Connect with us

Politik

Impor Pangan di Musim Panen, Jokowi Bisa Keok di Pilpres 2019

JARRAK.ID

Published

on

Ilustrasi (Doc. Net)

JAKARTA – JARRAK.ID – Kisruh impor gula dan beras di era pemerintahan Presiden Joko Widodo mendapat perhatian publik. Pasalnya, kebijakan tersebut dianggap membunuh petani lokal, dan secara elektoral dapat mempengaruhi pilihan publik terhadap Jokowi di Pilpres 2019 mendatang.

Bahkan para ekonom senior Indonesia ikut angkat bicara dan menolak kebijakan Jokowi tersebut. Pasalnya kebijakan impor dilakukan pada waktu panen raya.

“Kebijakan impor rezim Jokowi bukan hanya membuat geram petani. Bahkan ekonom-ekonom senior di Indonesia mengkritik keras Jokowi karena lagi-lagi Jokowi membuat kebijakan blunder yang dapat merugikan petani, membuat kebijakan impor di saat panen raya,” tutur pengamat politik Panji Nugraha kepada wartawan, Rabu, (26/09/2018).

Menurut Panji, Jokowi dianggap tidak punya solusi strategis dalam rangka memperbaiki keterpurukan ekonomi Indonesia. Padahal, faktanya anjloknya nilai tukar rupiah dipengaruhi karena kuota impor lebih tinggi daripada ekspor.

“Jika keadaan Indonesia demikian justru hal tersebut membuat sentimen negatif rakyat ke Jokowi semakin besar karena dinilai kebijakan-kebijakannya tidak pro rakyat. Akibatnya persoalan ekonomi Indonesia saat ini belum dapat tercapai,” papar Panji.

Dia memastikan bahwa kebijakan impor bahan pangan pemerintah melalui Kementerian Perdagangan akan merugikan Presiden Jokowi di pilpres mendatang.

“Pemilih petani otomatis akan berpihak kepada pasangan lain yang dinilai tidak merugikan petani dan lebih mementingkan kesejahteraan kelompok tani. Dan hal tersebut semakin membuat posisi Jokowi sebagai capres terdesak dan sulit memenangkan pertarungan di Pilpres 2019, terutama soal janji Jokowi yang akan stop impor tapi nyatanya sebaliknya,” imbuh Panji yang juga direktur eksekutif Bimata Politica Indonesia (BPI).

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Advertisement

Populer