Connect with us

Politik

I.G.A Mas Seri Lestari: Figur Teladan Perempuan Politik di Bali

JARRAK.ID

Published

on

Ketua DPC Partai Perindo Kota Denpasar Bali sekaligus Ketua Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Kota Denpasar Bali, I Gusti Agung Mas Seri Lestari, M. H, M. Kn (Doc. JARRAK)

JAKARTA – JARRAK.ID – Kiprah perempuan dalam lini kehidupan sosial memang masih terasa debatabel. Banyak penyempitan peranan kaum hawa yang dibuat kalangan patriarkis. Bahkan, pandangan ‘domestikasi’ peranan perempuan juga lahir dari banyak tradisi leluhur. Perempuan, karena itu, selalu identik dengan tiga lokus: kasur, sumur, dapur.

Stigma itu yang hendak dipatahkan oleh I Gusti Agung Mas Seri Lestari, M. H, M. Kn, sosok perempuan tangguh dengan seabrek prestasi dan profesi. Baginya, kebiasaan misoginis dengan hanya menempatkan perempuan di wilayah domestik harus terus didobrak. Perempuan, lanjut dia, memiliki kesempatan yang sama laiknya laki-laki.

Wanita kelahiran Denpasar, 9 Februari 1977 ini telah sukses menekuni sejumlah profesi. Bahkan, di usianya ke-42, Mas Seri Lestari terus konsisten dan produktif dalam setiap kesibukannya di hampir semua bidang: bisnis, politik, notaris.

Talenta yang dimiliki Mas Seri Lestari tertuang ke dalam banyak aktifitas: selain memiliki profesi sebagai notaris dan PPAT, dirinya juga concern pada bisnis  di bidang properti dan butik. Bahkan, tak selesai di situ, Mas Seri Lestari -yang juga akrab disapa Gek Rani ini- adalah organisatoris ulung yang berkiprah di sejumlah perkumpulan dan lembaga.

Pengalaman organisasi itulah yang kemudian membawa Gek Rani mampu mengemban tanggungjawab karir tanpa meninggalkan peran sebagai ibu rumah tangga. Disebutkan Gek Rani, menjadi ibu rumahtangga bukan samasekali beban, tetapi justru menjadi kekuatan penggerak untuk terus memantapkan spirit dan obsesi. Sebabnya, hingga saat ini, Gek Rani dipercaya menjadi nahkoda dua organisasi politik besar di Denpasar: Ketua DPC Partai Perindo Kota Denpasar dan Ketua Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Denpasar.

Pandangan Politik

Meski concern di praksis politik, Gek Rani bukan sosok yang kering nilai. Pandangan politiknya terbangun lengkap dengan didasarkan pada pengalaman dan pengetahuan akademiknya. Umpama pusaka, Gek Rani telah tertempa dengan matang melalui seabrek pengalaman organisasi dan perspektif akademik yang ditempuhnya.

Terbukti, saat terpilih secara aklamasi sebagai Ketua KPPI Denpasar beberapa waktu lalu, Dek Rani secara tegas hendak mendobrak realitas patriarkal di wilayah politik. Menurutnya, KPPI mesti menjadi instrumen untuk menolak peranan perempuan yang tampak sekadar sebagai interior penghias yang dipampang di etalase politik kita. Gek Rani hendak meninggikan martabat politik perempuan dengan kualitas dan integritas.

Jejaring politik perempuan, tambah Gek Rani, mesti memiliki perspektif pemberdayaan sehingga mampu diejawantah ke dalam public policy. Selama ini, perempuan dalam politik tampak sekadar sebagai pelengkap kuota partai politik sebagaimana UU No. 10 Th 2008 soal 30% keterwakilan perempuan.

Meski demikian, Gek Rani menilai, dalam tiga siklus pemilu di Indonesia selama ini, yakni Pemilu 2004, 2009, dan 2014, belum mampu mendongkrak kuota gender perempuan di parlemen. Padahal, kata dia, jumlah kuantitas pemilih di Indonesia notabene lebih benyak kalangan perempuan. Sementara, di wilayah demokrasi lokal, Gek Rani menyebut, hanya ada 101 perempuan calon kepala daerah dari 1.140 pendaftar pada Pilkada 2018 lalu.

Anak kelima dari enam bersaudara ini menilai, kuota gender perempuan dalam parlemen jangan sekadar dimaknai sebatas kuantitas, tetapi juga kualitas. Menggalang jaringan perempuan melalui edukasi politik baginya adalah ikhtiar paling rasional untuk meningkatkan kualitas perempuan. Sehingga, kata dia, bila bangunan pikiran perempuan mulai terbuka, bukan tidak mungkin peta politik lokal dan nasional akan lebih banyak diisi oleh kalangan perempuan.

Prestasi Bukan Prestise

Pendidikan politik, bagi Gek Rani, adalah upaya solutif untuk membuka cakrawala berpikir perempuan demi keluar dari kungkungan domestikasi. Itulah mengapa, Gek Rani hingga saat ini masih konsisten mengejar ilmu melalui lembaga akademik formil. Gek Rani tengah merampungkan pendidikan doktoralnya di Universitas Brawijaya Malang.

Pendidikan, bagi Gek Rani, adalah investasi. Karena itu, dirinya menilai tidak akan ada batasan usia bagi siapapun untuk memperdalam pengetahun dan kajian ilmiah, baik di lembaga akademik formil atau tidak. Seperti bangunan, pendidikan kata Gek Rani adalah dasar pijakan. Setiap aktifitas manusia sebagai makhluk politik selalu membutuhkan dasar pijakan berupa ilmu dan pengetahuan.

Tetapi, Gek Rani menambahkan, torehan akademik yang dimilikinya bukan untuk menambah deretan titel, tetapi sebagai penuntun untuk memoles pikiran menjadi lebih luas; untuk memecahkan soal melalui multiprespektif sehingga tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Karena itu, bagi dia, ilmu itu untuk prestasi, bukan prestise.

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Advertisement

Populer