Hari Kebangkitan Nasional, Bangkit Kembali dari Pandemi

6 min read

Oleh Putu Suasta
________________________________
Alumnus Fisipol UGM dan Universitas Cornell

KEBANGKITAN ialah momentum yang berulang. Mengapa? Karena tiap hari adalah peristiwa. Tiap orang akan mendapatkannya, tiap orang pastilah tidak sama tentang arti, nilai dan ‘rasa’ peristiwa yang dialaminya. Peristiwa yang terjadi akan berpeluang memunculkan kesadaran baru dan membangkitkan pula semangat dan cara pandang baru. Pencerapan peristiwa pun tak selalu individual, melainkan bisa kolektif yang berangkat dari cara pandang yang sama memhami dan merasai peristiwa itu.

Ini biasa terjadi dalam kehidupan sosial, terutama dalam kaitan hubungan manusia dengan berbagai kepentingan. Di masa lalu, berdasarkan catatan sejarah, kebersamaan dalam suatu peristiwa akan melahirkan ‘rasa bersama pula’ dalam melihat sudut pandang peristiwa. Ini terjadi hampir dalam seluruh bentuk sosial. Jika suatu peristiwa itu adalah derita, ekpansi suatu suku bangsa, pertautan dagang/bisnis, dan lain sebagainya, maka akan muncul smacam perlawanan, kebangkitan, semangat untuk menjaga kepentingan masing-masing.

Di masa lalu, bangsa ini memiliki suatu kondisi kebersamaan dalam keterjajahan, keterpurukan, ketertindasan dan hilangnya rasa kemanusiaan oleh invasi bangsa lain. Telah lama kondisi itu terjadi, sampai kemudian muncul kesadaran baru tentang arti bagaimana ‘menjadi satu’ sebagai suatu bangsa. Inilah yang mengakari munculnya elan vital sebagai kesadaran baru untuk bangkit dari ketertindasan dari bangsa lain, bangkit dari pengetahuan baru tentang arti membangun semangat baru membentuk rasa nasionalisme.

Awal Kebangkitan Nasional

Keterjejahan adalah suatu kondisi yang menempatkan orang-orang terjajah pada kelas inverior, terhina dan menderita. Keadaan inilah yang lambat-laun membuat bangsa ini merasa bahwa kondisi itu tidak benar. Melalui sejumlah pemuda yang kesadaran inteletualnya mulai bangkit, mereka membangun suatu pergerakan intelektual bernama pergerakan Boedi Oetomi pada 20 Mei 1908 oleh Soetomo, Mohammad Soelaiman, Gondo Soewarno dan sejumlah lagi yang lain. Pergerakan intelektual ini terbangun dilandasi oleh keinginan untuk meningkatkan martabat rakyat dan bangsa.

Mereka yang tergabung dalam perhimpunan pergerakan Boedi Oetomo merasa terpanggil untuk bangkit dari ketertindasan melalui gerakan-gerakan inteletual yang membangun nasionalisme di seluruh negeri. Mereka beranggapan, bahwa rakyat dan bangsa ini harus dibangkitkan kesadaran barunya tentang bagaimana sesungguhnya kita memiliki ‘rasa bersama’ di tengah keterpurukan kemanusiaan dalam masa penjajahan. Karena itu, bangsa ini harus disadarkan bahwa kebersamaan sebagai satu bangsa harus dihembuskan terus melalui berbagai cara-cara elegan.

Pergerakan intelektual Boedi Oetomo itu mendapat sambutan dari berbagai kalangan terpelajar lainnya dan membangkitkan semangat baru mereka dalam kesadaran memiliki nasionalisme yang sama. Meski pada awalnya Boedi Oetomo hanyalah himpunan pergerakan di bidang budaya, perdagangan, pertanian dan ilmu pengetahuan pada umumnya, namun situasi dan kondisi keterpurukan dalam penjajahan membuat kehadiran Boedi Oetomo justru ‘mengilhami’ pergerakan dan kebangkitan baru dalam memaami harga diri sebagai bangsa terjajah.

