskan kepada dunia, khususnya Israel bahwa Palestina adalah negara merdeka,” tegas Robikin.

Robikin juga menegaskan bahwasetiap insan yang mencintai perdamaian mendambakan penyesesaian menyeluruh dan tuntas atas konflik Israel-Palestina. Konflik Israel-Palestina tidak disebabkan oleh faktor tunggal. Diperlukan semacam gagasan out of the book yang memberi harapan perdamaian bagi seluruh pihak secara adil.

“Boleh jadi, Gus Yahya Staquf memenuhi undangan dimaksud untuk menawarkan gagasan yang memberi harapan bagi terwujudkan perdamaian di Palestina dan dunia pada umumnya,” ungkap Robikin.

Sementara, Gus Yahya Cholil Staquf menjelaskan pihaknya telah lama menerima undangan dan ini menyangkut kredibilitas dan bentuk upaya yang telah dilakukan bertahun-tahun. “Saya punya pesan untuk saya sampaikan seluas-luasnya secara global, dan ini platform yang akan memberi saya kesempatan untuk itu,” ucap Gus Yahya.

Gus Yahya mengakui, dirinya memiliki pemikiran tentang Yahudi yang ingin disampaikan sejujur-jujurnya tanpa eufimisme ataupun polesan diplomasi.  Menurutnya, rencana pidato di forum AJC sudah dibatalkan, tapi ia tetap dijadwalkan bertemu sejumlah tokoh dengan liputan media, antara lain Ali Al Awar, pimpinan Badan Waqaf Masjid Al Aqsha; Mohammed Dajani Daoudi, ulama; para patriarch Katolik, Kristen Ortodoks Yunani dan Lutheran; H. E Hazem Khairat, Duta Besar Mesir; kalangan intelektual di Universitas Hebrew; dan lain-lain.

“Saya akan disiplin menjaga posisi deniable; kalau tindakan saya merugikan kepentingan negara atau sekedar tidak ada manfaatnya, dapat dilakukan tindakan apa pun yang diperlukan untuk mengingkari atau menegaskan terlepasnya tindakan saya ini darinegara. Kalau ada benefit, mari di-follow up agar menjadi keuntungan nyata,” ucapnya.

Gus Yahya, yang merupakan Katib Aam NU, sebelumnya dijadwalkan menjadi pembicara di The David Amar Worldwide North Africa Jewish Heritage Center, Yerusalem, pada 13 Juni. Materi yang akan dibawakan adalah Shitfing the Geopolitical Calculus: From Conflict to Cooperatio

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Advertisement

Populer