Connect with us

Bisnis

Inilah Dua Sektor Industri yang Ancam Naikkan Harga Jika Rupiah Terus Melemah

JARRAK.ID

Published

on

Ilustrasi (Doc. Net)

JAKARTA – JARRAK.ID – Pelemahan mata uang Rupiah terhadap dollar AS membuat sejumlah pihak terutama pengusaha menjadi was-was. Sektor usaha yang paling berpotensi terkena ancaman pelemahan ini adalah sektor usaha makanan dan minuman.

Terkait pelemahan Rupiah tersebut, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia, Adhi S Lukman mengatakan kalau penguatan dollar justru semakin membuat pelaku industri terancam rugi karena keuntungan yang terus tergerus. Pasalnya, sebagian besar bahan baku untuk usaha makanan maupun minuman diimpor dari luar negeri. Sehingga dalam proses transaksi digunakan mata uang dollar AS.

Apalagi menurut Adhi, momen pelemahan Rupiah ini bersamaan dengan penurunan penjualan makanan dan minuman selama libur lebaran.

“Ini kondisi yang sangat tidak mengenakkan bagi kami. Dilematis juga,” kata Adhi Jumat, (29/06/2018).

Adhi berharap pelemahan Rupiah ini tidak sampai berlangsung lama. Sebab ia menyebutkan banyak dampak negatif yang akan terjadi jika kondisi tersebut dibiarkan, salah satunya adalah inflasi. Jika ternyata Rupiah tetap berangsur melemah, maka mau tidak mau para pengusaha akan menaikkan harga jual makanan dan minuman demi menyelamatkan usahannya. Padahal, kenaikan harga makanan dan minuman menurut BPS justru berdampak besar bagi terjadinya inflasi.

Tidak hanya industri makanan dan minuman saja yang terancam merugi jika pelemahan Rupiah terus terjadi. Sektor usaha industri aromatik dan plastik nyatanya juga mengaku mendapatkan ancaman yang sama atas pelemahan Rupiah terhadap dollar AS ini. Hal tersebut disebabkan oleh bahan baku industri tersebut yang berupa minyak bumi dan turunannya yang dibeli dengan menggunakan dollar AS.

Ditemui terpisah, Wakil Ketua Asosiasi Industri Aromatik, Olefin, dan Plastik, Budi Santoso Sadiman, mengatakan kalau pelemahan Rupiah akan berimbas pada kenaikan harga barang. Sebab, bahan baku mencapai 90 persen dari komponen biaya.

Baca Juga:  Terkait Kondisi Utang Negara, Ini Penjelasan Lengkap Sri Mulyani

“Kenaikan biaya diteruskan ke harga produk ke konsumen,” tuturnya.

Fenomena pelemahan Rupiah ini menurut Ekonom dari Center for Indonesian Policy Studies Noviani Karina Saputri, masih berpotensi terjadi jika defisit neraca perdagangan terus memburuk. Sebagaimana diketahui, pada bulan lalu defisit neraca perdagangan menyentuh angka US$ 1,52 miliar.

Trade balance dan nilai tukar saling mempengaruhi,” katanya.

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Berita Populer