Pada perayaan pertama Hari Kebangkitan Nasional pada tahun 1948 di Yogyakarta, di mana ketika itu Ki Hajar Dewantara ditunjuk Presiden Soekarno sebagai ketua panitianya, Soekarno berpidato dan merangkul semua pihak yang ‘terpecah-belah’ oleh partai untuk bersama-sama bersatu melawan penjajah Belanda yang tak mau pergi dari Indonesia. Menurut Soekarno, Boedi Oetomo bukanlah sebuah organisasi besar namun pergerakannya justru menjadi cikal-bakal memajukan masyarakat Indonesia dan menjadi salah satu cambuk dalam merebut kemerdekaan.

Kebangkitan dari Pandemi

Kita telah memiliki semangat kebangkitan atas dasar semangat sejarah sebagaima ayang telah dikupas dalam pergerakan Boedi Oetomo. Dalam konteks kebangsaan, maka kata kunci yang selamanya menjadi pegangan bersama dalam semangat baru kebangkitan ialah rasa nasionalisme. Sebagai bangsa, tantangan-tantangan besar akan selalu muncul setiap hari, setiap saat, bahkan dalam waktu yang tak terduga-duga.

Apalagi dalam dinamika pergaulan global, sebagai bangsa, kita tak lagi bisa terhindar dari dampak-dampak pergaulan internasional. We are connected, kita semua terhubung satu dengan yang lain dalam abad digital ini. Keterpengaruhan yang terjadi pada suatu bangsa atau suatu negara di belahan dunia yang lain, kadang memberi dampak langsung tak langsung pada bangsa atau negara lain. Hal itu saat ini sulit dihindari.

Fakta paling fatal yang dapat dijadikan contoh ialah peristiwa pandemi Covid-19 yang saat ini terjadi di hampir seluruh dunia. Corona yang semula merebak di Wuhan, China, pada Desember 2019 lalu, tak sedikit pun diperkirakan memberi dampak luas seperti yang terjadi sekarang ini. Puluhan ribu nyawa melayang di seluruh dunia karena virus corona (Covid-19) ini. Angka-angka kematian akibat virus ini sangat mudah dirunut dalam jejak digital berbagai media di internet.

Bahkan bangsa ini juga tak mengira sedikit pun kalau corona akan memapar orang-orang di Indonesia. Sejak diketahui 2 orang terpapar di Indonesia dan diumumkan Presiden Joko Widodo pada 2 Maret 2020 lalu, jumlah orang-orang yang terpapar di berbagai wilayah di Indonesia makin bertambah jumlahnya. Berdasarkan sumber resmi pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto dalam konferensi pers, Jumat, 15 Mei 2020, mengungkapkan 383 kabupaten/kota di Indonesia telah mencatat kasus penularan Covid-19.

Meski yang sembuh juga makin banyak, namun dampak psikologis dan sosial ternyata makin tak dapat diprediksi kapan tingkat pemulihan dan kehidupan normal didapat kembali. Selain itu, kesimpangsiuran informasi mengenai virus ini melalui berbagai media, terutama media internet (twitter, facebook, WAG dll) serta kesimpangsiuran pelaksanaan penanganan Covid-19 di lapangan makin membuat masyarakat kebingungan. Hingga kini corona masih menjadi momok yang menakutkan di seluruh dunia, juga di negeri kita.

Saat ini, corona (Covid-19) memberi dua dampat yang sama peliknya bagi masyarakat, penyelenggara pemerintahan, relawan-relawan lembaga maupun individu, yaitu dampat terancamnya kesehatan dan kelangsungan kebertahanan hidup. Di satu sisi, ketika corona ‘menghinggapi’ mereka yang terpapar di mana berbagai kemungkinan bisa saja terjadi, di sisi lain corona juga memberi ancaman yang lain, ialah terputusnya hampir semua gerak kehidupan.

