Connect with us

Kolom

Ijtihad Menjaga Kondusifitas Politik Kita

NOVAL

Published

on

Illustrasi (Doc. Net)

Setelah sempat menjadi teka-teki di hadapan publik perihal siapa cawapres Jokowi dan Prabowo, dua pasangan Jokowi-Makruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno kini sudah resmi mendaftarkan dirinya sebagai pasangan capres-cawapres pada kontestasi politik di pilpres 2019 mendatang.

Dan teka-teki itu kini sudah terjawab meski menyisakan sedikit kekecewaan, tetapi apa boleh buat, itulah politik. Ia suka memberikan kejutan-kejutan di menit-menit akhir (last minute). Ia mudah diprediksi, tetapi hasil akhir tetap di tangan Tuhan, nyaris sama dengan sepak bola.

Sebagaimana kita mafhum dan amati bersama, sejak resminya kedua pasangan calon mendeklarasikan masing-masing dirinya ke hadapan publik, nampaknya perang opini dan juga perang urat saraf tidak terelakkan di dunia sosial media kita. Dunia sosial media kita ramai dengan (postingan) nyiyir dan hujat menghujat di antara pendukung kedua pasangan calon.

Perang opini serta perang urat saraf ini memang hanyalah letupan-letupan kecil dari dinamika sebuah kontestasi politik, tetapi ini bukanlah awal yang baik bagi terciptanya kontestasi politik yang kondusif. Justru hal ini akan menjadi pemantik terjadinya huru-hara dalam pagelaran hajatan politik paling akbar di negeri ini.

Bukan tidak mungkin, jika letupan-letupan kecil ini dibiarkan terus mengisi ruang-ruang media sosial kita, pagelaran pilpres 2019 mendatang akan jauh panggang dari kata ‘kondusif’ sebagaimana yang kita cita-citakan bersama. Pilpres 2019 mendatang tak lebih hanya menjadi ajang adu urat saraf dan ajang pamer kekuatan.

Letupan-letupan kecil ini akan menjadi bom waktu yang siap meledak di tengah-tengah konstelasi perpolitikan kita yang kian hari pasti kian memanas. Ia akan siap meluluh lantakkan tatanan nilai-nilai kesopanan dan kerukunan yang menjadi fondasi kuat akan ke-Indonesiaan kita.

Baca Juga:  Kasus Novel Baswedan Akan Jadi Amunisi Kampanye Prabowo-Sandiaga

Letupan-letupan semacam berpotensi besar akan menjadi konflik horizontal yang mengental di tengah-tengah masyarakat kita yang plural. Akan timbul saling curiga dan bahkan saling benci di antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya hanya karena beda pilihan politik dan hoax yang tersebar luas tak terbendung di media sosial kita.

Kondisi semacam ini tentu saja merugikan kita semua. Kondusifitas dalam kontestasi perpolitikan kita tidak akan pernah terwujud, jika masing-masing diri kita mendahulakan egosentrisme dan kepentingannya masing-masing. Ia hanya akan menjadi mimpi indah di siang bolong.

Maka melakukan ijtihad guna menjaga kondusifitas politik kita menjelang pilpres 2019 merupakan suatu kewajiban bersama, terutama bagi kalangan anak muda. Ijtihad menjaga kondusifitas politik kita adalah satu-satunya jalan akan terwujudnya pilpres yang aman, damai, dan jujur.

Ijtihad adalah sebuah usaha yang sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu. Dalam konteks ini, berarti berusaha dengan sungguh-sungguh menjaga kondusifitas politik kita. Ber-ijtihad dalam menjaga kondusifitas politik kita sekilas nampak cukup mudah dan enteng kita lakukan, tetapi pada hakikatnya sangatlah sulit untuk kita terjemahkan ke dalam kehidupan keseharian kita. Butuh komitmen dan konsistensi untuk melakukan itu.

Ber-ijtihad  menjaga kondusifitas politik bisa kita memulainya dari hal yang acapkali kita anggap kecil dan remeh, misalnya dari medi sosial kita. Karena kegisruhan dalam konstelasi perpolitikan kita seringkali berawal dari perang kecil di media sosial, sebagaimana jamak terjadi dalam kontestasi-kontestasi politik sebelumnya. Tak jarang perang-perang kecil di media sosial yang berupa adu argumen hingga berakhir dengan hujatan dan caci maki berujung di meja hukum.

Diakui atau pun tidak, media sosial kita  telah menjadi sarana paling ciamik dalam melakukan kegiatan-kegiatan seperti halnya branding isu, penyebaran opini dan kampanye politik. Ia menjadi media paling masyhur dan paling sakti dalam membentuk opini dan mempengaruhi opini pemilih dalam kontestasi politik mutakhir.

Baca Juga:  Jika Mangkir Panggilan Pemeriksaan, Polisi Akan Jemput Paksa Enam Artis

Ijtihad kita yaitu berupa tidak memposting hal-hal, baik berupa tulisan, gambar dan memek yang berpotensi menyakiti orang dan kelompok lain yang berbeda pandangan politiknya, apalagi sampai menghina dan mencaci makinya. Yang lazim kita temui di lapangan berupa fitnah terhadap calon dan kelompok pendukungnya. Sehingga hal ini memancing gesekan-gesekan di antara para pendukung dan kelompoknya.

Ijtihad kita juga berupa tidak memposting dan melawan hoax, sebagaimana yang jamak terjadi setiap menjelang pemilu, baik pilkada, pileg dan pilpres. Sesuatu yang lumrah dan menjijikkan dalam alam demokrasi kita dewasa ini.

Ingat! kondusifitas politik kita adalah harga mati bagi terwujudnya demokrasi yang berkualitas. Maka dari itu, mari bersama ber-ijtihad menjaga kondusifitas politik kita!

Koordinator Forum Libertarian Sumenep dan Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Sumenep

Berita Populer