Kebangkitan nasionalisme saat ini sedikit banyak memiliki latar belakang yang sama. Jika di masa lalu kebangkitan nasionalisme didorong oleh tertindasnya bangsa oleh penjajahan, maka saat ini juga didorong oleh ‘ketertindasan’ oleh wabah corona. Sama-sama menyakitkan; kolonialisme mengoyak-ngoyak harga diri bangsa dan mengeksplorasi hasil kekayaan bumi; wabah corona mengancam tanpa diketahui kapan, di mana dan tiba-tiba saja menyergap pernapasan, dan jika tak cepat diatasi, maka nyawa melayang sia-sia.

Nasionalisme New Normal

Hari kita jelas-jelas berhadapan dengan Covid-19 yang berkekuatan kekuatan luar biasa. Bukan satu negara saja yang berhadapan dengannya, melainkan hampir seluruh neraga yang ada di dunia. Hingga tulisan ini dibuat (18 Mei 2020), tak satu negara pun yang benar-benar sanggup melenyapkan virus corona ini dengan telak. Kabar bagusnya, semua pakar medis, ilmuwan, perusahaan raksasa obat-obatan saat ini tengah berlomba-lomba membuat vaksin untuk Covid-19.

Setiap hari mereka mengabarkan terobosan-terobosan baru dalam mengeksplorasi vaksin. Meski harus diuji coba kembali, namun harapan-harapan itu masih sudah cukup memberi arti bahwa umat manusia akan tetap berjuang dan menjaga keberlangsungan hidupnya. Di sisi lain, seraya masih menunggu vaksin Covid-19 ditemukan, ada anjuran untuk memilih ‘berdamai’ dengan corona karena hakikatnya suatu virus itu sesungguhnya hampir tak mungkin dilenyapkan.

Apa pun yang berdampak pada Covid-19 ini, pada akhirnya di masa yang akan datang, terutama ketika umat manusia akhirnya dapat mengatasi virus ini, akan muncul suatu kehidupan baru yang secara sosiologi disebut sebagai new normal. Ada normal baru yang tebangun dalam hidup pascacorona ini, ada sejumlah hal yang akan berubah dalam tatanan kerhidupan baru nanti. Sesuatu yang selama ini dianggap sebagai ancaman dalam rutinitas di masa lalu, pada masa new normal nanti tak akan diberlangsungkan lagi.

New normal adalah suatu era yang mengubah sebagian dari perilaku sosial masa lalu. Aktivitas yang bersifat kerumuman padat, pergaulan yang memerlukan persentuhan fisik, sebagai contoh, di masa yang akan datang tak lagi dilakukan, setidaknya dihindari atau diantisipasi seoptimal mungkin. Ada banyak rancangan pergaulan yang telah dibuat hari ini, baik dalam bentuk peraturan resmi dari pemerintah maupun dalam bentuk norma-norma sosial. Semua itu dilakukan dalam menyikapi dan mengoptimalkan kesehatan umat manusia.

Kata ungkapan klasik, yang abadi ialah perubahan. Dan new normal adalah salah satu bentuk dari ungkapan klasik itu. Kehidupan normal baru yang sebagian besarnya dikerangkai oleh teknologi digital, tak lama lagi akan terjadi. Siap tak siap, orang-orang harus menghadapinya. Kecuali sebagian kecil yang memilih untuk menepi dari pergaulan dengan normal baru ini. Namun, sepanjang pembuktian antropologis, manusia selalu bisa bersikap adaptif dalam setiap perubahan. Karena manusia, terutama mereka yang bergerak di ranah pemikiran, adalah agent of change.

Di tengah menuju kehidupan norma baru (new normal), maka di sini pulalah kita nanti akan membangun nasionalisme baru dengan bahasa, perangkat, adab, teknologi, sistem dan pandangan baru yang tengah terjadi itu. Karena, apa pun bentuk peradaban yang terjadi, kebangkitan nasionalisme itu harus didengungkan setiap hari! Nasionalisme dalam kehidupan normal baru hakikatnya tetaplah sama; rasa kebangsaan yang mengakar kuat di hati tiap orang Indonesia! (PS/18052020)